Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Hari demi hari dia lewati begitu juga dengan Yovela yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga tiga manusia yang serakah telah mengatur rencana mereka agar bisa membuat seseorang hilang dari muka bumi ini.


"Jadi, bagaimana dengan rencanamu selanjutnya? Secepatnya kita harus menyingkirkan dia"ucap wanita paruh baya dengan melipat tangan di dada.


"Bersabarlah adikku, minggu depan adalah hari ulang tahunnya dan akan aku pasti 'kan dia tidak akan pernah ada lagi di hadapanmu"tersenyum devil.


"Apa rencanamu kali, beri tahu kami?" Pinta pria itu.


"Rencananya adalah...."


Berbeda tempat kini Yesika telah selesai membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya, dia pun duduk tak lupa juga dengan permen lolipopnya yang selalu setia menemaninya. Lalu pria muda itu menghampiri Yesika yang sedang melamun.


"Hayo Sika kenapa kau melamun?" Tanyanya lalu duduk di samping Yesika.


"Eh kak Reza, ada apa kak?" Tanya Yesika terkejut.


"Kakak bertanya kenapa kau bertanya balik"ucapnya bingung.


"Hehe maaf kak, Sika tak tahu kalau kak Reza tadi tanya apa ya?"Ucapnya polos.


"Tidak apa-apa, iya sudah ayo pulang hari sudah semakin sore"ucap Reza lalu dia pun bangun dari duduknya.


"Iya kak"


Lalu Yesika dan Reza pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, sesampainya di rumah Yesika pun membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai dengan ritual mandinya Yesika pergi ke dapur lalu di pun memasak nasi goreng untuknya dan juga ibunya saat pulang bekerja nanti.


Bi Rahma tidka menceritakan apapun kepada Yesika tentang dimana di bekerja yang Yesika tahu jika Bi Rahma bekerja di rumah orang kaya yang baiK hati, karena selalu membawakan makanan untuknya.


Nasi goreng telah siap tinggal menunggu kedatangan Bi Rahma pulang tak butuh waktu lama Bi Rahma pulang dengan membawa beberapa makanan yang ada di tangannya.


Ceklek...


Suara pintu di buka lalu bi Rahma pun masuk ke dalam rumahnya dan di sambut oleh Yesika yang sudah menunggu sedari tadi.


"Ibu sudah pulang, Sika memasak nasi goreng, ayo Bu kit makan"ajak Yesika.


"Iya sayang sebentar ya ibu mandi dulu"ucapnya lalu bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


Yesika pun menunggunya dengan patuh sambil menunggu Bi Rahma selesai mandi, Yesika pun menaruh makanan yang di bawa oleh Bi Rahma ke dalam piring. Selesai mandi Bi Rahma menghampiri Yesika yang sudah yang sudah siap.


Lalu mereka pun memakan makanannya dan di sela-sela makan Bi Rahma pun bertanya kepada Yesika.


"Sika minggu depan adalah hari ulang tahunmu yang ke dua puluh? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?" Tanya Bi Rahma.


Sejenak Yesika menghentikan aktifitasnya lalu menatap Bi Rahma."Bu, Sika tidak meminta apapun itu karena bagi Sika itu semua tidak penting. Yang paling penting itu adalah kebahagian Sika bersama ibu dan kita akan selalu bersama Bu"


Bi Rahma tersenyum mendengar ucapan Yesika lalu dia menggenggam erat tangan Yesika, Bi Rahma sangat menyayangi Yesika seperti anaknya sendiri tetapi Bi Rahma tidak tahu apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Yesika tahu yang sebenarnya. Apakah Yesika masih mau menganggapnya sebagai ibunya atau sebaliknya.


"Iya sudah ayo lanjutkan makananmu"


Yesika pun melanjutkan kembali tetapi hati Bi Rahma tertuju pada seseorang yang ada di dalam fikirannya saat ini.


Bibi tidak tahu harus bagaimana menjaga kalian Nona, bibi khawatir dengan keadaan dia saat ini, semoga dia baik-baik saja. batin Bi Rahma.


Selesai dengan makan malamnya lalu Yesika pun membersihkan meja dan Bi Rahma mencuci piring, setelah semua selesai mereka pun menuju kamarnya dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.


"Ada apa denganku, perasaanku akhir-akhir ini semakin tidak enak?" Gumam Yesika."Semoga tidak terjadi apapun"mengusap dadanya, lalu naik ke ranjang dan menarik selimut.


"Vela, minggu depan adalah hari ulang tahunmu yang kedua puluh, kau ingin hadiah apa sayang?" Tanya Tuan Raul.


"Aku tidak ingin hadiah apapun Papa"jawab Yovela sopan."Vela cuma ingin Papa bisa menyayangi Vela dan tidak akan pernah meninggalkan Vela."


"Tentu saja sayang, tetapi Papa sudah menyiapkan pesta untukmu Minggu depan, lalu Papa akan mengatakan ke semua publik jika kau adalah putri pewaris grup Barata"ucap Tuan Raul, dengan tatapan seriusnya.


Yovela menelan kasar salivanya mendengar hal itupun, lalu wajah Marina dan juga Arka semakin di tekuk mendengar itu semua, hatinya mulai terasa panas ingin sekali dia melempar Yovela ke dalam gua beruang.


"Iya cucuku, Nenek setuju dengan keputusan Papamu karena itu adalah wasiat dari ibumu nak"menatap Yovela lalu beralih menatap dengan sinis ke arah Marina.


Sial Nenek Tua ini, apa yang harus aku lakukan padanya. batin Marian kesal.


Yovela tidak bisa mengatakan apapun selain menuruti keinginan sang Nenek yang seperti itu.


"Baiklah Nenek,"


Marina semakin menekuk wajahnya dan kesal melihat suaminya lebih percaya kepada anaknya di bandingkan dengan Arka.

__ADS_1


"Papa kenapa kau begitu pilih kasih kepada anakmu, apakah Arka bukan anakmu juga? Kenapa kau tidak memberinya kesempatan!" Ucap Marina yang penuh emosi.


"Mama, ini pesan dari Nesya. Aku juga ingin memberi kesempatan kepada Arka, tetapi kau tahu jika semua ini milik Nesya tanpa persetujuan dari Vela aku tidak bisa melakukan apapun" ucap Tuan Raul menjelaskannya.


"Jawaban Papa selalu saja seperti itu, Arka ayo kita istirahat saja untuk apa kita di sini sementara Papa selalu memanjakan Vela lagi"ucap Marina bangun dari duduknya, dan menarik tangan Arka.


"Marina, Arka tunggu aku belum selesai mengatakannya"panggil Tuan Raul.


Yovela yang melihat hal itupun dia merasa serba salah dia bingung harus bagaimana, Nenek Sasmita menenangkan Yovela dengan menepuk pelan punggung tangannya.


"Nenek.."panggil Yovela.


"Sudahlah kau tidak perlu memikirkan mereka, lebih baik kau jalani apa yang di katakan oleh ibumu nak, Nenek akan istirahat lebih dulu"bangun dari duduknya.


"Baiklah, Nenek hati-hati"


"Iya cucuku"


Setelah kepergian Nenek Sasmita kini tinggal Yovela dan Tuan Raul yang masih ada di ruang keluarga.


"Papa apakah Bibi Marina marah padaku?"Tanya Yovela.


"Tidak apa-apa sayang, mereka pasti akan mengerti suatu saat nanti. Lebih baik beristirahatlah"mengusap lembut rambut Yovela.


"Papa, apa apakah kita tidak mencobanya memberi kesempatan kepada Arka? Agar Papa dan Bibi Marina tidak bertengkar!" Usul Yovela yang merasa tidak enak hati.


"Sudahlah Vela, jangan memikirkan apapun lagi Papa melakukan ini semua karena ingin menebus kesalahan Papa kepada Mamamu dulu karena Papa telah menyakitinya" sesal Tuan Raul dengan raut wajah yang sedih.


"Papa sabar ya, Vela akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga semua yang di berikan Mama kepada Vela"memeluk Tuan Raul.


"Iya sayang, sekarang kau istirahatlah"membalas pelukkan, lalu melepaskannya.


"Iya Papa, kau juga beristirahatlah"


Tuan Raul menganggukkan kepalanya lalu Yovela bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, Tuan Raul menatap punggung Yovela yang semakin jauh sampai tak terlihat lagi.


"Nesya, aku akan menjaga putri kita sampai dia tumbuh menjadi sepertimu"gumam Tuan Raul dan matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2