Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Ajari Aku Untuk Melupakanmu


__ADS_3

Selama beberapa hari ke depan, media cetak dan media elektronik masih ramai membicarakan pernikahan antara Kanaya Rivers dengan Felix North yang diakhiri dengan foto-foto serta video saat Nay melarikan diri saat mengumandangkan sumpah perkawinan.


Berkali-kali juga, Otis mengutus Kai untuk melakukan wawancara terkait berita tersebut. Sampai akhirnya, Otis memutuskan untuk melakukan konferensi pers. Dia mengundang seluruh wartawan untuk menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya.


"Selamat siang, teman-teman wartawan yang baik. Anggap saja kita sedang berbincang santai, yah, hahahaha," ucap Otis membuka jumpa pers siang itu. Otis sengaja beramah tamah kepada wartawan dengan menjamu mereka untuk makan siang bersama. Tentu saja ada embel-embel didalamnya. "Mengenai kejadian yang terjadi di hari pernikahan putri saya, itu sepenuhnya kesalahan saya. Saya yang memaksanya untuk menikah padahal putri saya sama sekali tidak mencintai Felix. Mereka hanya berteman baik. Tapi, karena keegoisan saya, maka pernikahan itu terjadi dan saat membaca sumpah perkawinan, putri saya takut dan akhirnya, seperti yang kalian lihat. Melalui konferensi pers saat ini, sekali lagi, saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga North dan kepada semua tamu undangan yang telah meluangkan waktunya untuk datang ke pernikahan putri saya itu. Saya juga sudah menyampaikan permohonan maaf saya secara pribadi kepada Felix dan kepada kedua orang tuanya mengenai masalah ini. Tentu saja Ini pasti membuat mereka malu tapi saya berharap silaturahmi diantara kami tidak putus begitu saja. Saya kira, itu saja yang saya dapat katakan dan saya tidak ingin ada berita yang simpang siur dan tidak jelas kebenarannya, maka dari itu, saya mengadakan pertemuan ini dengan harapan kalian dapat meluruskan berita yang telah beredar bahkan kalau perlu kalian tidak perlu memberitakan tentang pernikahan putri saya lagi, hahahaha." kata Otis mengakhiri pidatonya.


Otis Rivers terkenal sebagai teman dekat para wartawan karena Otis rajin sekali menjamu serta mengundang mereka ke berbagai acara yang dia adakan. Karena itu, tidak sulit bagi Otis untuk meminta para wartawan menurunkan berita tersebut atau bahkan menghentikan mereka untuk tidak menayangkan berita itu kembali.


Harapan Otis terkabul ketika keesokan harinya, berita tentang pernikahan Kanaya dengan Felix tidak ditayangkan atau dinaikkan kembali di media manapun.


Otis tersenyum puas. "Berbaik hatilah kepada para wartawan karena merekalah yang akan selalu memberikan kita nama baik," ucapnya kepada Kai.


Kai mengangguk. "Baik, Tuan. Pesan anda akan saya ingat selalu. Tapi menurut saya, Tidak ada salahnya berita ini ditayangkan selama beberapa hari karena aku ingin Nay mengambil pembelajaran dari pernikahannya yang gagal ini,"


Sejak hari pernikahannya, Kanaya tidak pernah lagi keluar dari apartemennya. Rencananya saat itu adalah dia menikah dan kemudian berbulan madu keliling negeri bersama Felix tapi ternyata semua yang telah dia rencanakan berantakan dan tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya. Sedikit banyak, Nay menyalahkan Luke atas peristiwa yang terjadi di hari pernikahannya.


Entah bagaimana cara pria itu melupakannya. Nay sudah mencoba menjalin hubungan dengan Felix, tetapi tetap saja gagal. Mereka hanya sanggup sampai level berteman.


Memikirkan Luke membuat air mata Nay menetes kembali. "Bagaimana sih caramu untuk melupakanku? Kamu lupa mengajariku, Paman dan kamu lupa untuk mengembalikan hatiku, Paman. Paman jahat sekali!" tangis Nay. Dia mengambil secarik tissue untuk menyeka matanya.


Kai selalu menyempatkan diri untuk datang menemui Nay dan menemaninya. Kadang tugas Kai hanyalah mendengarkan tangisan Nay setiap hari. Untunglah, Otis mengizinkan Kai untuk menemani Nay jika gadis itu meminta Kai izin dari pekerjaannya.


"Hubungi Luke, minta dia bertanggung jawab!" tukas Kai sore itu, saat dia datang ke apartemen Nay dan menemukan gadis cantik itu sedang menangis sesenggukan.

__ADS_1


Nay mengangkat wajahnya yang sembab. "Bisakah seperti itu? Tapi nanti aku malah jadi semakin sedih, Kai. Ah, bagaimana ini?"


Kai membelai punggung Nay. "Temui dia untuk terakhir kalinya dan setelah itu, kamu benar-benar harus berusaha sekuat mungkin untuk melupakannya,"


"Kai, maukah kamu ikut denganku untuk kembali?" tanya Nay. Dia tidak ingin sendiri di negeri orang sedangkan jadwal liburnya masih panjang.


Keputusan Nay untuk kembali ke negara bersalju itu lebih cepat, membuat Otis terkejut. Pria berwibawa itu takut anaknya akan melakukan percobaan bunuh diri karena patah hati. Namun, Nay menolak Otis untuk ikut dengannya. Maka, tidak ada cara lain selain mengizinkan siapa pun untuk menemani putrinya selama di sana.


"Kenapa harus aku?" Kai bertanya balik.


"Karena kamu masih temanku. Ya, 'kan?" jawab Nay setengah berharap. "Kalau aku memintamu untuk ikut denganku, ayahku pasti setuju. Bagaimana?"


Kai menatap lekat manik hijau yang memandangnya dengan tajam itu. "Selesaikan dulu perasaanmu terhadap pamanmu, setelah itu aku akan memikirkan permintaanmu,"


Di lain tempat, Luke sudah berhasil menata kembali biduk rumah tangganya bersama Alma. Pria berparas tampan itu kini sangat menikmati perannya sebagai suami sekaligus ayah untuk putrinya.


Ditambah lagi, mereka kembali merencanakan program hamil dan memberikan seorang adik untuk Chloe. Tentu saja, Alma membagi kabar bahagia ini dengan Otis.


Namun respon yang Otis berikan, sungguh di luar dugaan. "Berhentilah memberiku tentang kabar bahagiamu, Alma. Aku muak! Sesekali, hubungi keponakanmu dan tanyakan kabarnya!" sentak Otis.


Alma terperangah mendengar bentakan dari kakaknya. "Ada apa dengan Kakak? Biasanya, Kakak tidak masalah mendengarkan ceritaku?"


Otis mengepalkan kedua tangannya dan sekali lagi dia merutuki kebodohannya. Dialah yang terlalu melindungi Alma sehingga secara tidak sadar, dia menjadikan Nay sebagai si nomor dua di hidupnya.

__ADS_1


"Maaf. Maafkan aku. Kamu tau apa yang sedang terjadi dengan Nay, 'kan? Dia hancur, Alma dan aku pun hancur. Ini salahku, semua salahku. Aku tidak tau harus memulai dari mana untuk memperbaiki ini?" jawab Otis. Wajahnya tampak lelah dan tampak jauh lebih tua dari sebelum-sebelumnya.


Alma pun kembali ke rumahnya. "Sayang, aku akan menemui Nay. Aku titip Chloe kepadamu,"


"Nay? Untuk apa? Aku berani sumpah kalau aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia, Sayang," ucap Luke. Pria itu tidak tau apa yang terjadi dengan istrinya yang tiba-tiba saja ingin bertemu dengan Nay.


"Aku tantenya dan hubungan kami baik-baik saja selama ini sampai, ...." Alma berpikir bagaimana sebaiknya dia melanjutkan kalimatnya itu. Jelas ini bukan kesalahannya karena menikah dengan pria yang ternyata dicintai juga oleh keponakannya. "Pokoknya, aku akan menemui Nay!"


"Aku saja!" sahut Luke tiba-tiba. "Biar aku saja yang pergi. Kamu percaya padaku, 'kan, Sayang?"


Alma tidak menjawab. Ada rasa takut yang membayanginya saat Luke berkata ingin menemui Nay. Namun pada akhirnya, dia mengangguk lemah. "Baiklah,"


Maka, dengan mengantongi izin dari istrinya, Luke pergi untuk menemui Nay. Dia mengirimkan pesan kepada keponakannya itu dan memintanya untuk datang ke alamat yang dia tentukan.


"Kai, Paman Luke mengajakku untuk bertemu. Aku harus jawab apa?" tanya Nay.


Kai mengambil dawai pintar dari tangan gadis yang sedang patah hati itu dan membalas pesan Luke. "Aku akan menemanimu. Ayo, kita bersiap-siap,"


Sementara Luke, "Alma, aku ingin kamu ikut denganku. Mungkin saja dengan melihat kita sudah bahagia, Nay akan merestui kita dan melupakanku,"


Alma mengangguk setuju. "Begitukah menurutmu? Apa tidak membuatnya semakin patah hati? Baiklah, ayo kita pergi," sahut Alma akhirnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2