
Seketika mata Tuan Raul dan nenek Sasmita membulat sempurna kala melihat sosok yang dia kenal dan menghilang selama bertahun- tahun.
Melihat hal itu Yesika dan Reza saling menatap satu sama lain, entah ada apa dengan Tuan Raul dan nenek Sasmita sehingga begitu terkejut saat melihat kedatangannya.
"Papa, nenek kenapa kalian menatapnya seperti itu? Apakah kalian mengenal bibi Nesya?" Yesika memicingkan matanya.
Tuan Raul tidak menghiraukan pertanyaan Yesika, dia lebih memilih mendekati Nesya dengan pandangan yang sulit di artikan. Begitu juga dengan nenek Sasmita matanya sudah berkaca-kaca, Yesika hanya bisa menatapnya saja dia bingung ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi selama ini?.
"Nesya kau masih hidup?" Tanya Tuan Raul dengan mata berkaca- kaca.
Nesya tidak tahu harus mengatakan apa, apakah dia harus bahagia? Atau harus sedih? Entahlah saat ini fikirannya sangat kacau.
"Aku.... Aku...." Belum sempat menjawab, Yesika sudah memotongnya lebih dulu.
"Papa, mengenal bibi Nesya?" Selidik Yesika.
"Iya papa mengenalnya, apa kau tahu siapa dia?" Tanya Tuan Raul yang menatap Yesika, Yesika menggelengkan kepalanya."Dia adalah..... Ibu kandungmu, Sika."Menatap Nesya.
Yesika membulatkan matanya saat Tuan Raul mengatakan yang sebenarnya kepada Yesika, lalu nenek Sasmita melangkah mendekati Yesika dan mengusap lembut pundak Yesika.
"Sayang, dia adalah ibu kandungmu. Bukankah selama ini kau selalu merindukannya." Nenek Sasmita mengusap lembut pundak Yesika.
__ADS_1
"Tetapi.... Apakah itu benar papa? Kenapa papa tidak pernah bilang kepadaku jika ibu kandungku masih hidup."
"Maaf sayang, papa juga tidak tahu jika ibumu masih hidup."
Air mata Yesika pun pecah seketika dia memukul dada bidang Tuan Raul, Tuan Raul hanya diam saja sementara Reza dan nenek Sasmita hanya bisa menatap saja. Nesya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap Yesika lalu kedua tangannya saling meremas serta menggigit bibir bawahnya.
Setelah puas lalu Yesika menatap Nesya dan menghampirinya.
"Bibi Nesya kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku? Apakah aku dan kakak tidak berarti di matamu." Ucap Yesika terisak.
Ada rasa kesal, rindu, benci serta yang lainnya berkumpul menjadi satu, Nesya tidak berani menatap Yesika dan membuat Yesika semakin geram.
Nesya hanya bisa pasrah saja saat Yesika memarahinya, lalu nenek Sasmita menarik Yesika agar dia bisa lebih tenang. Nesya hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tahu pasti ini sangat berat bagi Yesika untuk menerimanya perlahan- lahan Nesya mengangkat wajahnya dia melihat raut wajah Yesika yang berubah menjadi sedih.
"Maaf." Ujar Nesya lirih.
Yesika menggelengkan kepalanya lalu dia menghampiri Nesya dan memeluknya begitu erat, Nesya pun terkejut dengan sikap Yesika yang memeluknya. Nesya pun membalas pelukkan dari Yesika sehingga keduanya larut dalam tangisan.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, apa kau ingin membohongiku, ibu." Isak tangis Yesika pecah di pelukan Nesya.
"Maafkan aku, tidak ada maksud untuk melakukan hal seperti itu, sayang." Ujarnya dengan penuh haru dan derai air mata pun mengalir.
__ADS_1
"Kau jahat, ibu! Apa kau tidak menyayangiku?" Melepaskan pelukkannya.
"Tentu saja ibu sangat menyanyangimu nak, dan kakakmu juga." Mencubit gemas hidung Yesika.
Sementara Tuan Raul, nenek Sasmita, dan Reza mereka pun bernafas lega karena Yesika menemukan kebahagiannya saat ini.
Setelah selesai berpelukkan Tuan Raul menghampiri Nesya dan bertanya kepadanya.
"Apa kabarmu, selama ini kau kemana saja?" Tanya Tuan Raul.
Nesya menoleh dan tersenyum."Aku baik- baik saja, dan tidak pernah melupakan hal itu."
Deg....
Jantung Tuan Raul tiba- tiba berdetak kencang jika di fikirkan lagi ini memang kesalahan Tuan Raul yang berselingkuh dengan sahabatnya, dan membuat Nesya pergi menjauh dan enggan kembali selama bertahun- tahun.
"Maafkan aku, Sya. Aku tahu jika aku banyak salah padamu, maka kali ini izinkan aku untuk menebusnya." Ucap Tuan Raul menatap Nesya penuh harap.
Nesya hanya tersenyum kecil melihat sikap Tuan Raul."Kau tidak perlu melakukan hal itu, aku sudah memaafkanmu, Raul."
Mata Tuan Raul berbinar dia begitu senang mendengarnya, nenek Sasmita dan yang lainnya pun ikut bahagia.
__ADS_1