Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Curiga --- Part 1


__ADS_3

("Halo Nay, bagaimana denganku? Kamu membiarkanku berada di suatu tempat yang tidak kukenal dan aku tak tau harus apa di sini. Kamu sedang sibuk apa, sih?") Kai Fletcher bertanya kepada Nay dari panggilan telepon pada suatu siang.


"Sudah kukatakan kepadamu, Kai. Bersenang-senanglah dan anggap saja ini seperti bonus akhir tahun dariku. Ajak keluargamu or maybe your crush," balas Nay sambil mengemudikan mobil barunya.


("Memangnya ada apa di kantor sampai kamu menyembunyikanku? Aku seperti seorang penjahat,") kata Kai lagi.


Nay dapat mendengar dengan jelas suara seru ombak dari seberang. "Tidak usah dipikirkan, Kai. Aku akan mengirimkan tiket kepadamu jika suasana di sini sudah kondusif. Sudah yah, aku sedang berada di jalan. Have fun and bye,"


("Nay! Nay! Haizzh!") Kai menatap kecewa layar ponselnya. Dia tidak tau apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Mengapa Kanaya bertingkah laku aneh seperti ini?


Dengan segala kenekatan dan sisa keberanian yang tersisa di dalam dirinya, Kai pun mengepak barang-barang dan mempersiapkan kepulangannya ke Kota Metropolitan.


Sementara itu, Nay yang sudah memahami sifat Kai mempersiapkan kedatangan kawannya yang mungkin akan datang tanpa terduga.


"Bagaimana kondisi kantor? Sudah aman?" tanya Nay kepada orang suruhannya.


"Sudah, Nona Rivers," jawab pria itu.


Nay mengangguk. "Baiklah, Kai Fletcher mungkin akan datang hari ini, paling lambat esok hari. Aku mau kamu membersihkan namanya sama seperti kalian membersihkan namaku. Anggap saja tidak ada rumor apa pun yang terjadi antara aku dengan dia. Paham?"


Pria itu mengacungkan ibu jarinya yang sedikit gempal. "Paham, Nona. Siap, laksanakan,"


"Bagus!" balas Kanaya, dia pun bergegas pergi.


Luke yang sudah menunggu di mobil Nay siang itu, terlihat bingung melihat kekasih hatinya berbicara dengan seorang pria misterius. Dia pun menanyakan siapa pria itu kepada Nay. "Siapa itu, Sayang?"


"Anak buahku, dan mau kemana kita hari ini?" tanya Nay cepat.


Pria yang kini duduk di belakang kemudi itu pun kembali dikejutkan dengan perubahan sikap keponakannya yang cukup drastis. "Aku tidak punya rencana kemana-mana. Apa apa denganmu, Nay?"


"Paman, maafkan aku tapi sepertinya aku harus pergi ke suatu tempat," ucap Nay.


"Besok kita tidak bisa bertemu karena aku sudah berjanji dengan Alma untuk menemaninya," sahut Luke. Pria itu terdengar kecewa.


Namun begitu dia melihat raut wajah serius pada keponakannya, dia mengurungkan niat untuk memaksa Nay untuk menghabiskan waktu bersamanya.


"Aku besok akan menemui Felix North, entah pria macam apa yang ingin ayahku jodohkan kepadaku. Aku hanya tertarik kepadamu, tidak dengan siapa-siapa," ujar Nay tanpa ekspresi. Ucapannya berhasil membuat Paman Luke tersipu dan tak tahan dengan sikap acuh Nay, dia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan memagutnya dengan panas.


Kanaya segera membalas pagutan pamannya yang dia sayangi itu dan melepaskannya begitu saja. "Aku harus pergi, Paman. Ada yang harus kulakukan. I love you," Wanita itu pun tak ragu mengusir paman Luke dari mobilnya.


Paman Luke mendengus. "Kanaya selalu saja membuatku penasaran," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Kai!" panggil Kanaya sambil melambaikan tangannya.


Pria yang disapa oleh Nay pun tampak acuh dan membuang mukanya.


"Sialan!" sahut Nay kasar.


"Aku butuh penjelasanmu bukan sambutanmu!" tukas Kai kesal sembari terus berjalan dan tidak mempedulikan Kanaya yang berlarian kecil di sampingnya.


Nay berjalan dengan cepat dan menghadang pria itu. "Kai! Kai! Dengarkan aku dulu!"


"Apa lagi yang perlu aku dengarkan?" tanya Kai menepis tangan Nay.


"Posisimu terancam, Kai. Karena pamanku mengadukan kita kepada ayahku," jawab Nay, percuma juga dia berbohong karena Kai akan lebih marah kepadanya kalau dia berbohong.


Kai menghentikan langkahnya. "Kenapa pamanmu harus mengadukan kita? Tidak mungkin 'kan dia cemburu kepadamu?"


Nay mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau. Seharusnya dia memang tidak perlu ikut campur dan aku juga sudah marah kepadanya, Kai!"


"Aneh sekali! Lalu, bagaimana nasibku?" tuntut Kai.


"Mulai besok kamu bisa masuk kerja kembali," jawab Kanaya dan dia pun menggelendot manja di lengan Kai yang kecil untuk ukuran seorang pria.


***


"Hei, masuklah," sahut Nay mempersilahkan Kai untuk masuk.


Kai membawakan segelas kopi untuk teman wanitanya itu. "Favoritmu dan maafkan aku soal kemarin. Aku galak kepadamu,"


Luke melihat tajam ke arah mereka berdua dari sudut matanya. "Ehem!"


Karena Nay tidak mau membuat Kai curiga, maka dia berusaha tidak mempedulikan tanda dari Luke.


"Kamu memang selalu galak dan marah-marah kepadaku, huh!" keluh Nay.


Baru saja Kai akan membalas, Luke menggaet tangan Nay dan menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Paman, sakit! Lepaskan aku!" Nay berusaha melepaskan cengkeraman tangan Luke.


"Kenapa pria itu datang lagi? Apa kamu mau membuatku cemburu? Tolong, jangan siksa aku, Nay," Paman Luke terus mendorong tubuh kecil Nay, sampai gadis itu terjatuh di kursi kerja pamannya.


Paman Luke segera meraup bibir merah yang merona itu. "Jangan dekati dia lagi, Nay,"

__ADS_1


Senyum manis terukir di wajah gadis penerus Rivers Group itu. "Aku senang kalau Paman cemburu padaku,"


Mereka pun melanjutkan pagutan panas mereka yang semakin dalam dan menuntut. "Andai saat ini kita tidak di kantor, aku tak akan menunda lebih lama untuk bermain denganmu, Nay,"


"Kalau begitu tunggu aku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Kai," jawab Kanaya sambil mengecup bibir pamannya yang selalu berhasil menggoda gadis itu.


Sementara Nay sedang asik dengan Luke di ruangannya, Kai menunggu mereka keluar dengan sabar. Namun, karena kesabaran Kai hanya sebatas kertas tissue yang terbelah dua, maka dia mulai mengendap-endap mendekati ruangan Tuan Wallace.


"Kenapa tidak ada suara? Untuk apa mereka berbisik-bisik?" tanya Kai bermonolog.


Dia memberanikan diri untuk menempelkan telinganya ke pintu ruangan Luke. Tak lama, pria itu kembali ke sofanya dengan penuh tanda tanya dan curiga.


Kecurigaan Kai ini semakin menjadi kala Nay dan Luke tampak sering datang dan pulang bersama-sama. Terkadang mereka berada di mobil dalam waktu yang lama. Sampai suatu hari, Kai yang penasaran pun mengikuti Kanaya dan pamannya saat mereka pulang kantor.


Betapa terkejutnya Kai saat menemukan kalau Nay dan Luke masuk ke dalam sebuah apartemen yang sama. Kai terus menunggu di depan apartemen mewah itu, tetapi kedua pasangan itu tak kunjung keluar. "Tidak mungkin, 'kan mereka, ...?"


Keesokan harinya, Kai meminta waktu Nay sebentar. "Nay, aku ingin berbicara denganmu," dengan kasar, laki-laki berparas manis itu menarik tangan mungil Kanaya.


"Apa-apaan sih, Kai! Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Nay sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kai.


"Aku tau ada yang aneh dengan Tuan Wallace dan kamu, Nay. Kalau sampai apa yang kupikirkan itu benar, kalian gila! Hentikan hubungan ini!" ucap Kai. Matanya menatap lekat mata hijau Nay.


Wajah Nay berkerut bingung. "Kamu ngomong apa sih, Kai? Kamu mabuk? Kenapa bisa berpikiran seperti itu! Gila kamu, Kai!" tukas Nay.


"Aku melihatmu dekat dengan Tuan Wallace. Kalian lama sekali berada di dalam mobil dan saat pamanmu memanggilmu ke ruangannya, sepintas aku mendengar suara cecapan. Apa itu, Nay?" tanya Kai menuntut.


Nay tampak berang. "Pikiranmu kotor, Kai! Kau pikir aku berbuat apa dengan pamanku? Dia pamanku sendiri! Apa yang kamu pikir aku lakukan dengannya? Apakah aku seburuk itu dimatamu, Kai?" air mata Nay mulai menggenang.


Kai terdiam. Laki-laki itu terpana melihat wanita yang dia cintai menangis karenanya. "Nay, aku tidak bermaksud menyakitimu, Nay. Maafkan aku,"


"Kamu dan pikiranmu yang membuatku menangis, Kai! Kamu jahat sekali!" isak Nay bersandiwara. "Apa sih yang membuatmu berpikiran jahat seperti itu? Benar-benar sinting sekali!" air mata gadis itu terus bercucuran membasahi kedua pipinya.


Kai menarik gadis mungil itu dalam pelukannya. "Aku minta maaf, Nay. Maafkan aku," ucapnya. Dia merasa tidak enak hati karena telah membuat Nay menangis. "Aku hanya takut dan mungkin aku sedikit cemburu,"


"Cemburu? Karena apa?" tanya Nay mengusap air matanya. Suara gadis itu masih terdengar terbata-bata.


"Karena aku mencintaimu, Nay dan aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain, mungkin termasuk pamanmu. Maafkan aku, Nay," jawab Kai sungguh-sungguh.


Kedua alis Nay saling bertautan. "Apa? Kamu mencintaiku?" tanya Nay tak percaya.


Kai mengangguk lemah. "Ya, aku mencintaimu, Kanaya Rivers,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2