Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

Kini Yesika telah sampai di rumahnya lalu dia pun meminta tolong kepada kepala pelayan agar membawa semua belanjaannya.


Yesika masuk ke dalam rumah dan dia menuku dapur untuk mengambil segelas air putih dingin dari dalam kulkas, mengambil gelas lalu menuju ke kulkas dan membuka lalu mengambil air minum. Yesika pun meneguk air putih itu sampai habis lalu meletakkan kembali gelas di meja.


Saat membalikkan badannya dia pun terkejut karena Arka sudah berdiri di depannya dengan tatapan sinisnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu."Ketus Yesika.


"Kau terlalu percaya diri."Tersenyum dingin."Suatu saat nanti aku akan tahu siapa dirimu sebenarnya, dan jika hari itu tiba maka aku akan bertepuk tangan lalu merayakan kebahagiaanku."Berbisik di telinganya.


Yesika mendengus kesal dia tidak melawannya, melainkan meninggalkannya di dapur, sedangkan Arka hanya tersenyum dingin menatap Yesika.


"Siapapun dirimu, aku tidak peduli karena seluruh harta Barata akan menjadi milikku."Gumamnya.


Yesika menuju ke kamarnya dia merebahkan tubuhnya lalu pikirannya teringat wanita paruh baya yang dia temui di supermarket tadi, entah kenapa ada perasaan yang familiar baginya dan juga rasa nyaman saat dia mengusap lembut tangannya.

__ADS_1


"Sebenarnya dia siapa, kenapa dia begitu bersikap lembut. Seolah seperti ibuku." Ucapnya sambil menatap langit-langit kamar.


Bukan memikirkan hal yang tadi Yesika pun terlelap di atas ranjang miliknya.


Di tempat yang jauh dan berbeda seorang wanita paruh baya terlihat begitu bahagia senyum manisnya pun tidak pernah luntur dari sudut bibirnya. Mobil pun sampai di rumah mewah, lalu supir membukakan pintu mobil untuknya kedatangannya hanya di sambut oleh kepala pelayan saja tanpa ada anak, suami ataupun yang lainnya.


"Nyonya sepertinya suasana hati Anda sedang bahagia, apakah terjadi sesuatu?"Tanya kepala pelayan sekaligus asistennya.


"Iya aku sangat bahagia Pak Zhang, hari ini.... lebih baik kita masuk dulu."Melangkah lebih dulu.


"Begini pak Zhang, tadi tidak sengaja aku bertemu dengannya. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga baik pak."Tutur wanita paruh baya itu, pikirannya terus mengulang kejadian tadi.


"Benarkah Nyonya? Apa dia tahu jika Nyonya adalah...."Ucapannya menggantung.


"Belum. Tetapi suatu saat nanti dia pasti akan tahu siapa aku sebenarnya pak, untuk sekarang biarlah mengalir seperti air dulu." Menatap lurus ke depan."Tetapi kau harus selalu menjaganya pak, jika dia dalam bahaya."Tutur wanita itu menatap pak Zhang.

__ADS_1


"Nyonya tenang saja, saya akan berusaha menjaga kedua Nona kecil."Membungkuk hormat.


"Bagaimana dengan yang satu lagi? Apakah keadaannya baik-baik saja?"


"Iya Nyonya semuanya baik-baik, sepertinya kedua Nona kecil sangat menikmati peran mereka saat ini Nyonya."


Wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan menganggukkan kepalanya lalu menyuruh kepala pelayan Zhang pergi. Karena dia akan istirahat, kepala pelayan Zhang mengerti lalu dia segera berpamitan.


"Baiklah pak Zhang, untuk hari ini cukup tetapi kau masih harus terus mengawasinya, kau boleh kembali pak."Ucapnya dengan sopan.


"Terima kasih Nyonya, kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya."


"Iya pak silahkan."


Kepala pelayan itu pun meninggalkan wanita paruh baya itu, dia pun bersandar pada sofa akibat kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2