Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

"Maksudmu apa Vela mengatakan hal seperti itu?" Tanya Tuan Raul yang kebingungan.


"Papa, Sinchen sudah memiliki orang lain lalu kenapa papa masih saja menjodohkannya denganku." Ucap Yovela yang menatap Tuan Raul.


"Sinchen tidak memiliki kekasih ataupun istri sayang, jadi papa menjodohkannya denganmu." Ucap Tuan Raul lembut.


"Papa tidak tahu 'kan jika Sinchen sudah punya seseorang benarkan Sika." Ucap Yovela menatap Yesika.


Yesika pun tersedak makanan lalu dia segera mengambil air minum dan meminumnya hingga habis tak bersisa.


"Hey, aku hanya meminta pendapatmu kenapa kau sampai tersedak seperti itu." Tutur Yovela.


"Maaf kak, aku terlalu serius melahap makananku jadi saat kau memanggil namaku. Aku terkejut hingga tersedak." Elak Yesika.


"Hati- hati sayang." Ucap nenek Sasmita ramah.


"Iya nek."


****


Keesokkan paginya Yovela sedang menyiram bunga di halaman belakang lalu Yesika pun menghampirinya dan membantu sang kakak.


"Hai kakakku sayang, bolehkah aku membantumu?" Tanya Yesika yang menghampiri Yovela.


"Iya boleh saja, kau pasti ingin bertanya tentang semalam 'kan!" Memberikan penyiram tanaman.


"Tidak ada hubungannya denganku kak, kak Sinchen itu akan menjadi kakak iparku. Jadi apa yang kakak pikirkan itu semua salah kak, aku tidak seperti itu kak yang mengkhianati kakak." Ujar Yesika yang menerima penyiram tanaman.


"Sika, apa kau mau berjanji kepada kakak?" Tanya Yovela serius.

__ADS_1


Yesika pun menatap Yovela lalu dia menaruh penyiram tanaman dan menuntun sang kakak duduk di kursi panjang.


"Apa yang kakak inginkan, katakan saja." Ucap Yesika serius.


Yovela menarik nafas dalam sebelum dia mengatakannya kepada Yesika.


"Menikahlah dengan Sinchen." Ucap Yovela yang menatap Yesika.


Mata Yesika membulat mendengar ucapan dari Yovela." Kakak apa maksudmu? Kenapa aku harus menikah dengan Sinchen!"


"Karena Sinchen menyukaimu bukan aku orang yang dia cintai, jika aku terus melakukan ini maka aku yang akan tersakiti di sini." Ucap Yovela dengan air mata yang menetes.


"Kakak jangan seperti ini, aku tidak mau menikah dengan Sinchen. Aku..." Ucapan Yesika di potong oleh Yovela.


"Cukup Sika, jangan mengatakan apapun lagi." Jawab Yovela lalu pergi meninggalkan Yesika.


"Kak, aku sudah berusaha melupakan Sinchen kenapa kau menoorongku lagi ke sisinya." Gumam Yesika.


***


Beberapa hari kemudian setelah mengatakan hal itu Yovela menghindari Yesika karena jika bertemu Yesika pasti mengatakan jika dia tidak ingin menikah dengan Sinchen.


Sama dengan Sinchen setelah kejadian itu dia sama sekali belum pergi ke rumah Yovela.


"Apakah aku terlalu kasar padanya, jika aku tidak mencintainya dan tidak ingin menikah dengannya." Gumam Sinchen.


Dia terus memikir kata- kata dari Yovela apakah dia benar- benar akan menikah dengan Yesika? Apakah dia tidak terlalu kejam menyakiti hati Yovela, entalah Sinchen pun tidak tahu siapa yang akan menjadi pasangannya.


Asisten Willy pun masuk ke ruangan Sinchen karena ada berkas yang belum dia tanda tangani.

__ADS_1


Ceklek...


Willy pun masuk ke ruangan Sinchen dia melihat Sinchen sedang melamun, Willy puj segera menghampiri meja kerja Sinchen.


"Tuan ada berkas yang harus kau tanda tangani." Ucap Willy lalu dia meletakan berkas tersebut.


Sinchen diam saja dia tidak mendengarkan ucapan Willy melihat hal itu, Willy pun segera menepuk bahu Sinchen.


"Tuan... Apa yang terjadi." Menepuk bahu Sinchen.


"Willy kapan kau datang, kenapa tidak mengetuk pintu dulu." Ucap Sinchen datar.


Willy menarik nafasnya dan menghembuskannya membuat Willy merasa kesal.


"Baru saja dan kau tidak mendengarnya." Jawab Willy acuh.


"Ada hal apa kau datang."Ucap Sinchen sambil bersandar di kursi kejayaannya.


Pertanyaan macam apa itu, aku datang untuk apa? Dasar bos stres. Batin Willy.


"Tentu saja meminta tanda tanganmu, memang apa yang kau pikirkan." Ketus Willy.


"Haish.... Sudahlah mana berkasnya?" Tanya Sinchen lagi.


*Ya tuhan orang ini membuatku darah tinggi*. Batin Willy.


"Apa kau tidak melihatnya di depanmu, Tuan." Ucap Willy menunjuk dengan dagunya.


Sinchem pun melihat berkas yang ada di depannya lalu dia pun segera menandatanganinya, setelah selesai dengan cepat Willy pun segera keluar dari ruangan Sinchen karena tidak ingin berlama- lama di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2