
Tangisan Nay terdengar memenuhi seluruh kamarnya. Dia tidak mendengar suara ketukan pintu yang sedari tadi berbunyi. "Nay! Kanaya! Hei, kamu baik-baik saja? Buka pintunya, Nay atau aku akan mendobrak pintu ini! Nay! Woi!"
Nay membuka pintu kamarnya dengan mata bengkak dan memerah. "Bodoh! Kamu mau nangis sampai kapan? Sampai air matamu mengering atau sampai suaramu habis?"
Gadis itu terdiam saat melihat Kai mengomel kepadanya. Pundaknya turun naik, masih sesenggukan. Kai tak tahan dan menarik tubuh kecil Nay ke dalam dekapannya. "Menangislah sampai rasa sakit itu hilang, setelah itu lupakan dia," kata Kai pelan. "Kalau kamu berkenan, lihatlah aku, Nay," batin Kai dalam hati.
Segera saja, air mata Nay kembali tumpah di bahu Kai. Arti air matanya saat ini banyak sekali. Tidak hanya rasa sakit, tapi juga rasa sesak dan menyesal. Kenapa Luke baru mengatakan tentang perasaannya sesaat setelah Nay memutuskan untuk pergi? Andaikan dia mengatakan seharu sebelumnya, Nay akan rela menunggu pamannya itu untuk bercerai dari bibi Alma.
Setelah beberapa saat menangis, Kai mengajak Nay untuk makan. "Aku sudah memasak sesuatu untuk kita makan malam ini. Bersyukurlah aku ikut denganmu, karena kamu tidak mungkin mau keluar dengan kondisi seperti ini, 'kan?"
Kai memberikan semangkup sup hangat, roti bawang putih serta daging lapis panggang untuk Nay. "Makanlah yang banyak supaya kuat. Mengeluarkan air mata juga butuh tenaga dan energi,"
Nay yang masih sesenggukan, menyendok sup jagung hangat itu dan memasukannya ke dalam mulut. Rasa hangat dari sup itu membuat dirinya lebih tenang dan ringan. "That's good, Kai. Terima kasih untuk makanan dan bahumu,"
"Lain kali, aku akan membuatmu mengucapkan terima kasih untuk cintaku!" kata Kai memberengutkan bibirnya. "Selamat makan,"
Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk segera saja memenuhi ruangan itu. Selesai makan malam itu, Kai mengajak Nay untuk berjalan-jalan.
"No! Aku malas! Setelah makan itu tidak boleh bergerak ekstrim. Kita santai-santai saja di sini, Kai," ucap Nay menolak ajakan pria yang sudah bersiap untuk pergi itu.
"Jangan malas! Di sini pun, kamu akan menangis! Keluarlah, hirup dinginnya malam dan nikmati sinar bintang dan bulan. Ayo!" ajak Kai lagi. Kali ini dia menarik tangan Nay.
Raut wajah Nay mengeras. Gadis itu tetap bertahan di tempatnya. "Tidak! I'll stay! Lagipula sejak kapan bulan bersinar? Kamu tertipu, Kai! Bulan memantulkan cahaya dari matahari!"
"Mau memantulkan atau terpantul-pantul, aku tidak peduli! Temani aku! Ayo, Nay! Jangan jadi dewasa muda jompo!" paksa Kai sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Kanaya tau sikap keras kepala yang dimiliki oleh Kai. Dia akan terus mengoceh sampai keinginannya terpenuhi. "Baiklah! Tidak lebih dari 10 menit!"
Kai menyeringai lebar dan menggandeng tangan Nay. Mereka pun bergegas keluar dan siap menembus dinginnya malam.
"Di sini dingin," ucap Kai. "Kamu tidak memakai sarung tangan, bodoh sekali! Masukan tanganmu ke dalam kantung jaketku!" Kai menarik tangan Nay yang memerah dan memasukannya ke dalam kantung jaket yang dia kenakan.
"Kamu mengajakku untuk segera keluar. Sekarang, siapa yang bodoh? Lagipula, disini akan selalu dingin. Kita dekat dengan puncak pegunungan bersalju, Kai," jawab Nay yang sudah mulai hangat karena satu tangannya berada di tempat yang cukup hangat.
Selama mereka berjalan, Kai selalu mengajak Nay untuk terus berbicara tentang apa pun. Bahkan tentang hal sepele yang akan dipanjangkan oleh Kai. Dia tidak ingin Nay terus-terusan bersedih dan menangis karena Luke. Pria itu bertekad membuat Kanaya Rivers berpaling kepadanya.
Tanpa terasa, sepuluh menit telah berlalu. Mereka berdua tampak menikmati corndog yang dijual di pinggir jalan. "Tak kusangka, porsi makanku bertambah dua kali lipat saat ada kamu disini," sahut Nay sambil asik mengunyah corndognya.
"Hahahaha, artinya kamu bahagia bersamaku, Nay," jawab Kai penuh percaya diri.
Yang Kai lakukan hanyalah menjadi dirinya sendiri. Sebelum ini, mereka memang sudah dekat dan sering berjalan bersama. Tetapi kali ini, hubungan mereka semakin dekat. Saat ini Nay sedang terpuruk dan Kai berada di sisinya, siap untuk mendengarkan dan menghibur gadis kesayangannya itu.
"Nope! Aku tidak bisa mengantarmu. Ayahmu memintaku untuk stand by rapat lima menit lagi," tegas Kai. Dia memberikan telapak tangan kepada Nay sebagai tanda penolakan.
Wajah cantik Nay segera saja lenyap dan gadis itu memonyongkan bibirnya. "Ya sudah, aku tidak kuliah hari ini," kata Nay merajuk.
"Anak bodoh! Jalan sana! Kamu punya kaki, pergunakanlah dengan baik, Kanaya!" ucap Kai keras. Dia berdiri sambil berkacak pinggang.
Nay tidak bergeming dari sofa berwarna pinknya. "Katanya kamu mencintaiku, Kai! Buktikanlah! Paman Lu, ... Ke,"
"Ada apa dengan Paman Luke?" tanya Kai lembut, nada tingginya segera dia turunkan saat Nay tak sengaja mengucap nama Luke dan di kedua mata gadis itu, sudah menggenang barisan air mata yang siap meluncur. "Haish!"
__ADS_1
Tak hanya Kanaya yang sedang dilanda rindu. Otis pun merasakan kerinduan yang mendalam kepada anak gadisnya itu. "Andai saja Kai ada di sini, aku bisa berbicara dengannya dan mencurahkan isi hatiku,"
Karena itu, Otis mempunyai sebuah gagasan untuk memberitahukan kepada Kai kalau pagi ini mereka akan mengadakan rapat kerja. Namun, itu hanya alasan yang dia buat supaya dia bisa melihat wajah putrinya sebelum putrinya itu berangkat kuliah.
("Nay sudah jalan, baru saja jalan,") sahut Kai dengan santai saat Otis memanggilnya lewat aplikasi panggilan video antar negara.
Raut wajah Otis tampak sedih. "Aku terlambat, sayang sekali. Aku rindu padanya, Kai. Entah kenapa, saat aku melepas kepergiannya kali ini, hatiku resah dan aku tidak ingin dia pergi. Apa itu pertanda akan ada sesuatu yang buruk terjadi?"
("Jangan berpikiran buruk, Tuan Rivers. Bayangkanlah yang baik-baik saja,") ujar Kai kesal. Pria itu tidak suka kepada orang yang senang memelihara pikiran negatif di kepalanya. Kai menyebutnya sebagai 'Meracuni Diri Sendiri'.
"Keinginanku memang seperti itu, Kai. Tapi sulit sekali rasanya untuk berpikir positif di saat seperti ini," kata Otis jujur. "Aku merasa bersalah atas apa yang telah kulakukan kepada putriku sendiri. Aku memikirkan ucapanmu saat itu. Kamu benar, Fletcher. Kanaya adalah putriku, anakku, dan bukan seorang pemimpin perusahaan besar. Aku berhutang maaf kepadanya, ...."
Otis menutupi wajahnya dan mempause panggilan video mereka. Kai dapat mendengar suara isak tangis dari seberang. Kini, semua sudah terlambat. Kalimat yang sudah Otis lontarkan, tak bisa ditarik kembali. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa bersalah.
Di lain tempat, Luke mengalami hal serupa dengan Nay. Rindu yang tak bisa dia tahan, kini seperti ingin meledak dan menuntut untuk segera dikeluarkan.
Luke jadi senang melamun dan tatapannya kosong. Dia melupakan Alma dan Chloe. Tak jarang, Alma mendapati Luke menangis seorang diri.
"Sayang, is everything fine?" tanya Alma suatu hari. Betapa terkejutnya wanita itu, saat Luke memegang kedua tangannya dan bersimpuh di hadapannya sambil memohon.
"Aku mohon, maafkan aku. Aku merindukan seseorang yang seharusnya tidak boleh kurindukan. Aku minta maaf. Ini saat yang berat untukku," kata Luke. Dia tidak berani menatap mata istrinya dan terus menunduk.
Alma memejamkan kedua matanya dan mengatur perputaran oksigen di paru-parunya. "Berdirilah, Sayang. Peluklah aku,"
Bagai seorang anak kecil yang melakukan kesalahan, Luke pun berdiri dan memeluk Alma sambil menangis. "Maafkan aku, aku merindukannya,"
__ADS_1
......................