
"Aku baik- baik saja Sinchen." Sahut Yovela tersenyum manis.
"Baguslah jika kau baik-baik saja, aku akan menyapa nenek dulu." Ucap Sinchen yang langsung melangkah pergi.
Yovela yang melihat Sinchen pergi begitu saja hanya menatap datar, sedangkan Reza dan Yesika sedang mengobrol dan tertawa bersama. Sinchen pun menghampirinya dan membuat Yesika menoleh setelah menyapa nenek Sasmita.
"Sepertinya kalian akrab sekali." Menatap Reza dengan tatapan tidak senang.
"Aku memang akrab dengan Sika, karena sedari kecil kita tumbuh besar bersama bukankah begitu Sika." Ucap Reza dengan tatapan tidak suka melihat Sinchen.
Situasi macam apa ini keduanya saling menatap dengan tatapan tajam. Batin Yesika.
"Hah! Hehe... kalian mengapa mengatakan hal seperti itu." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sika sepertinya aku harus kembali ke kantor, jaga dirimu baik- baik. Jika terjadi sesuatu hubungi aku." Ucap Sinchen yang tidak mengalihkan pandangannya dari Reza.
"Baiklah." Tersenyum canggung.
Setelah kepergian Sinchen lalu Reza menatap Yesika yang sulit di artikan.
"Sika, kau mengenalnya?" Tanya Reza menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Dia adalah tunangan kakakku, ada apa memangnya?" Tanya balik Yesika.
"Tidak ada, lupakan saja. Aku harus pulang sampai bertemu besok." pamit Reza.
"Baiklah."
***
Hari telah berganti hari setiap hari kedua orang itu selalu saja ssling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan bagi Yovela dan Yesika.
Seperti hari ini adalah hari libur dimana keduanya telah datang dan akan membantu bi Rahma memasak.
"Ibu, aku akan memotong ini." Sahut Yovela.
"Tidak nona, biarkan bibi saja yang memotong dan membereskannya. Kalian tunggu saja di depan."Ucap bi Rahma yang tidak enak hati kepada anak majikannya.
"Tidak apa- apa bi, aku dan kakak senang membantumu."Ucap Yesika tersenyum manis.
Sedangkan kedua orang itu sedari tadi sibuk memotong sayuran, membuat bi Rahma menggelengkan kepalanya. Andai saja jika Yovela dan Yesika putrinya pasti bi Rahma aaka merasa bahagia.
Tinggalkan si kembar beralih ke luar rumah di depan gang rumah bi Rahma ada sebuah mobil mewah yang sedari tadi hanya berdiam diri dan tidak melaju kemanapun.
__ADS_1
Seseorang yang di dalam mobil terus saja menatap gang tersebut dengan memakai kacamata hitamnya dia terus saja memandanginya tanpa ingin turun dari dalam mobil.
"Nyonya apakah anda tidak akan keluar menemuinya?" Ucap supir pribadanya.
"Belum waktunya, aku tidak ingin membuat mereka kecewa kepadaku karena selama bertahun- tahun aku meninggalkan mereka." Menarik nafas dalam."Jika waktunya telah tiba aku akan menemui mereka, kau cari penggacara untuk membantu mereka mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya." Mengusap air mata dengan kasar, lalu mengalihkan topik pembicaraan.
"Baik Nyonya, saya akan berusaha."Ucapnya dengan sedikit membungkuk.
"Baiklah, ayo jalan."Ucapnya.
Maafkan aku jika sudah waktunya pasti kita akan bertemu. Batinya.
Sepanjang perjalanan dia terus saja melamun jika teringat masa lalu rasanya sangat menyakitkan baginya. Ingin rasanya dia memukul pria yang telah mengkhiantinya dan mengumpatinya.
Sesampainya di rumah mewah dan megah serta taman yang luas jauh dari keramaian, dia pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya dan seseorang pria paruh baya menatapnya dengan tatapan datarnya.
"Darimana saja kau, sudah aku katakan jangan pergi sembarangan." Ucap pria paruh baya itu dengan memegang tongkatnya.
"Maaf Ayah, aku hanya melihatnya sebentar saja." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Pria paruh baya itu menghembuskan nafas kasarnya dia tahu jika putrinya sangat ingin bertemu dengan mereka. Tetapi ini bukan waktu yang tepat, masih harus menunggu beberapa waktu lagi.
__ADS_1
"Ayah mengerti jika kau merindukan mereka, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk muncul di hadapan mereka. Lebih baik kau fikiran lagi." Bangun dari duduknya.
Pria paruh baya itupun meninggalkan wanita itu dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu.