
Mentari telah bersinar menerangi alam semesta begitu juga dengan Yesika yang sudah bangun pagi, seperti biasanya dia selalu sarapan bersama keluarganya dan selesai dengan sarapannya Yesika bergegas pergi ke kantornya.
Lain tempat lain cerita kini seorang wanita paruh baya sedang menunggu kabar dari bawahannya dan tak lama bawahannya pun datang dengan membawa kabar yang kurang enak.
"Maaf Nyonya sepertinya pengalihan harta Nyonya di tunda dulu."Ucap pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah kepala pelayang Zhang.
Meskipun umurnya sudah tuan tetapi semangat dan kerjanya masih bisa di andalkan dan sampai sekarang kepala pelayanan itu setia menemani sang majikkannya hingga saat ini. Apa lagi di saat dia terpuruk kepala pelayan Zhang selalu ada untuknya.
"Apa kenapa bisa seperti ini pak?"Tanyanya dengan mengerutkan keningnya.
"Ada orag yang ingin mencelakai Tuan Robert Nyonya."Jawabnya dengan membungkuk hormat.
"Kira-kira siapa pak Zhang?"Bertanya balik.
"Saya belum tahu Nyonya, tetapi saya akan menyelidikinya. Nyonya tenang saja." Sahut pak Zhang.
__ADS_1
Wanita paruh baya itupun menganggukkan kepalanya tanda setuju, dan kepala pelayan Zhang segera pamit. Wanita paruh baya itu tak lain adalah Nyonya Nesya yang selama bertahun-tahun bersembunyi dari keramaian kota.
Ada alasan yang mengharuskan wanita itu bersembunyi hingga saat ini, dan untuk pertama kali baginya dia akan keluar dari persembunyiannya yang membuat dirinya harus seperti orang asing.
"Sayang, kau tenang saja kita akan bertemu lagi."Mengusap bingkai foto itu, lalu raut wajahnya berubah saat dia mengingat sosok yang dia kenal."Dan untuk aku tidak akan tinggal diam saja, kau sudah menghancurkan semuanya."Ucapnya dengan geram.
Kembali lagi kepada Yesika saat ini dia pun selesai makan siangnya lalu dia segera ke ruangan Direktur utama karena Tuan Raul sudah memberikan kepada Yesika dan tinggal aset yang lainnya saja.
Seperti saat ini Yesika sedang mengerjakan pekerjaannya dia begitu rajin dan tekun setelah menggantikan sang kakak saat ini. Saat sedang sibuk, pintu ruangan di ketuk oleh seseorang dan membuatnya menoleh ke arah pintu.
Dia pun segera memutar gagang pintu dan segera masuk, lalu dia pun melempar dokumen ke meja Yesika dengan raut wajah yang marah juga rahang yang mengeras serta sorot mata tajam.
"Vela apa maksudmu hah? Kau ingin mencelakai bukan?"Ucapnya dingin.
"Ya ampun kakak tiriku, kenapa kau begitu marah hmm, bukankah ini pekerjaan yang begitu mudah."Jawab Yesika setenang mungkin.
__ADS_1
"Kau mau membalas apa yang telah aku lakukan padamu kemarin! Heh.. Jangan mimpi kau bisa lepas dariku Vela, kau jangan terlalu sombong Vela karena nenek mendukungmu."Tersenyum sinis.
"Sudahlah kakak tiriku, kau tidak perlu mengancamku dengan hal seperti itu. Lagi pula Papa sudah memberikannya semua kepadaku kak, kau jangan bersedih." Goda Yesika dengan raut wajah di buat selucu mungkin.
Rahang Arka pun mengeras mendengar ucapan Yovela karena tidak biasanya dia berani seperti itu, bahkan jauh berbanding terbalik dengan Yovela yang dulu.
Ada apa dengan anak ini, kenapa begitu berani. Batin Arka.
"Sudahlah kak, aku akan melihat dokumen ini lebih baik kau segera keluar dari ruangan ku."Usir Yesika.
"Kau...."Ucap Arka tertahan, karena dia sadar dimana dia saat ini.
"Kakak, sudah aku katakan ini di kantor, jadi kau tidak bisa berbuat sesukamu. Apa kau paham dan banyak CCTV di sini!"Sahut Yesika dengan tatapan tajamnya."Dan satu lagi kak, jika aku bukan Yovela yang dulu yang berhati lembut dan juga lemah." Dengan tatapan sinisnya.
Arka pun segera keluar dari ruangan Yovela dengan tangan mengepal dan sedikit membanting pintu ruangan tersebut.
__ADS_1