Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Sepersekian detik semua mata tertuju pada dua orang yang sedang berdiri di ambang pintu, tatapan mata mereka saling bertemu entah perasaan apa yang mereka miliki. Ada satu yang tidak bisa berkedip menatap seseorang yang matanya sudah berkaca- kaca antara benci dan juga rindu kepadanya.


"Ayah, ayo kita masuk semua sudah menunggu kita." ucap Nesya dengan menarik lengan pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itupun terke siap saat Nesya menarik tangannya, dia pun pasrah saja sementara nenek Sasmita memutuskan kontak matanya dia tidak ingin berlama-lama menatapnya.


"Ibu, apa kau tidak merindukannya? " Ucap Nesya menghampirinya.


Nenek Sasmita hanya diam saja sedangkan Yovela dan Yesika begitu antusias menatap pria paruh baya yang ada di samping ibunya.


"Ibu, apakah dia kakek? " Tanya Yesika.


Nyonya Nesya tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu Yesika pun segera menghampirinya dan memeluknya. "Kakek apa kabarmu? Apa kau baik- baik saja.!! "


"Tentu saja cucuku, lihatlah badanku masih sehat dan kuat." ucapnya dengan memperlihatkan ototnya yang tidak lagi muda.


Yesika pun tersenyum manis dan kali ini Yovela yang mulai bertanya."Kakek, apa kau akan berdiam saja seperti itu tanpa memeluk seseorang yang sangat merindukanmu. "

__ADS_1


Kakek Rudy pun melihat ke arah nenek Sasmita dan dia melangkahkan kakinya untuk menyapanya.


"Apa kabarmu, Sasmita? "Tanya Kakek Rudy.


Sejenak nenek Sasmita menghenbuskan nafasnya dia masih belum bisa mengatakan apapun, karena baginya ini terasa sangat sulit untuk di hadapi setelah bertahun-tahun tidak ada kabar. Tetapi sekarang ini seseorang yang telah lama meninggalkannya telah kembali lagi ke hadapannya.


"Aku baik- baik saja. " jawabnya.


Kakek Rudy hanya tersenyum kecil mendengar jawaban dari wanita yang paling di cintainya, entah dia entah dia suka dengan sikapnya saat ini atau tidak.


Nyonya Nesya yang melihat nenek Sasmita hanya acuh saja lalu dia pun segera mengalihkan topik pembicaraan.


Tuan Raul, Yesika, dan juga Yovela pun menganggukkan kepalanya. Nonya Nesya pun segera menuju dapur di ikuti oleh Yesika dan Yovela. Tinggallah nenek Sasmita, kakek Rudy dan juga Tuan Raul suasana hari ini begitu sunyi tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.


Karena suasana begitu hening makan Tuan Raul pun mulai berdehem agar tidak canggung.


"Ehm... Bu kenapa kau diam saja, apa ada sesuatu?" Tanya Tuan Raul.

__ADS_1


"Tidak ada Raul, ibu tidak apa- apa."


Beberapa menit kemudian masakan pun telah siap di meja kecil namun sangat menyenangkan bagi keluarga mereka.


"Makanan sudah siap ayo makan bersama." ucap Nyonya Nesya.


"Baiklah."Jawab Tuan Raul.


Akhirnya mereka semua pun makan malam bersama tidak ada percakapan sama sekali, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.


Setelah makan malam selesai kini nenek Sasmita sedang duduk di kursi depan sambil memandang langit malam yang di penuhi dengan bintang dan bulan. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya menatap lurus kedepan, nenek Sasmita sedikit menoleh lalu dia menatap langit malam lagi.


"Apa kau begitu membenciku Mita?" Tanya kakek Rudy.


Nenek Sasmita belum menjawabnya dia masih mengatur nafas dan juga perasaannya saat ini. Setelah merasa lebih baik barulah nenek Sasmita menjawabnya.


"Aku tidak membencimu, Rudy mungkin..... Hatiku ini yang sudah mati karena kau begitu tega meninggalkanku aku bersama Nesya." menjeda kalimatnya."Tetapi Nesya tidak pernah membencimu, bahkan dia mengajakmu ke sini."

__ADS_1


"Maaf." Lirih kakek Rudy.


__ADS_2