
Hari telah berganti hari juga bulan pun telah berganti tidak terasa kini pasang dia insan yang akan melangsungkan pernikahan pun telah siap dengan gaun yang dia pakai.
Selesai di make up penata rias pun serera keluar dari ruangan itu, lalu di ambang pintu ada seseorang yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Kau sangat cantik adikku." puji Yovela.
Yesika pun tersenyum manis menatap sang kakak dari pantulan kaca meja rias."Terima kasih kakakku sayang, kau juga cantik."
"Tentu saja, karena aku kakakmu." ucapnya dengan percaya diri.
Lalu Nyonya Nesya pun segera menghampiri keduanya karena pendeta sudah siap dan akan melangsungkan janji pernikahan.
"Sudah cepat pendeta sudah datang,"
"Baik bu."
Mereka bertiga pun berjalan keluar dari kamar menuju gereja dan para tamu undangan pun telah berdatangan untuk melihat acara pernikahan Yesika dan Reza.
Mereka pun memulai acara yang sakral itu dengan khidmat dan satu tarik kan nafas saja dan tamu undangan pun saling bertepuk tangan karena meraka susah dah menjadi sepasang suami-istri .
__ADS_1
Acara demi acara telah mereka lewati bersama dan tidak terasa hari sudah semakin malam lalu Yovela dan Sinchen segera berpamitan untuk pulng karena hari sudah semakin malam saja, begitu juga dengan tuan Raul, Nyonya Nesya serta yang lainnya juga ikut berpamitan untuk pulang.
"Suka, ibu pulang dulu ya." ucap Nyonya Nesya lalu memeluk Yesika.
"Kenapa begitu cepat sekali, apkah ibu tidak ingin menginap saja." ujar Yesika dengan manja.
"Kau ini sudah punya suami, masa mama harus menginap yang benar saja." Celetuk Yovela.
"Kak, kenapa kau tega padaku sih, aku hanya menawarkannya saja." kesal Yesika.
Yovela pun mengangkat kedua baju sambil menarik lengan Sinchen untuk pulang, sementara Yesika terlihat cemberut saat kakaknya pergi begitu saja, lalu tuan Raul mendekatinya dan mengusap pelan baju Yesika.
"Sudahlah kakakmu memang begitu, kau tidak perlu memikirkannya." ucap Tuan Raul.
"Iya sudah papa pulang dulu, berbahagialah bersama suamimu. Dengarkan ucapannya dan patuhlah padanya." ujar tuan Raul panjang lebar.
"Tentu papa." sahut Yesika tetsenyum manis.
Tuan Raul pun segera pulng bersama istri juga nenek Sasmita, setelah kepergian mereka kini tinggallah Yesika dan Reza yang saling malu-malu. Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun keduanya saling terdiam sejenak.
__ADS_1
Lalu Reza pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Yesika. "Kau mandilah saja lebih dulu."
"Hah! Aku.... Mmm baiklah."jawab Yesika yang ragu tetapi dia pun pergi ke kamar mandi.
Sementara Reza dia pun bingung harus melakukan apa sambil menunggu Yesika selesai mandi, rasanya detak jantung berpacu lebih cepat dari biasanya.
" Ya tuhan jangan seperti ini, jantung jangan membuatku malu seperti ini."ucapnya sambil memegang jantungnya yang berdetak kencang.
Beberapa menit kemudian Yesika telah selesai dengan ritual mandinya lalu dia pun memakai pakaiannya, setelah selesai berpakaian dia pun menoleh ke arah Reza yang sedari tadi gelisah terus.
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit? " Tanya Yesika memastikan.
"Tidak apa-apa, aku baik- baik saja." ucapnya datar."Ehm... kalau begitu sebaiknya aku mandi saja."Bangun dari duduknya.
Yesika hanya bisa mengnggukkan kepalanya dengan setia dia menunggu Reza selesai mandi, beberapa menit kemudian Reza pun telah selesai dengan mandinya lalu dia pun segera berpakaian.
Yesika sedang bersandar di ranjangnya sambil memainkan ponselnya sesekali dia tersenyum menatap foto pernikahannya dengan Reza. Reza pun ikut menaiki ranjang dan duduk di sebelah Yesika.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Reza bingung.
__ADS_1
"Aku sedang melihat foto pernikahan kita, dan aku tidak pernah berfikir jika kita sudah menikah malam ini." jawab Yesika dengan raut wajah bahagianya.
Reza tersenyum kecil menatap Yesika lalu dia beralih menatap bibir mungil Yesika, Reza tidak tahan lagi lalu di mengambil ponsel Yesika dan menaruhnya di nakas. Dengan segera Reza melahap bibir mungil Yesika dengan penuh gairah.