Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Hari ini Yesika sudah bangun pagi karena dia sudah mempelajari bagaimana untuk mengurus dokumen penting, lalu dia keluar dan menuruni anak di sana sudah berkumpul semuanya.


“Sayang kemarilah.” ucap Nenek Sasmita.


Yesika menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi, Tuan Raul pun mulai bertanya kepada Yesika.


“Vela sayang, apa kau sudah merasa lebih baik nak?” Tanya Tuan Raul yang begitu khawatir dengan kondisi Yovela saat ini.


“Paman...”Yesika menutup mulutnya dan berdehem.”Ehm.. maksudku begini, aku baik-baik saja Papa.”Ucap Yesika tersenyum canggung.


Nyonya Marina dan Arka menatap ke arah Yesika, mereka begitu curiga kepada Yesika dengan perubahan sikapnya saat ini.


“Vela sayang, jika kau belum sehat jangan memaksakan nak. Kau bisa istirahat di kamarmu.” Timpal Nyonya Marina dengan senyum palsunya.


Heh! Ular ini sengaja mengatakan hal seperti itu, aku tahu apa yang dia maksud. Batin Yesika.


“Bibi Marina, tidak perlu berkata seperti itu. Apakah bibi takut, kalau semua harta Mama Nesya jatuh ke tanganku!” Ucapnya menantang.


Seketika raut wajah Marina berubah menjadi kesal sedangkan Tuan Raul dan nenek Sasmita saling menatap ke arah Yovela atau Yesika.


Marina menatap sinis ke arah Yovela begitu juga dengan Arka, yang tidak suka kepada Yovela. Rahang Arka mengeras mendengar Yovela mengatakan hal seperti itu juga tangannya mengepal, Yesika yang melihat tangan Arka mengepal mulai menggodanya.


“Arka ada apa dengan tanganmu, apakah tanganmu kebas sehingga kau mengepal seperti itu.” Ucap Yesika enteng, sambil memakan makanannya.


Semua mata tertuju ke tangan Arka dengan cepat Arka pun mengubah ekspresi wajahnya, lalu dia pun memijat kecil tangannya.


“Apa tanganmu kebas Arka?” Tanya Tuan Raul.


“Akh...ini tidak masalah Papa, nanti juga akan sembuh.” Sahut Arka dengan tersenyum kikuk.


“Oh sudahlah, Vela ayo kita ke kantor!” Ajak Tuan Raul, lalu bangun dari duduknya.


“Baiklah Papa. Nenek, Vela berangkat dulu ya.” Mencium punggung tangan Nenek Sasmita.


“Iya cucuku, hati-hati di jalan.”


Yesika bangun dari duduknya dan menghampiri Nyonya Marina, lalu dia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Nyonya Marina tetapi Nyonya Marina tidak menyambutnya malah sibuk dengan makanannya.


“Marina, apa kau sengaja membuat Vela menunggu lama.” Ucap nenek Sasmita yang menatap tajam ke arah Marina.


“Sudah sana pergi saja, nanti tanganku kotor.” Ucap Nyonya Marina yang melihat kuku kutek di tangannya.


"Marian kau jangan keterlaluan!" Sentak Nenek Sasmita dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Nek, sudahlah tidak apa-apa."


Yesika menarik nafasnya dan juga tangannya lalu beralih menatap paman Samuel, lalu dia mencium punggung tangan paman Samuel.


“Paman, Vela pergi dulu.”


“Iya hati-hati.”


Yesika tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju keluar rumah dimana Tuan Raul sudah menunggunya.


Sesampainya di kantor Yesika turun dari dalam mobil dia mengedarkan pandangannya melihat bangunan menjulang tinggi.


Apakah sepertinya ya, setiap hari kak Vela bekerja. Batin Yesika.


“Ayo Vela, kita masuk!” Ajak Tuan Raul.


“Oh baiklah Papa.” Sahutnya yang masih menatap gedung tinggi itu.


Melangkah masuk dan semua karyawan pun menatap kedatangan Tuan Raul beserta seseorang yang ada di belakangnya. Semua mata terkejut melihat kedatangan Yovela, karena mereka tahu jika mobil Yovela mengalami kecelakaan dan sekarang orang tersebut berdiri di hadapan mereka.


Semua karyawan saling berbisik- bisik melihat Yovela yang masih hidup, lalu salah satu karyawan pun bertanya kepada Tuan Raul.


“Maaf Tuan, apakah ini Nona Yovela?”Tanya salah satu karyawan dengan sedikit membungkukkan badannya.


Tuan Raul mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan pertanyaan konyol semacam itu.


Mata Yesika membulat sempurna karena baginya ini terlalu cepat bahkan dia belum sepenuhnya mengerti tentang dokumen itu. Yovela menggigit bibir bawahnya dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Tuan Raul.


“Vela, ayo Papa akan mengantar ke ruanganmu, dan kalian semua bubar jangan bergosip jika masih ingin bekerja.”


“Baik Papa.”


Semua karyawan pun telah bubar, Yesika mengikuti langkah kaki Tuan Raul yang masuk ke dalam lift, Yesika tidak tahu harus bagaimana menghadapi hari-hari ke depannya.


Membayangkannya saja membuat kepalanya pusing apa lagi mengerjakan dokumen.


Pintu lift terbuka dan Tuan Raul bersama Yesika keluar dari pintu lift, lalu sekertaris Tuan Raul pun membungkukkan badannya.


“Selamat pagi Tuan dan Nona.” Ucap sekertarisnya.


“Iya Mila, kau antar Nona ke ruangannya.”


“Baik Tuan, Nona silahkan!”

__ADS_1


Yesika tersenyum canggung sebelum meninggalkan Tuan Raul.”Papa... apakah tidak terlalu terburu-buru.”


Tuan Raul menghembuskan nafasnya dalam-dalam.”Vela, Papa lakukan ini semua karena amanat dari Mamamu jadi kau mau ‘kan sayang!”


Yesika pernah mendengarkan cerita dari nenek Sasmita jika semua aset dan harta akan jatuh ke tangan Yovela jika sudah waktunya tiba. Yesika menganggukkan kepalanya lalu dia pun melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


“Baiklah Papa, Vela mengerti!” Jawab Yesika tersenyum manis.


Tuan Raul mengusap lembut kepala Yovela dan tersenyum manis, kini Yesika sudah sampai di ruangan milik Yovela dan sekertaris Mila pun berpamitan kepada Yesika.


“Nona ini ruangannya, jika perlu sesuatu panggil saja saya.” Ucap Mila ramah.


“Iya terima kasih, emm... Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu!” Tanya Yesika ragu.


“Tentu saja Nona silahkan.”


“Jadi begini, aku hilang ingatan dan belum sepenuhnya ingat. Apa kau bisa membantuku untuk mengajariku mengurus dokumen?” Ucap Yesika yang menatap sekertaris Mila.


Sekertaris Mila hanya tersenyum kecil melihat sikap Yovela yang seperti ini.


“Tidak perlu sungkan Nona, saya akan membantu Nona.”


“Baiklah terima kasih kau boleh kembali.”


Sekertaris Mila menganggukkan kepalanya lalu Yesika pun memegang gagang pintu ruangan Yovela dan masuk ke dalamnya. Dia mengedarkan pandangan menatap seluruh isi ruangan yang begitu tertata dengan rapi juga di meja kerja ada bingkai foto Yovela dan lemari kaca yang berisi buku dan juga dokumen penting.


Yesika menghampiri kursi kebesaran Yovela dan menatap bingkai foto tersebut dan tersenyum manis.


“Kakak kau tenang saja, permainan akan di mulai.” Ucapnya dengan tersenyum dingin.


Kemudian Yesika duduk dan mulai membuka laptopnya lalu sedikit demi sedikit dia pelajari demi sang kakak dia akan melakukan apapun walaupun dia harus berkorban.


Hari sudah semakin sore kini Yesika sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan barunya, walaupun masih di bimbing tetapi Yesika sama pintarnya dengan Yovela. Selesai mengerjakan pekerjaannya kini Yesika pun meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, karena dia banyak duduk.


“Akhirnya pekerjaan ini selesai juga, sudah waktunya pulang.” Bangun dari duduknya dan mengambil tasnya.


Berjalan keluar dari ruangannya dan di sana sudah ada Tuan Raul yang sudah menunggunya. Yesika meenghampirinya dengan tersenyum manis dan tentu saja Tuan Raul menyambutnya.


“Bagaimana sayang dengan pekerjaanmu hari ini? Apa kau bisa?”Tanya Tuan Raul.


“Vela masih harus belajar lagi Pa, karena Vela belum mengerti sepenuhnya. Tetapi Vela akan berusaha semampu Vela, supaya Papa bangga dengan Vela.”Sahutnya dengan penuh semangat.


Juga dengan permainan ini.Batin Yesika.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita pulang.”


“Iya Papa.”


__ADS_2