Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Kenyataan Yang Terbalik


__ADS_3

"Maafkan aku, Nay. Aku tidak bisa datang kesana untuk menemuimu," jawab Kai. Semua bayangan tentang menemui Kanaya, gadis yang sudah lama dia rindukan itu, musnah sudah saat Otis masuk ke dalam ruangannya dan mengunci maniknya lekat-lekat.


Setelah beberapa menit kemudian, Kai menutup ponselnya dan menelan salivanya kasar. Dia kesal kepada dirinya sendiri, kenapa dia harus takut kepada pria tua yang ada di hadapannya itu.


"I'm not leaving!" tukas Kai gusar.


Tanpa dia sangka, Otis tersenyum. "I knew. Terima kasih, Kai. Biarkan Nay menyelesaikan masalahnya sendiri dan jangan terlalu memanjakannya. Aku mempersiapkan dia untuk bisa menjadi seorang pemimpin bukan seorang wanita yang mudah menangis hanya karena tersakiti,"


"Bagaimana pun, dia seorang anak perempuan. Seorang pemimpin juga manusia, Tuan Rivers. Mereka boleh menangis dan bahkan mereka berhak untuk memiliki seseorang saat dia ingin menangis," ucap Kai. Jari telunjuknya terangkat. "Satu lagi, dia putrimu, Tuan Rivers. Dia putrimu yang sedang patah hati. Tugas saya sudah selesai, permisi!"


Sepeninggalan Kai, Otis berdiri mematung. Dia merasa mual dan berat. Pria itu terhenyak ke atas sofa empuknya dan menghembuskan napas kasar. Beribu pertanyaan hadir di benaknya. Apakah dia terlalu keras kepada Nay? Apakah dia bukan seorang ayah yang baik untuk putrinya? Dia hanya ingin Kanaya menjadi seorang gadis yang kuat dan tidak mudah goyah karena nafsu sesaat, salahkah dengan itu?


Otis mengambil ponselnya dan menghubungi Nay dengan panggilan video. Tak lama, seorang gadis dengan wajah cemberut tertera di layar ponsel Otis.


"Nay, bagaimana kabarmu?" tanya Otis. Dia bisa melihat kedua mata putrinya itu sembab dan wajahnya sedikit bengkak dan Otis segera mengetahui kalau Nay baru saja selesai menangis.


"Aku baik-baik saja, Pa. Ada apa?" jawab Nay. Dia mengambil sehelai tisu dan menyeka hidungnya. Suaranya sedikit sengau karena habis menangis tadi.


Otis kini menyadari ucapan Kai. Terlepas dari pandangan orang-orang terhadapnya, Nay tetaplah putri Otis yang bisa menangis, tertawa, senang, atau pun sedih. Sekarang, Otis melihat Nay tampak hancur karena patah hati. "Nay, bolehkah Papa menyusulmu?"


Nay menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak perlu. Aku sibuk sekali. Pagi aku harus kuliah dan siang aku harus bekerja. Belum lagi kalau aku ada tugas. Aku takut aku tidak bisa menemanimu, Pa,"


Otis kembali terdiam. "Apa yang kamu rindukan dari sini? Aku akan mengirimkannya untukmu," tanya Otis pada akhirnya.

__ADS_1


"Paman Luke. Apa Papa bisa membawakan paman ke sini?" jawab Nay. Sekarang dia sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kepada ayahnya. Dia ingin ayahnya tau kalau sampai kapan pun, dia akan tetap mencintai Luke Wallace.


Lagi-lagi Otis menggelengkan kepalanya. "Ckckck. Lupakan pamanmu, Nay. Paman dan bibimu akan memiliki seorang anak. Dia sudah menata hidupnya dan kamu pun harus seperti itu!"


"Ya sudah, aku sibuk. Nanti kuhubungi Papa lagi kalau ada waktu," sanggah Nay dan kemudian gadis itu mematikan panggilan video dari ayahnya.


Otis menyugar rambutnya. "Apakah aku harus menyerah kepadanya?"


Pria paruh baya dengan rambut setengah botak itu pun berpikir bagaimana caranya membuat Nay melupakan Luke. Felix North sudah ada bersamanya. Apakah North gagal? Bagaimana dengan Kai Fletcher? Haruskah dia mengirim Kai ke sana? "Aarrgghh! Sial!"


Di tengah kebingungannya tentang Nay, Otis pun menemui Luke dan Alma. Otis ingin tau, bagaimana kelanjutan rencana adopsi kedua pasangan itu.


Mobil hitam Otis pun telah memasuki pintu gerbang rumah megah Luke dan Alma. Dia menberikan tanda kepada Alma kalau dia sudah ada di depan rumah mereka. "Aku sudah di depan rumahmu,"


Tak lama, seorang pelayan wanita datang membukakan pintu. Otis turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah bergaya klasik minimalis itu.


Otis melihat Alma yang tampak berseri-seri. Berbeda sekali dengan Nay. Apakah saat ini dia telah menukar kebahagiaan putrinya demi Alma? Begitu banyaknya pikiran yang berkelebat di benak Otis, pria itu menjadi tidak sadar kalau dia tengah melamun.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Alma tampak khawatir.


Otis terkesiap. "Eh, apa tadi? Oh aku? Aku baik-baik saja. Ya, aku baik, Alma. Oh iya, di mana Luke?" tanya pria tua itu lagi.


"Dia sedang bersiap-siap. Ini jadwal kami untuk berkunjung ke satu yayasan. Kemarin kami sudah melihat-lihat ke beberapa yayasan dan di yayasan yang terakhir inilah, aku dan Luke jatuh cinta kepada seorang bayi perempuan mungil yang cantik. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya hari ini," jawab Alma ceria. Kemudian dia masuk ke dalam ruang penyimpanan dan mengeluarkan beberapa kado serta satu tas besar berisi pakaian bayi. "Lihat, aku sudah berbelanja untuknya. Semoga proses adopsi ini tidak lama. Kami juga sedang mempersiapkan kamar untuknya, Kak. Kakak mau lihat? Luke yang mendesignnya,"

__ADS_1


Melihat adiknya bahagia, sebersit rasa bersalah kepada Nay muncul di benak Otis. Tetapi, memang tidak dibenarkan berhubungan dengan paman sendiri, 'kan? Kata-kata itulah yang selama ini berhasil meyakinkan Otis atas keputusan yang telah dia buat.


"Aku ingin berbicara sebentar dengan suamimu. Bisa panggilkan dia untukku?" pinta Otis.


Kedua alis adiknya itu saling bertautan. Raut wajahnya segera saja berubah kala Otis meminta Luke untuk menemuinya.


Beberapa menit kemudian, Luke menghampiri Otis dan menjabat tangannya. Pria itu tampak sekssi dan tampan dengan memakai kaus slim fit yang memperlihatkan otot bisepnya yang kekar. "Kak Otis," sapanya.


"Luke, aku ingin kita berbicara di mobilku karena aku tidak mau Alma mendengar ini," sahut Otis yang segera beranjak dari kursinya dan bergegas menuju mobil hitam mewah yang terparkir tepat di depan rumah Alma dan Luke.


Luke mengekor hingga mereka masuk ke dalam mobil bermuatan lima kursi itu. "Ada apa, Kak?"


"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau sudah melupakan Kanaya?" tanya Otis.


Luke mendengus. "Huh! Pertanyaan macam apa itu, Kak? Kukira kita akan berbicara mengenai sesuatu yang lebih penting tentang ini,"


"Jawab saja! Aku tidak memintamu untuk berpendapat, Luke!" tukas Otis dengan nada tinggi.


"Apa yang akan Kakak lakukan kalau aku menjawab, aku belum melupakan Nay dan aku masih sangat mencintainya. Apa Kakak tidak lihat wajahku yang menderita? Ya, aku menderita karena harus berpura-pura senang dengan apa yang direncanakan oleh Alma," jawab Luke. Wajahnya memang tampak menderita dan sengsara, walaupun garis-garis ketampanannya masih tersisa di wajahnya.


"Lupakan dia, Luke. Kanaya akan segera menikah dengan Felix North. Saat ini, North sudah berada di sana," ucap Otis, dia mengangkat tangannya, karena Luke hendak memotong ucapannya. "Ya, Luke. Mereka sudah tinggal bersama. Aku mendukung keputusan Alma untuk mengadopsi seorang anak jika kalian memang sulit untuk memiliki seorang anak. Aku tau, kamu masih membuat batasan dengan adikku tapi aku berharap kalian berdua bisa berhubungan baik kembali dengan hadirnya seorang anak di tengah-tengah kalian,"


Jantung Luke seakan ditusuk oleh seribu jarum. Dia menepati janji yang dia ikrarkan berdua bersama Nay, tapi kenapa Nay mengingkarinya? Apa yang terjadi? Apakah bagi Nay, janji hanyalah sebuah omong kosong tanpa makna yang berarti?

__ADS_1


Luke menyembunyikan rasa sakitnya dengan menunduk dan menautkan jari-jarinya. Dia memejamkan matanya sesaat, berharap rasa sakit atau bayangan Nay akan pergi dari benaknya. Kemudian Luke mengangguk. "Sampaikan kepada Nay, semoga dia selalu berbahagia,"


...----------------...


__ADS_2