
"Kau benar Arka, tetapi ada yang lebih penting cepat suruh dia tanda tangan." Ucap Nyonya Marina.
"Kau benar bu, Vela cepat tanda tangani surat ini." Arka memberikan ballpoint kepada Yovela agar menandatangi surat pengalihan seluruh aset miiknya.
"Tidak mau."
"Berani kau..."
Plak..
Satu tamparan mendarat di pipinya dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, Nyonya Marina pun menjabak rambut Yovela hingga dia mendongkak ke atas.
"Aku sudah berbaik hati padamu, tetapi kau terus saja melawanku." Tatapan sinis.
"Heh! Bibi sampai kapanpun aku tidak akan pernah tanda tangan, kalian jangan mimpi bisa mendapatkan aset mi... ugh." Belum selesai mengatakannya, Nyonya Marina sudah mencekik Yovela.
"Kau jangan sombong, seharusnya kau berterima kasih padaku. Karena akulah yang telah mengantarkan ibu pergi dengan tenang."
Nyonya Marina melepaskan tangannya dari leher Yovela, sehingga dia pun terbatuk.
__ADS_1
Ukh... Ukh...
"Cepat tanda tangan." Ucap Nyonya Marina.
****
Sementara Yesika dan Sinchen telah sampai di gudang tua, lalu Yesika melangkah lebih dulu tetapi Sinchen menariknya dia takut jika Yesika terluka.
"Tunggu kau mau kemana?" Tanya Sinchen yang menarik tangan Yesika.
"Aku harus menyelamatkannya, jika tidak aku pasti akan menyesal."Dengan raut wajah sedih.
"Kau tenang saja, di sini aman sudah ada orangku dan juga polisi yang akan mengurusnya.
Sinchem pun memeluk Yesika agar perasaannya lebih tenang, Yesika terkejut dengan perlakukan Sinchen kepadanya. Meskipun Yesika selalu menolaknya tetapi kali ini Yesika benar- benar butuh bantuan dari seseorang, agar dia bisa semangat lagi.
Tak lama Tuan Raul bersama nenek Sasmita pun datang bersama, mereka menghampiri Sinchen dan Yesika.
"Ehm... Apakah aku mengganggu kalian!" Ucap tuan Raul.
__ADS_1
Sinchen pun melepaskan pelukknya dari Yesika dan membuat Yesika memalingkan wajahnya yang memerah akibat malu.
"Tidak tuan Raul." Jawab Sinchen sopan.
"Sika kau baik- baik saja sayang." Tanya nenek Sasmita.
"Eh, tentu nenek, nenek....." ucapan Yesika terhenti saat melihat tuqn Raul tersenyum kepadanya.
"Iya cucuku, papamu sudah tahu jika kau adalah Yesika karena nenel sudah menceritakan jika ibumu melahirkan kalian berdua." Tutur nenek Sasmita yang tahu arti dari tatapan Yesika.
"Iya sayang, maafkan papa selama ini. Papa kira hanya Yovela saja, karena ibu tidak pernah menceritakannya padaku jika putriku ini kembar." Ucap Tuan Raul yang menatap Yesika dengan mata berkaca-kaca.
Yesika yang mendengar hal itupun merasa lega lalu tuan Raul pun merentangkan tangannya, tentu saja di sambut oleh Yesika dan dia pun memeluk tuan Raul dengan erat. Air mata terus berjatuhan dari keduanya nenek Sasmita hanya tersenyum saja, sedangkan Sinchen tidak mengerti apa maksudnya.
"Nyonya apa maksudnya semua ini? Bukankah tunanganku adalah Yovela kenapa sekarang menjadi Yesika?" Tanya Sinhen yang bingung.
"Nak Sinchen, maafkan kesalahan keluarga kami tetapi keluarga kami tidak ada maksud mempermainkanmu. Dan ceritanya begitu panjang dan sulit untuk di jelaskan tetapi nak, nenek pasti 'kan jika dia adalah Yesika adik dari Yovela cucu nenek."
Sinchen menarik nafasnya dalam- dalam dia masih belum mengerti apa maksudnya, lalu Yesika melepaskan pelukkannya dari tuan Raul dan menatap Sinchen. Yesika mengerti jika Sinchen saat ini sedang kebingungan.
__ADS_1
"Aku akan menjelaskannya nanti, yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan kakakku yang di sekap oleh Arka dan bibi Marina." Tutur Yesika menjelaskan.
" Baiklah aku paham."