
Akhirnya Yesika pun tersadar lalu nenek Sasmita menyuruhnya untuk segera berganti pakaian karena dokter Jimmy akan segera datang.
Di ruang tamu dokter Jimmy sudah datang dan Tuan Raul menyuruhnya untuk memeriksa Yesika.
"Jimmy tolong kau periksa putriku, apakah dia masih dalam pengaruh obat atau tidak." Ucap Tuan Raul.
"Baiklah Tuan, kau tenang saja." Jawab Dokter Jimmy.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju kamar Yesika, sampai di depan pintu kamar Yesika Tuan Raul mengetuk pintu kamar dan nenek Sasmita pun menyuruhnya untuk masuk.
Keduanya pun masuk ke dalam kamar dan di atas ranjang sudah ada Yesika yang sudah berganti pakaian dan sudah memakai selimut. Dokter Jimmy pun memeriksa keadaan Yesika dengan telaten, cukup lama dokter Jimmy berkutat dengan alat medisnya dan akhirnya dia pun membuatkan resep obat untuk Yesika.
"Nenek, ini resep obatnya dan harus di minum sampai habis."Memberikan resep obat.
"Baiklah Jimmy, terima kasih kau sudah datang kemari."Jawab nenek Sasmita.
Dokter Jimmy pun tersenyum dan dia segera membereskan peralatan medisnya kembali lalu dia pun segera berpamitan dan di antar oleh Tuan Raul.
"Baiklah tugasku sudah selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit, Nona Vela semoga lekas sembuh."Ujar dokter Jimmy yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Baik dokter, terima kasih!" Sahut Yesika.
Matahari mulai bersinar begitu juga dengan Yovela yanh sudah terbiasa bangun pagi dan kini dia pun sudah bisa memasak, menata makanan di meja kecil lalu dia segera menghampiri Bibi Rahma.
"Bi, ayo sarapan dulu."Ajak Yovela dan menggandeng tangan Bi Rahma.
"Baiklah Non."
Sampai di meja kecil lalu Yovela pun mengerucutkn bibirnya karena dia tidak suka jika Bi Rahma memnggilnya dengan sebutan Nona, berbeda sekali dengan Yesika.
"Bi Rahma, bisakah kau memanggilku Vela saja." Ucapnya dengan bibir mengerucut.
"Kenapa kau membedakan aku dan Yesika." Memalingkan wajahnya."Padahal aku dan dia sama saja."Menundukkan wajahnya.
Bi Rahma pun menggenggam tangan Yovela dan tersenyum manis."Baiklah jika itu yang kau mau, Bibi akan melakukannya."
Yovela pun tersenyum manis lalu mereka pun sarapan bersama.
Kembali lagi, kini Nyonya Marina sedang memarahi para pelayan yang sedari tadi sedang bekerja karena menurutnya para pelayan hanya menggosip saja dan tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.
__ADS_1
"Kalian ini bagaimana sih, lihatlah di meja ini banyak sekali debu. Apa kerja kalian setiap hari hanya menggosip saja hah!" Kesal Nyonya Marina.
"Maaf Nyonya, kami sudah membersihkannya saat pagi- pagi buta tadi." Ucap salah satu pelayan menjawab, sambil menundukkan kepalanya.
"Selalu saja membantah kalian ini, cepat bersihkan lagi."Titahnya dan melangkah pergi.
"Ya ampun nenek sihir masih jam segini sudah marah-marah saja."Ucap salah satu pelayan.
"Hus.. nanti kalau kedengaran olehnya kau bisa di pecat."Timpal pelayannya yang lainnya.
Namun bisik-bisikkan pelayan tersebut masih terdengar oleh Nyonya Marina, dia pun membalikkan badannya dan menghampiri pelayan tersebut dengan gaya angkuhnya.
"Kalian mengatakan apa tadi? Coba katakan lagi!" Menautkan kedua alisnya.
Tetapi para pelayan itu diam membisu mereka semua menundukkan kepalanya tidak ada satupun yang menjawab. Nyonya Marina menarik nafasnya dalam-dalam, jujur saja dia sangat emosi kepada pelayan yang ada di rumah ini.
"Kenapa kalian diam saja, ayo katakan saja."Tantangnya lagi.
"Nenek sihir."
__ADS_1