
Yesika menatap sinis ke arah Sinchen, sedangkan Sinchen yang di tatap hanya tersenyum tipis.
"Aku tahu jika aku tampan, jangan menatap terus kau bisa jatuh cinta padaku." Ucap Sinchen dengan percaya diri.
"Siapa yang menatapmu, percaya diri sekali." Jawab Yesika berlalu pergi meninggalkan Sinchen.
Namun baru satu langkah Sinchen sudah menarik tangan Yesika lalu dia berbalik dan menatap kedua bola mata Sinchen, sepersekian detik keduanya saling tatap. Lalu Sinchen pun menggoda Yesika lagi dan membuatnya semakin kesal.
"Kau suka memelukku ya, sampai tidak mau lepas." Goda Sinchen.
"Akh...Kau yang menarik tanganku, dasar mesum." Mendorong Sinchen.
Yesika pun berjalan meninggalkan Sinchen dengan perasaan yang begitu kesal, karena Sinchen menggodanya. Yesika masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
"Menyebalkan sekali dia yang menarikku dia juga yang menyalahkanku." Umpat Yesika sambil memeluk gulingnya.
__ADS_1
Tidak terasa dia pun memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Keesokkan paginya seperti biasa Yesika telah rapi dengan pakaiannya lalu dia menuruni anak tangga menuju meja makan. Semua sudah berkumpul seperti biasanya lalu Yesika pun duduk dan memulai sarapannya.
"Sayang, ada yang ingin ayah katakan padamu." Ucap Tuan Raul menatap Yesika.
"Kenapa ayah? Katakan saaja, Vela akan mendengarkanmu."Ujar Yesika yang mulai memakan rotinya.
"Tuan Luis bilang jika dia ingin menjodohkan kamu dengan anaknya."Tutur Tuan Raul hati- hati.
Yesika yang mendengar hal itupun hanya menarik nafasnya dalam karena ada ha yang belum dia katakan juga kepada Tuan Raul jika dirinya adalah Yesika bukan Yovela. Yesika bingung harus mengataan apa kepada Tuan Raul jika dia tahu yang sebenarnya dan juga Yesika masih mengkhawatirkan kesehatan sang nenek.
Sementara Nyonya Marina hanya diam saja sebenarnya dia tidak setuju karena jika Yesika menikah dengan anak Tuan Luis maka seluruh hartanya akan menjadi milik Yesika.
Sesampainya di kantor Yesika masuk ke rungannya dan duduk lalu dia memikirkan kata- kata Tuan Raul pagi tadi.
__ADS_1
"Yang seharusnya menikah itu kakak bukan aku, sepertinya aku harus memberi tahu kkaka." Gumam Yesika.
Lalu dia mengambil ponselnya tetapi dia ragu dan memasukkn kembali ponselnya.
Berlalih tempat dimana kini Yovela sedang berbelanja dia membeli beberapa kebutuhan dapur, tanpa di duga ada seseorang yang sedang mengawasinya. Yovela belum menyadarinya jika ada yang menatapnya sedari tadi.
"Akhirnya selesai juga waktunya untuk pulang dan memasak."Ucapnya dengan penuh semangat.
Yovela pun berjalan meninggalkan tempat itu.
"Ternyata ini yang kau sebut bekerja keras." Ucapnya dengan tersenyum miring.
Dia pun mengambil gambar Yovela agar mudah di carinya dan dia tersenyum miring. Dia tidak sendiri bersama dengan seseorang.
"Arka cepat sedikit, mama ingin tahu, apa yang sudah dia lakukan selama ini di belakang Raul, Heh ini akan menjadi buktinya jika dia berbuat macam-macam padamu Arka." Ucap Nyonya Marina dengan senyum devilnya.
__ADS_1
"Hahahaha kau benar bu, dia tidak akan berani lagi pada kita bu. Selama kita mempunyai ini."
Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu. Kini Yovela sudaj di rumah lalu dia mengeluarkan sayuran yang dia beli dari pasar lalu dia pun memilih sayuran yang akan dia masak untuk hari ini.