
"Itu...." Dengan cepat Arka memotong ucapan Yesika.
"Ini mobilku, kenapa Nek ada yangsalaha dengan mobilku?" Tanya Arka dengan angkuhnya.
"Siapa yang akan membayarnya, kau sesuka hati tanpa mengatakannya kepada Vela." Ucap nenek Sasmita.
"Ibu sudahlah, Arka juga punya hak untuk membeli mobil baru. Tidak perlu meminta persetujuan dari Vela." Jawab Nyonya Marina yang tidak terima.
Tuan Raul menggelengkan kepalanya menatap Nyonya Marina dan Arka yang nekad membeli mobil mewah itu, bukan karena mewah tetapi harga mobil itu sangatlah mahal hingga ratusan juta.
"Marina, di garasi mobil masih ada mobil mewah kenapa kau membeli lagi. Dan lagi pula harganya pasti sangat mahal." Ucap Tuan Raul secara baik-baik.
"Papa sayang ini untuk anak kita juga 'kan, atau kau memang sengaja dari awal tidak menyukai Arka dan kau menganggap Arka sebagai anak tirimu." Cecar Nyonya Marina.
"Tidak Marina bukan seperti itu, sekarang kau tahu 'kan jika seluruh aset dan yang lainnya milik Vela. Seharusnya kau bilang padanya jika ingin membeli sesuatu, dan ibu sudah mengingatkanmu Marina."
"Sudah sudah... aku pusing mendengarnya, sekarang Vela kau bayar tagihannya karena ini mobil anakku karena kau yang memiliki seluruh harta ini."
__ADS_1
Dengan cepat nenek Sasmita menolaknya." Enak saja kau menyuruh cucuku yang membayarnya, kau saja yang membayarnya."
Nyonya Marina menarik nafas dalam.
"Bu kau tahu 'kan jika Arka tidak mendapatkan bagiannya. Bahkan suamiku tidak membelanya." Menatap sinis Tuan Raul.
"Tidak bisa Marina, Vela tidak akan pernah membayarnya." Ucap nenek Sasmita dengan wajah kesalnya.
Yesika menarik nafasnya dalam-dalam entah ada motif apa sampai Arka tetap mempertahankan mobil itu. Tuan Raul pun membuka suaranya dan mengatakan jika dia yang akan membayarnya dan tentu saja membuat nenek Sasmita serta Yesika membulatkan matanya.
"Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi, aku yang akan membayarnya." Ucap Tuan Raul."Arka, Papa akan membayarnya." Lalu meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam.
"Nenek sudahlah, biarkan Papa sendiri dulu nanti setelah tenang nenek baru bicarakan lagi dengan Papa. Ayo lebih baik masuk ke dalam saja." Ajak Yesika.
Sementara Arka bersama Nyonya Marina tersenyum penuh kemenangan dan paman Samuel hanya menatap datar ibu dan anak itu.
"Paman lihatlah aku juga bisa memiliknya." Ucapnya dengan sombong.
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu kau buat saja Vela membayar seluruh hutangmu." Ucapnya datar.
"Kakak kenapa kau begitu, seharusnya kau bangga pada Arka sedikit demi sedikit akan terkuras habis lalu menjadi milik kita." Jawab Nyonya Marina, yang tidak suka dengan jawaban paman Samuel.
"Terserah kau saja."
Paman Samuel melangkah masuk ke dalam rumah dia malas berdebat dengan Arka yang selalu bertentangan dengannya dan tidak pernah sepemikiran dengannya.
Sementara di kamar kini Yesika sudah mandi dan berganti pakaian lalu dia membuka pintu dan menuruni anak tangga, langkah kakinya mengarah ke meja makan dan di sana sudah ada Tuan Raul, Nyonya Marina, dan juga Arka tetapi nenek Sasmita tidak ada mungkinkah masih kesal kepada Tuan Raul?
Lalu Yesika pun duduk di kursi dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dia tunggu tetapi belum datang juga.
"Papa.. nenek tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Yesika yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
"Mungkin nenekmu masih kesal kepada Papa, tetapi Papa akan mencoba membujuknya dan membawakan makanan untuknya." Tutur Tuan Raul yang sedang memakan makanannya.
"Lebih baik aku saja Papa, aku akan mengantarkannya." Ujar Yesika yang mulai menyendokkan makanan.
__ADS_1
Tuan Raul menganggukkan kepalanya sementara Nyonya Marina dan Arka mereka hanya acuh saja dan lebih memilih mmenghbiskan makanannya.