
Hari ini semua orang sibuk dengan tugas masing- masing karena dua hari lagi akan di adakan pesta pernikahan Sinchen dan Yovela.
Seharusnya Yovela merasa bahagiakarena hari pernikahannya sebentar lagi, tetapi dia malah terlihat tidak bahagia duduk di kursi taman sambil menatap langit malam yang di penuhi oleh bintang yang sangat cantik.
Yovela duduk sendirian sambil menghembuskan nafasnya lalu seseorang menepuk pelan bahu Yovela.
"Nenek, kau membuatku terkejut." Ucap Yovela lalu dia sedikit bergeser.
"Kau sedang memikirkan apa? Apa karena hal kemarin sehingga kau ragu?" Ucap nenek Sasmita duduk di samping Yovela.
"Ne...nenek tahu jika aku bertengkar dengan sika?" Tanya Yovela gugup.
"Bukan hanya tahu tetapi nenek merasa Sika juga menyukai Sinchen. Vela apa kau yakin dengan keputusanmu dengan memberikan Sinchen kepada Sika?" Tanya nenek Sasmita.
Yovela menghembuskan nafas kasarnya sebelum menjawab."Aku yakin nek, jika Sinchen dan Sika saling mencintai, aku harus melepaskannya."
"Baiklah, kau harus kuat nak. Nenek selalu mendukung apa keputusanmu." Memeluk Yovela dengan sayang.
"Terima kasih nenek, Vela sayang nenek." Membalas pelukkannya.
"Iya sayang."
Seseorang yang mendengarnya pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya entah dia harus bahagia atau harus bersedih.
__ADS_1
***
Hari adalah hari dimana Yovela harus menyiapkan cincin pernikahannya tetapi Sinchen belum datang juga entahlah dia akan datang atau tidak.
Yovela hanya bisa menghembuskan nafasnya, lalu Yesika pun menghampirinya.
"Kak sabar ya, kakak ipar pasti datang." Ucap Yesika menghibur.
"Seharusnya yang sabar itu kau, apa kau sudah memikirkan perkataanku waktu itu?" Tanya Yovela datar.
"Kak, apa yang bukan milikku, aku tidak akan mengambilnya. Sinchen itu milik kakak." Jawab Yesika tersenyum manis.
"Terus saja bohongi perasaanmu, jangan sampai kau menyesal Sika." Tutur Yovela lalu meninggalkan Yesika.
"Vela dimana?" Tanya Sinchen datar.
"Kakak di dalam." Jawab Yesika.
Sinchen pun melangkahkan kakinya dan meninggalkan Yesika begitu saja, Yesika hanya bisa menahan air matanya yang akan jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Maaf Sinchen, ini semua demi kakak. Aku hanya ingin kakakku bahagia." Gumam Yesika.
FLASHBACK ON
__ADS_1
Ponsel Yesika berdering lalu dia melihat nama seseorang yang memanggilnya tetapi dia tidak menjawab panggilan itu malah membiarkannya begitu saja.
Berkali- kali ponselnya berdering dengan rasa kesal Yesika pun menjawabnya dan meminta kepadanya agar dia tidak menghubunginya lagi karena semua demi sang kakak.
Setelah mengatakan hal itu Yesika pun menutup ponselnya dan melemparnya lalu dia naik ke ranjangnya dan menenggelamkan wajahnya ke bantal dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.
"Maafkan aku, aku akan melakukan apapun demi kakak karena dialah kebahagianku." Gumamnya.
FLASHBACK OFF
Setelah kepergian Sinchen, Yesika pun menuju taman belakang untuk menyiram tanamannya, di tempat lain Sinchen menghampiri Yovela yang ada di dapur.
"Vela.." Panggil Sinchen.
Yovela pun menoleh lalu dia menghampiri Sinchen dan menariknya ke taman belakang.
"Kenapa kau mencariku? Apa perkataanku kau lupakan begitu saja!"
"Vela, ayo kita menikah. Aku sudah memikirkan semuanya, dan itu keputusanku." Tutur Sinchen.
Yovela terkejut dengan ucapan Sinchen tetapi dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak Sinchen, kau menikah denganku karena terpaksa dan aku tidak mau di sebut wanita egois. Jadi aku tidak akan menikah denganmu." Ucap Yovela memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Tidak Vela, aku akan berusaha mencintaimu dan berikan aku kesempatan itu." Ucap Sinchen menggenggam tangan Yovela.