
Keesokkan paginya Tuan Raul, nenek Sasmita juga Yesika tidak pulang ke rumah karena mereka masih menunggu sadarnya pengacara itu.
Tak lama dokter Jimmy pun segera keluar dari ruang rawat dokter tersebut dan mengatakan jika pengacara Robert telah sadar.
“Tuan Raul, Tuan Robert telah sadar. Tuan bisa masuk ke dalam dan jangan sampai membuat keributan.”Tutur dokter tampan itu.
“Iya dok, terima kasih.” Jawab nenek Sasmita.
Dokter Jimmy pun segera berpamitan, lalu nenek Sasmita pun menyuruh Tuan Raul untuk masuk lebih dulu.
“Raul, kau masuklah lebih dulu nenek akan menunggu di sini.”Ucap nenek Sasmita yang duduk di kursi tunggu.
“Iya Papa lebih baik Papa duluan saja, aku akan menjaga nenek.”Tutur Yesika yang kini duduk di samping nenek Sasmita.
“Baiklah kalian tunggu di sini.”
Tuan Raul masuk ke dalam ruang rawat Tuan Robert dan menutup kembali pintu tersebut. Tuan Raul menghampiri Tuan Robert yang baru saja sadar.
“Tu-Tuan Raul, maafkan saya.”Ucapnya pelan.
“Tidak apa-apa, Tuan Robert. Aku mengerti dengan kondisimu saat ini.” Duduk di kursi dekat Tuan Robert.
“Terima kasih Tuan.”
“Iya Tuan Robert, lebih baik kau fokus pada kesehatanmu dulu dan setelah itu baru kita bicarakan lagi.”
“Iya Tuan kau benar, aku di culik karena ada orang yang menginginkan seluruh hartamu Tuan. Tetapi aku beelum tahu siapa orangnya.”
Tuan Raul mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Tuan Robert, sejenak dia berpikir tetapi siapa orang yang menginginkan harta miliknya.
“Kira-kira Tuan Robert tahu siapa orang itu atau mungkin Tuan mengenalinya?”Tanya Tuan Raul.
“Tidak Tuan, wajahnya memakai penutup kepala. Saya tidak tahu pasti itu siapa, tetapi Tuan kau harus hati-hati karena orang terdekat bisa menjadi musuh dalam selimut.”Tutur Tuan Robert mengingatkan.
“Iya Tuan, terima kasih sudah mengingatkanku.”
Mereka pun tertawa bersama seperti biasanya.
__ADS_1
Kini Yovela sedang duduk dia begitu gelisah dari semalam dan membuat tidurnya tidak tenang, apa lagi setelah mengetahui jika Yesika ingin pergi mencari pengacara keluarga. Sedari tadi pikirannya melayang memikirkan Yesika.
“Kenapa Sika belum memberi kabar padaku? Apa aku harus menyusulnya?”Gumam Yovela.
Sejenak dia berpikir lalu, dia pun membulatkan tekadnya untuk pergi menemui Yesika karena rasa khawatir yang membuatnya tidak begitu tenang. Lalu Yovela berjalan ke arah lemari milik Yesika dan membukanya dia memilih baju, karena tidak ada gaun di lemari Yesika, yang ada kaos serta celana panjang.
Yovela pun segera mengambilnya dan memakainya lalu dia melihat ada topi dan masker di meja kecil milik Yesika. Yovela pun berniat memakainya dan setelah itu dia bergegas keluar dari rumahnya, sedangkan Bi Rahma ada di rumah Yovela sebagai pelayan.
Yovela mengedarkan pandangannya sebelum dia melangkahkan kakinya lagi, menarik nafas lalu menghembuskannya tekad Yovela sangat besar dia pun mulai melangkahkan kakinya dan juga memesan taxsi online.
Taxsi online pun sudah datang lalu Yovela bergegas masuk ke dalam dan supir taxsi pun mengantarkan Yovela pergi ke kediaman keluarga Barata. Tak butuh waktu lama kini Yovela telah sampai di depan gerbang mewah dan rumah yang begitu mewah, Yovela masih mengedarkan pandangannya dia takut jika ada orang yang melihatnya.
Yovela merogoh saku celananya dan mencari kontak nama seseorang dan memanggilnya.
Sementara Yesika sedang duduk bersama nenek Sasmita mereka masih setia menunggu di rumah sakit, lalu ponsel Yesika berdering karena ada yang memanggilnya dan Yesika melihat ponselnya lalu dia menatap nenek Sasmita.
“Ada apa sayang?”Tanya nenek Sasmita bingung.
“Kakak telepon Nek, ada apa dengannya?”Jawab Yesika sambil melihat ponselnya.
“Kau jawab saja dulu mungkin itu penting.”Jawwbnya lembut.
Yesika pun menjawab panggilan telepon dari Yovela dan Yesika mengatakan jika dirinya sedang di rumah sakit dan membuat Yovela semakin panik saja. Tetapi Yesika menjelaskannya agar tidak membuat Yovela panik, setelah puas menelepon Yesika segera menutup ponselnya karena Tuan Raul sudah keluar dari ruangan Tuan Robert.
Lalu Tuan Raul menghampiri kedua orang yang sangat dia sayangi.”Bu mari kita pulang, keadaan Tuan Robert baik-baik saja.”
“Baiklah, ayo cucuku kita pulang dan beristirahat saja pasti kau sangat lelah.”Ajak nenek Sasmita.
“Baiklah Nek.”
Yesika membantu nenek Sasmita memapah untuk berjalan, mereka masuk ke dalam mobil selama perjalanan menuju rumah Yesika terlihat melamun dan membuat nenek Sasmita menepuk pelan punggung tangan Yesika.
“Ada apa kenapa kau melamun saja sedari tadi? Apakah ada masalah?”
“Tidak ada Nek, aku hanya lelah saja.”
Mobil telah sampai di kediaman Barata, tetapi mata Yesika seperti mencari seseorang yang sedang menunggunya, nenek Sasmita yang paham akan hal itu segera menyuruhnya untuk pergi.
__ADS_1
"Ada apa cucuku? Kau seperti orang yang bingung?" Tanya nenek Sasmita melihat raut wajah Yesika.
"Aku.... aku.."Ucapnya dengan ragu.
"Nenek paham, pergilah. Nenek akan mengurus Papamu!"Tersenyum manis.
"Benarkah Nek? Terima kasih!"Ucap Yesika dengan raut wajah bahagianya dan memeluk nenek Sasmita.
"Iya pergilah!"Membalas pelukkan dan melepaskannya.
Yesika pun tidak melangkah pergi dan memberikan pesan kepada Yovela, dengan menaiki taxsi online Yesika telah sampai di taman kota. Dia keluar dari dalam mobil dan mengedarkan pandangannya menuju taman kota yang selalu rami di kunjungi orang.
Melangkahkan kakinya menuju taman dan duduk sambil menunggu kedatangan Yovela kembarannya. Yesika memainkan ponselnya lalu ada seseorang yang menepuk bahunya dan membuat Yesika terkejut, lalu dia menoleh dengan perasaan takut jika ada orang yang mengenalinya.
"Dor....!" Ucap seseorang sambil tertawa puas.
"Kau mengejutkanku saja!"Kesal Yesika sambil mengerucutkan bibirnya.
Dia pun duduk di kursi panjang dekat Yesika dan tersenyum puas melihat raut wajah takut sang adik.
"Hahaha... kau ini pasti sangat ketakutan 'kan?"
"Sudah jangan meledekku, ada hal apa kak?"Ucap Yesika mengalihkan pembicaraannya.
"Bagaimana keadaan pengacara itu? Apakah dia baik-baik saja?"Merubah raut wajahnya menjadi serius.
"Dia baik-baik saja kak, tetapi pengalihan semua aset milik Mama akan di tunda dulu sampai kondisinya benar-benar pulih." Jawab Yesika menjelaskannya.
"Syukurlah, tidak apa-apa jika memang seperti itu."Sahut Yovela, lalu menatap lurus ke depan.
"Tetapi aku tidak tahan dengan sikap Bibi Marina dan juga Arka si bocah kecil itu. Ingin sekali rasanya aku melempar mereka dan keluarga kita bisa bersatu selamanya." Ucap Yesika dengan raut wajah sedihnya.
Mendengar hal itu membuat Yovela pun sakit, lalu dia memeluk erat Yesika agar dia merasa lebih baik lagi dan menjadi tenang.
"Sika, dengarkan kakak ya apapun yang terjadi ke depannya kau tidak boleh mengeluh seperti tadi ya. Suatu saat nanti kita pasti bisa berkumpul lagi! Kau percaya 'kan?" Mengusap lembut rambut Yesika.
"Iya kak, aku mengerti. Dan terima kasih kalau bukan karena nenek yang mempertemukan kita, belum tentu aku bisa mengenalmu kak."
__ADS_1
Mereka berdua pun saling memeluk satu sama lain, selain rasa rindu yang melanda keduanya mereka berdua juga harus saling bekerja sama demi keluarganya dan yang pastinya harus ada salah satu dari mereka yang berkorban.