
"Kau.... kenapa bisa kakakku menangis di saat seperti ini! Apa sebenarnya yang kau lakukan pada kakakku." Ucap Yesika mengerutkan keningnya.
"Aku....." ucapan Sinchen tertahan saat Yovela keluar dari dalam kamarnya.
"Kalian sedang apa di sini!" Ucap Yovela terkejut.
"Kak ada apa denganmu? Apakah mereka berdua menyakitimu?"Tanya Yesika yang menggenggam tangan Yovela.
Yovela menatap Yesika sesaat lalu dia pun tersenyum hangat kepadanya." Maaf membuatmu khawatir, aku teringat ponselku yang ada di kamar jadi aku sedikit berlari."
"Benarkah? Apa kau membohongiku kak?" Yesika menyipitkan matanya.
"Tidak Sika, ini ponsel kakak." Mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.
Yesika pun tersenyum melihatnya dan dugaan dia selama ini pun salah jika kakaknya tidak bahagia bersama Sinchen.
***
Siang ini di cafe tempat biasa Yesika sedang menunggu seseorang karena ada hal yang penting yang ingin dia katakan padanya.
__ADS_1
Yesika sudah memesan minuman dingin capuccino sesekali dia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya. Tak lama seseorang pun yang di tunggu akhirnya datang juga lalu dia pun duduk berhadapan dengan Yesika.
"Maaf membuatmu menunggu." Ujarnya langsung duduk.
"Tidak apa- apa kakak ipar." Ucap Yesika datar.
Yesika harus bisa melepaskan Sinchen walaupun dia mulai menyukainya karena kebahagian Yovela sangat penting baginya.
Sinchen menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
"Sika, aku tahu kau sedang menjaga jarak denganku, tetapi tetap saja perasaanku ini tidak bisa bohong karena aku sangat mencintaimu Sika." Menggenggam erat tangan Yesika.
Yesika terkejut dengan cepat dia melepaskan tangan Sinchen, karena Yesika tidak ingin ada yang melihatnya dan dia tidak mau Yovela salah paham kepadanya.
"Sika, aku mohon jangan membohongi hatimu." Ucap Sinchen menatap Yesika.
Yesika bangun dari duduknya." Cukup Sinchen, kau jangan pernah menyakiti kakakku. Lupakan perasaanmu itu padaku karena aku juga akan melupakanmu."
Yesika melangkahkan kakinya meninggalkan Sinchen yang terus menatapnya, hati Sinchen saat ini benar- benar kacau. Entahlah apakah dia harus jujur kepada Yovela, jika hatinya sudah di miliki oleh orang lain dan apa yang akan terjadi jika Yovela mengetahuinya.
__ADS_1
***
Wanita paruh baya sedang berbelanja di supermarket saat sedang memasukkan barang belanjaannya ke dalam troli, tidak sengaja tangannya menyenggol kardus yang sudah di susun rapi sehingga kardus tersebut pun berantakan dan jatuh ke lantai.
Wanita paruh baya itupun segera mengambil dan menyusunnya kembali, lalu ada tangan seseorang yang mencoba membantunya.
"Bibi, biar aku bantu." Ucap seseorang itu dengan tersenyum manis.
Wanita paruh baya itupun terkejut saat melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau...."
"Iya bibi, ini aku orang yang pernah bertemu sebelumnya denganmu." Jawabnya lagi.
"Akh iya kau benar nak." Ucapnya dengan tersenyum kikuk.
Seseorang itupun melihat ke arah troli wanita paruh baya itu." Apa kau sedang berbelanja bi, apakah aku bisa membantumu."
Wanita paruh baya itupun menatap dalam kearah seseorang itu dengan tatapan yang sulit di artikan, matanya mulai berkaca-kaca menatapnya sehingga membuat seseorang itu menjadi serba salah.
__ADS_1
"Bibi, kenapa kau menangis? Apa aku berbuat salah kepadamu?" Tanya nya lagi.
"Akh tidak nak, bibi hanya teringat seseorang yang jauh di sana." Ucapnya dengan memalingkan wajahnya.