Twins Yovela & Yesika

Twins Yovela & Yesika
Bab


__ADS_3

“Papa jangan membuat Vela khawatir pa.” Ucapnya lagi.


“Papa hanya teringat dengan Mamamu, dia orang yang sangat baik dan selalu peduli dengan orang lain.” Jawab Tuan Raul, kini membelai lembut pipi Yesika.


Yesika yang merasakan sentuhan lembut dari sosok yang dia rindukan selama ini akhirnya terbayar juga, karena dari dulu dia tidak pernah tahu jika dirinya masih memiliki ayah kandung yang begitu baik kepadanya.


“Papa jangan sedih lagi, Mama pasti bahagia di surga. Tuhan pasti akan menjaga Mama, jadi Papa jangan khawatir lagi.” Memegang tangan Tuan Raul.


“Iya sayang, sepertinya hari sudah semakin sore. Ayo pulang sebentar lagi pengacara akan datang ke rumah.”


“Iya Papa.”


Mereka pun keluar dari ruangan setelah pekerjaan selesai, lalu menuju pintu lift dan masuk. Tak lama pintu lift terbuka mereka pun menuju lobi menunggu supir pribadi menjemputnya. Tak lama mobil pun datang lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil itu.


Mobil telah sampai di kediaman Barata lalu Yesika keluar bersama dengan Tuan Raul mereka selalu tersenyum bahagia lalu kedatangan mereka di sambut oleh Nenek Sasmita yang sudah menunggunya sedari tadi.


“Kalian sudah pulang.” Ucap Nenek Sasmita yang tersenyum bahagia.


Yesika mengalihkan pandangannya dan menghampiri nenek Sasmita lalu memeluknya.” Nenek, Vela merindukan nenek.”


“Dasar cucuku ini setiap hari kita bertemu masih saja kau merindukanku.”Membalas pelukkan Yesika.”Raul, nanti akan ada pengacara datang dan mengurus semua aset milik Nesya.” Menatap Tuan Raul yang kini duduk di sofa.


“Iya ibu, aku yang meneleponnya agar segera mengurusnya. Agar tidak ada yang mengganjal di hatiku Bu.” Ucap Tuan Raul yang bersandar di sofa.


Nenek Sasmita m, tuan Raul dan Yesika tidak sadar jika ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka, lalu dia pun tersenyum dingin dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.


Heh! Tidak secepat itu sayang!.Batinnya.


Lalu dia pun menuju kamarnya di sana sudah ada dua pria yang sedang menunggunya sedari tadi.


“Kak kau harus telepon pengacara itu, buat dia tidak datang ke rumah ini.” Ucapnya dengan menggebu-gebu.


“Memangnya ada apa? Pengacara? Apa maksudnya?” Ucapnya dengan bingung.


“Astaga kakakku ini benar-benar bodoh, si tua itu mengatakan jika akan ada pengacara yang mengurus semuanya. Maka aku dan Arka tidak akan mendapatkan apapun kak!” Menepuk keningnya, karena melihat kebodohan sang kakak.


“Kau benar ibu, ini tidak boleh terjadi jika semua sudah di alihkan kepada Vela, maka kita akan jadi miskin lagi Bu. Aku tidak mau!” Tolak Arka.


“Bukan kau saja, ibu juga tidak mau menjadi miskin.”


Dia adalah Nyonya Marina, Arka, dan paman Samuel. Mereka berdua menunggu pendapat dari Paman Samuel, Paman Samuel menatap keduanya yang begitu serius lalu paman Samuel menjentikkan jari tangannya agar mereka berdua sadar.


“Kenapa kalian menatapku?” Ujar Paman Samuel yang tidak suka di tatap seperti itu.


“Kak kau sudah mendapatkan idenya? Cepat kak sebelum semuanya terlambat!” Kesal Nyonya Marina.

__ADS_1


“Sabarlah, aku sudah mengaturnya dan aku pastikan jika pengacara itu tidak akan pernah datang kerumah ini.” Tersenyum dingin.


“Benarkah kak? Kau serius kak?” Tanya Nyonya Marina.


“Tentu saja.”


Malam semakin larut tetapi pengacara keluarga belum juga datang, Yesika yang sedari tadi duduk pun mulai gelisah kenapa pengacaranya belum datang juga. Begitu juga dengan nenek Sasmita dan Tuan Raul yang terlihat khawatir.


“Raul, kapan dia akan datang ini sudah malam dan belum datang juga.” Ucap nenek Sasmita.


“Aku tidak tahu ibu, dia hanya mengatakan jika dia akan datang ke rumah ini.” Tutur Tuan Raul.


Kenapa belum datang juga ya, pasti terjadi sesuatu. Batin Yesika.


Lalu dia pun bangun dari duduknya setelah berpamitan kepada nenek Sasmita dan Tuan Raul.


“Pa, Nek, aku ke kamar dulu ya.”Pamit Yesika.


“Iya sayang.”


Sesampainya di kamar Yesika pun mencari jaket, kacamata, dan masker lalu dia keluar dari jendela seperti maling, setelah pintu kamarnya di kunci dan Yesika pun mengeluarkan tali lalu perlahan-lahan dia pun merosot ke bawah mengunakan tali.


Sementara di tempat berbeda Yovela sedang duduk di depan rumahnya sambil menatap cahaya bulan di malam hari, sekilas dia teringat tentang Tuan Raul dan nenek Sasmita ada rasa rindu di hatinya ingin bertemu dengan Nenek dan juga Ayah tercinta.


Bi Rahma yang melihat itupun segera menghampiri Yovela dan duduk di sampingnya. Lalu menepuk pelan bahu Yovela dan Yovela menoleh lalu tersenyum.


“Aku rindu Papa dan Nenek, Bi.”Jawab Yovela tersenyum getir.


Bi Rahma menarik nafasnya lalu dia menatap lurus ke depan.”Nona, percayalah jika Non Sika pasti bisa menghadapinya dan keluarga Nona akan kembali seperti dulu lagi.”


Yovela tersenyum dan menggenggam tangan Bi Rahma.


“Iya Bi, aku percaya Sika pasti bisa melewatinya dan bisa melewati setiap masalah yang dia hadapi saat ini.” Tutur Yovela tersenyum.


Yovela pun menaruh kepalanya di pundak Bi Rahma karena bi Rahma orang yang baik dan penuh kelembutan juga sikapnya yang keibuan membuat Yovela merasa nyaman.


“Nona jangan khawatir lagi ya, bibi tahu betul bagaimana sikap Non Sika sedari kecil.”


“Iya Bi.”


Saat mereka sedang asyik bertukar cerita lalu datanglah seorang gadis cantik dengan memakai jaket juga kacamata dan masker, menghampiri Bi Rahma dan Yovela membuat keduanya terkejut.


“Eh kau siapa?”Tanya Yovela.


Bi Rahma pun sempat panik dan dia bangun dari duduknya, tetapi orang itu langsung menarik tangan Bi Rahma ke dalam rumahnya dan di ikuti oleh Yovela.

__ADS_1


“Ssstt ibu ini aku, Sika.” Membuka maskernya.


“Nona...”


“Sika...”Yovela terkejut dan dia mengerutkan keningnya.”Kenapa kau kemari?”


“Kak, aku butuh bantuanmu! Pengacara akan datang ke rumah tetapi sampai sekarang belum datang juga kak. Apa kau tahu dimana dia?” Tanya Yesika langsung.


“Maksudmu Papa, akan menyerahkan semuanya?”


“Iya kak, apa kau ingin kembali ke rumah? Jika iya, Mak tunggulah sampai pengacara itu di temukan. Aku curiga ini ada hubungannya dengan nenek lampir itu.” Ujar Yesika.


Bi Rahma hanya mendengarkan saja dia pun tidak tahu permasalahannya seperti apa, lalu Yovela mengusap lembut tangan Yesika.


“Sika, jangan berpikir seperti itu, belum tentu bibi Marina yang melakukannya.” Ucap Yovela tersenyum manis.


“Kak, apa kau begitu yakin kepada Bibi Marina? Aku curiga kak?” Ucap Yesika yang begitu khawatir.”Mungkin sekarang aku belum menemukan buktinya, tetapi suatu saat nanti aku pasti akan menemukannya.”


“Sika, mungkin pengacara itu terlambat, atau mungkin macet di perjalanan.”Ujar Yovela, agar Yesika berpikir positif.


Iya sudah kak, aku akan meminta bantuan temanku.” Jawab Yesika bangun dari duduk.”Ibu, aku pergi dulu ya. Tolong jaga kakak ya.”Mencium punggung tangan Bi Rahma.


Yesika bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya, tetapi tangannya di cekal oleh Yovela dengan tatapan memohonnya. Yesika tersenyum manis dan melepaskan tangan Yovela.


“Kau tenang saja kak, aku pasti bisa menjaga diriku sendiri.”Tersenyum manis.


“Sika, bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu tetapi saat kita bertemu kau malah mendapat masalah yang begitu rumit, dan kau harus berjuang sendiri tanpa aku!”Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Sebenarnya Yesika pun merasakan hal yang sama seperti Yovela saat ini tetapi dia mencoba untuk tetap tenang menghadapinya. Yesika pun memeluk erat Yovela dan Bi Rahma yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dan dia pun meneteskan air matanya lalu mengusapnya dengan kasar.


Sepersekian detik kemudian Yesika pun melepaskan pelukkannya dan dia beralih menatap Bi Rahma dan memeluknya.


“Nona, tenang saja Bibi akan menjaga Nona Vela.” Mengusap lembut rambut Yesika.


“Iya Bu, Sika percaya ibu pasti bisa menjaga kakak.” Melepaskan pelukkannya.


Yesika menarik nafas dalam dan tersenyum lalu sebelum pergi dia mengatakan sesuatu yang membuat Yovela tersenyum.


“Aku sayang kakak, kau tenang saja aku dan temanku pasti akan menemukan pengacara itu.” Ucapnya, lalu memakai masker lagi.


Yesika melangkah keluar dari rumah Bi Rahma, lalu Yovela menatap punggung Yesika yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


Yesika telah sampai di tempat biasanya dan di sana sudah ada Reza dan teman yang lainnya. Lalu Reza pun menghampiri Yesika dengan perasaan yang rindu akan sosok Yesika yang pemberani dan pantang menyerah, Reza dan yang lainnya sudah tahu jika Yesika adalah anak dari Tuan Raul yang terkenal itu.


“Sika... Apa kau baik-baik saja.”Tanya Reza yang tersenyum.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja kak. Bagaimana kak apa yang lainnya sudah siap?”Tanya Yesika menatap sekelilingnya.


“Sudah Sika, ayo kita pergi sekarang.” Ucap Reza yang telah berjalan lebih dulu.


__ADS_2