
"Kau.... tidak ada hak mengusir kami, lebih baik kau yang pergi dan jangan pernah kembai lagi." Bentak Yesika.
Nyonya Marina hanya tersenyum sinis lalu dia menyuruh para bodyguardnya untuk mengeluarkan barang milik nenek Sasmita dan Yesika serta tuan Raul juga.
"Kalian cepat bereskan barang milik mereka, aku tidak ingin ada sampah di rumah ini." Titahnya pada salah satu bodyguardnya.
"Baik Nyonya."
Mereka pun masuk ke dalam mengeluarkan barang yang ada di dalam kamar itu. Yesika menggeretakkan giginya karena dia tidak mengira jika Marina akan melakukan hal sampai ke tahap ini.
"Bibi cukup, kau tidak perlu melakukan hal itu aku bisa melakukannya sendiri."Ucap Yesika kesal.
"Nenek ayo kita bereskan barang- barang milik kita dan juga papa."Memapah nenek Sasmita.
Setelah selesai membereskan semuanya Yesika dan nenek Sasmita pun akan masuk ke dalam mobil miliknya tetapi Nyonya Marina melarangnya.
"Heh! Enak saja kau mau naik mobil, pergi naik taxsi saja sana."Nyonya Marina mendorong nenek Sasmita.
Yesika yang melihat hal itupun langsung menghampiri nenek Sasmita dan Nyonya Marina.
"Bibi, kau jangan kasar kepada nenekku." Bentak Yesika.
__ADS_1
"Lebih baik kalian cepat pergi menjauhlah." Mengibaskan tangannya agar Yesika dan nenek Sasmita segera pergi.
Tanpa mengatakan apapun lagi Yesika dan nenek Sasmita pun segera pergi meninggalkan rumah yang begitu banyak kenangan, walaupun tidak banyak tetapi masih tersimpan di dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit dan Yovela pun telah sadar membuat hati Yesika tidak tega mengatakan kepada tuan Raul.
"Papa maafkan aku." Ucap Yovela dengan raut wajah sedihnya.
"Tidak apa- apa sayang, seharusnya papa minta maaf jika selama ini papa tidak merawat adikmu." Menghembuskan nafas kasarnya." Ini semua salah papa yang tidak peduli kepada mamamu, sehingga meninggalkan papa."Menundukkan kepalanya.
Yovela merasa sedih melihat Tuan Raul yang begitu menyesali perbuatannya.
"Papa sudahlah, ini bukan salah papa sepenuhnya. Aku yakin mama punya alasannya kenapa dia melakukan hal ini." Menggenggam tangan Tuan Raul.
Pintu ruangan di buka oleh Yesika dan di susul oleh nenek Sasmita dan membuat keduanya menoleh.
Yovela tersenyum manis ketika melihat kembarannya datang dan menghampirinya.
"Kakak, kau sudah sadar." Ucap Yesika memeluk Yovela.
"Iya adikku, aku sangat merindukanmu." Sahut Yovela yang menyambut pelukkan Yesika.
__ADS_1
Nenek Sasmita tersenyum manis melihat pemandangan yang ada di hadapannya, sejenak fikiran nenek Sasmita tertuju pada Nesya ibu kandung si kembar juga anak nenek Sasmita.
Andai saja dia ada di sini, pasti akan bahagia melihatnya. Batin nenek Sasmita.
Tidak terasa air matanya pun jatuh dan nenek Sasmita cepat mengusapnya agar tidak di lihat oleh anak dan cucunya.
Siang hari Sinchen pun mendatangi rumah sakit sebelum masuk dia melihat beberapa koper dan juga tas, Sinchen mengerutkan keningnya entah apa yang terjadi lalu dia mendorong pelan pintu rumah sakit dan semua mata tertuju padanya. Tak luput dari pandangan Yovela dia menatap Sinchen tanpa berkedip.
"Nenek, Tuan." Sapa Sinchen.
Tuan Raul dan nenek Sasmita pun menganggukkan kepalanya, Yovela terus menatap ke arah Sinchen dan membuat Yesika paham jika sang kakak menyukainya.
"Kau baik- baik saja?" Tanya Sinchen kepada Yovela.
"Aku baik- baik saja, Kau ini...." Ucapan Yovela menggantung.
"Dia Sinchem sayang, dia adalah calon..." Ucap Nenek Sasmita berhenti kala melihat Yesika menundukkan kepalanya.
"Calon suami kakak!" Ujar Yesika tersenyum paksa.
"Jadi kau calon suamiku."Tanya Yovela dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
"I- iya kau benar." Ucap Sinchen gugup tetapi pandangannya menatap ke arah Yesika yang menggenggam kedua tangannya.