
Yovela tersenyum dingin lalu menarik tangannya kembali" Heh! Sungguh naif sekali kau, Sinchen kau tidak perlu melakukan ini hanya untuk menghiburku. Sungguh aku tidak apa- apa jika kau mencintai Sika itu wajar, karena orang yang menemanimu selama ini adalah dia."
"Vela, sudah cukup jangan mengatakan orang lain lagi lebih baik fokus pada pernikahan kita saja." Ucap Sinchen, lalu dia mengecup kening Yovela."Sudahlah, aku akan kembali bekerja."
Yovela terdiam saat Sinchen mengecup keningnya Yovela terkejut dengan perlakukan Sinchen kepadanya. Dari jauh seseorang memperhatikanya ada rasa bahagia dan ada rasa sedih juga, tetapi itulah keputusannya saat ini.
"Semoga kau bahagia." Gumamnya.
****
Keesokkan paginya bi Rahma sudah membawa seikat bunga mawar merah dan juga coklat untuk Yovela, bi Rahma pun mengantarkan bunga dan coklat itu ke kamar Yovela.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk saja tidak di kunci." Ucap seseorang dari dalam.
Bi Rahma pun membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar Yovela dan memberikan pesanan itu kepadanya.
"Non, ini dari Tuan Sinchen untuk non Vela." Ucap bi Rahma sopan.
"Ya ampun bi, tidak perlu seperti aku sudah menganggap bi Rahma sebagai ibuku sendri." Yovela bangun dari duduknya."Makasih ya bi Rahma, maaf merepotkan bi Rahma."Mengambil bunga dan coklat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa non, bibi senang kok." Sahut bi Rahma."Bibi kembali ke dapur ya." Pamit bi Rahma.
"Iya bi silahkan." Jawab Yovela sopan.
Bi Rahma pun ke dapur, lalu Yovela menaruh bunga dan coklat itu di meja kecil. Tak lama pintu kamar mandi terbuka lalu keluarlah Yesika yang telah selesai dengan ritual mandinya.
Matanya tidak sengaja menatap ke arah meja kecil di samping Yovela di sana ada coklat dan bunga lalu Yesika bertanya kepada Yovela.
"Cie... Kakakku dapat bunga dan coklat dari kakak ipar." Goda Yesika dengan mencolek dagu Yovela.
"Haish... Adikku ini selalu saja menggodaku, tetapi apa yang kau katakan kepada Sinchen sampai dia mau menikah denganku?" Tanya Yovela.
"Itu dulu adikku sayang, sekarang kau sudah menjadi seorang wanita yang baik hati dan juga cantik."Sahut Yovela lalu mencubit hidung Yesika.
"Kakak jangan mencubit hidungku." Ucap Yesika yang mengusal hidung merahnya.
"Hidungmu lucu merah seperti tomat."
"Sudahlah jangan menggodaku lagi, ayo cepat keluar dari kamar ini pasti nenek dan papa menunggu kita." Ucap Yesika mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah."
__ADS_1
Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar dan sarapan bersama.
***
"Nesya kau jangan gegabah seperti itu." Ucap pria paruh baya.
"Ayah, sudah bertahun- tahun aku meninggalkan mereka. Apa aku salah jika ingin bertemu mereka." Ucapnya dengan air mata yang mentes.
"Bukan seperti itu nak, ayah tidak ingin kau kecewa lagi jika bukan karena pria tengil itu. Sudah ayah lempar dia ke kutub utara." Ucapnya dengan kesal.
"Sudahlah ayah, bukankah kau juga merindukan dia?" Godanya lagi.
"Siapa bilang? Aku tidak pernah merindukannya." Ucapnya dengan gengsi.
"Hahaha... Ayah mulutmu selalu berkata bohong, tetapi hatimu selalu berkata iya." Ucapnya dengan tertawa."Tetapi ayah mau sampai kapan kita akan bersembunyi? Aku sangat merindukan mereka ayah." Memasang wajah sedih.
"Haish.... Aku benar- benar tidak bisa menolakmu." Ucapnya dengan menggelengkan kepalanya." Mungkin secepatnya." Ujarnya lagi.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Tuan James adalah ayah dari Nesya James karena suatu masalah yang sulit di pecahkan mereka pun memilih untuk bersembunyi selama bertahun- tahun dan tidak pernah muncul di kehidupan keluarga yang sebenarnya.
__ADS_1