
Sinchen menarik nafasnya dalam sebelum dia mengatakan sesuatu kepada Yesika.
"Apakah aku harus memilih?" Tanya Sinchen yang menatap Yesika.
"Iya kau memang harus memilih, karena orang yang kau cari selama ini adalah kakakku bukan aku. Jadi kau harus memutuskannya." Tersenyum getir."Aku ingin melihat kakakku bahagia, sekalipun kakak memilihmu aku akan tetap mendukungnya." Tutur Yesika yang matanya mulai berkaca-kaca.
Yesika tidak tahu perasaan apa ini! Apa dia benar- benar jatuh cinta pada Sinchen, tetapi dia selalu membuang jauh- jauh perasaan yang tidak pasti itu. Karena ada orang yang lebih penting darinya, yaitu Yovela yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Sinchen tidak mengatakan apapun dia juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, antara Yesika atau Yovela yang akan dia pilih. Tetapi selama ini dia mengenal Yesika sebagai Yovela. Ah persetan dengan semua ini! Dia tidak mau memikirkan hal yang rumit seperti ini.
"Sebaiknya kita kembali, mungkin saja dia sudah sadar." Sinchen bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Kau belum menjawabnya! Kenapa kau tidak menjawabnya Sinchen." Desak Yesika dengan mata yang sudah berkaca- kaca, jika dia berkedip sekali saja air matanya pasti akan jatuh membasahi wajah cantiknya.
Sinchen memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam, karena terasa sesak baginya saat ini. Di satu sisi Sinchen mulai mencintai Yesika tetapi di sisi lain ada Yovela yang seharusnya menjadi tunangannya saat ini.
Sinchen tidak menjawab dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang operasi, Yesika tidak mengerti dengan Sinchen sebenarnya apa yang dia inginkan?
Tidak mau terlalu larut dalam fikirannya akhirnya Yesika pun memutuskan untuk mengikuti Sinchen.
Anggota keluarga pun mengikuti langkah sang Dokter menuju ruang rawat inap, setelah di pindahkan Dokter pun segera berpamitan. Terlihat wajah Yesika yang begitu cemas dengan keadaan sang kakak.
"Nek, boleh aku masuk ke ruangan kakak. Aku sangat merindukannya." Ucap Yesika dengan raut wajah sedihnya.
__ADS_1
"Iya nak, pergilah temui kakakmu. Dia pasti sangat merindukanmu juga." Tutur nenek Sasmita dengan mendorong pelan tangan Yesika.
Yesika pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu dia pun masuk ke ruangan tersebut, terlihatlah wajahnya yang begitu tenang dan damai saat tertidur. Yesika tersenyum miris melihat keadaan Yovela saat ini, jika bukan karena pengorbanan sang kakak pasti saat ini yang terkulai lemah tak berdaya adalah dirinya.
"Kak, kenapa kau begitu bodoh mau berkorban untukku." Ucapnya dengan menggenggam tangan Yovela." Apa kau tahu aku sangat khawatir padamu, aku sangat takut kehilanganmu, kak! Jadi cepatlah sadar, aku tidak mengizinkanmu untuk meninggalkanku kak hiks hiks hiks." Isak tangis Yesika mulai pecah, dia tidak bisa menahannya lagi.
Sedangkan Yovela tidak ada pergerakkan sama sekali dia tetap tertidur dengan lelap, Yesika menangisi kembarannya saat ini hatinya begitu sakit melihatnya.
Sementara di luar ruangan Sinchen memperhatikan Yesika yang sedang menangis, entah perasaan apa yang dia miliki saat ini semuanya menjadi kacau seperti ini. Satu hal yang dia tahu hanya ingin melihat senyuman Yesika yang selalu membuatnya terbayang- bayang selalu.
Sepersekian detik Yesika telah selesai dengan tangisannya, lalu dia mengusap kasar air mata yang masih mengalir di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Hiks hiks lihatlah kak betapa bodohnya aku menangisimu."Tuturnya dengan tersenyum miris." Jadi cepatlah kau sadar, aku rindu dengan pertengkaran kita kak. Aku mohon sadarlah kak!" Ujar Yesika yang tidak bisa menahan air mata yang mulai mengalir lagi dari kelopak matanya.