
3 Hari Sebelum Pernikahan,
("Paman, aku akan kembali ke Metropolitan siang ini dan akan segera menunggumu di alamat yang telah kukirimkan kepadamu kemarin. Aku berharap, Paman akan datang menemuiku. Aku akan terus menunggu sampai tempat itu tutup dan aku diusir dari tempat itu,") tulis Nay dalam pesannya.
Tak lama, Felix menghampiri gadis itu dan merangkul pinggangnya. "Tidak ada yang tertinggal?"
Nay menggeleng. "Tidak, lagipula kita akan kembali lagi je sini, 'kan?"
Sejak Luke meminta Nay untuk melupakannya dan menyuruhnya untuk mencari kebahagiaannya sendiri, Nay berusaha keras untuk mencintai Felix. Namun seberapa keras dia berusaha, tetap saja Luke selalu ada di hatinya.
"Felix, setelah kita sampai nanti, aku akan menemui seorang teman. Jadi, kita berpisah di sana," ucap Nay.
Felix mengangguk. "Baiklah. Aku tau siapa yang ingin kamu temui, Kai Fletcher. Andai saat itu aku tau kalau dia temanmu, aku akan berbaik hati kepadanya," kata Felix sedikit menyesal.
"Tidak perlu dipikirkan, Kai memang seperti itu. Dia tidak akan kesal atau dendam kepadamu. Dia adalah orang yang paling tulus yang pernah aku kenal," sahut Nay. Dia berbohong. Bukan Kai yang akan dia temui nanti. Tetapi, dia sudah meminta Kai untuk membantunya andaikan Felix bertanya tentang pertemuan mereka itu.
Perjalanan selama 16 jam itu mereka habiskan dengan mengobrol, makan, dan terkadang bermain games bersama. Nay memiliki tiga kotak dalam kehidupannya. Kotak pertama berisi keluarga, kotak kedua berisi Kai, dan kotak ketiga berisi Luke. Biasanya Kai menguasai kotak kedua seorang diri, tetapi sekarang Nay memasukan Felix di dalam kotak kedua bersama Kai. Sedangkan kotak berisi Luke, terkunci dengan aman di dasar hatinya. Tidak ada orang lain yang sanggup menggapai kedalaman kotak Luke itu.
Tak terasa, perjalanan enam belas jam mereka telah berakhir. Mereka pun disambut oleh keluarga North serta Kai Fletcher dan Otis Rivers. "Nay!"
Otis dan Kai melambai-lambaikan tangan ke arah Nay dan Felix. Kedua orang itu tampak meriah sekali dengan memakai pernak-pernik pesta dan terompet kertas yang mereka tiupkan.
"Ayahmu dan Fletcher seperti sahabat. Asik sekali mereka, aku iri," ucap Felix. Laki-laki itu berdiri menghadap Nay dengan memegang erat pegangan koper kecilnya. "Sudah saatnya kita berpisah, sampai ketemu besok pagi, Nay. Aku akan menghubungimu malam nanti,"
Nay mengangguk. "Aku pun terkadang iri kepada Kai karena dia lebih dekat dengan ayahku. Ah, baiklah, sampai jumpa besok pagi. See you, Felix,"
Mereka berdua pun berpisah jalan setelah Otis dan Tuan serta Nyonya North berbincang-bincang tentang hari besar yang akan mereka selenggarakan tiga hari lagi.
"Papa, aku akan melepas rinduku bersama Kai. Papa pulang saja lebih dulu dan terima kasih sudah menyambutku," Nay memeluk ayahnya sedikit lebih lama.
Otis memberengutkan bibirnya. "Apa kamu tidak rindu pada ayahmu, Nay? Kenapa harus melepas rindu bersama Fletcher tapi tidak denganku?" protes pria paruh baya itu.
__ADS_1
Nay memberikan senyumannya yang paling manis untuk Otis. "Tentu berbeda. Ketika aku pulang nanti, Papa menungguku dan kita bisa berbicara sampai pagi. Tapi tidak dengan Kai. Dia tidak ikut pulang bersamaku, 'kan? Hehehe, sampai jumpa di rumah, Pa,"
Kai dan Nay mendatangi sebuah restoran. Restoran itu tampak sangat sepi dan hanya terlihat para waitres yang sedang asik mengobrol dan beberapa dari mereka sedang bermain dengan ponselnya.
"Selamat siang, maaf restoran ini sudah dipesan selama satu hari penuh, Nona," kata wanita penerima tamu dengan gaya sedikit angkuh.
Nay tersenyum dan mengeluarkan kartu namanya. "Saya dengan Kanaya Rivers yang memesan satu restoran ini selama seharian,"
Wanita penerima tamu segera meminta maaf dan membungkuk hormat kepada Nay. "Ah, maafkan saya, Nona Rivers. Saya tidak tau wajah Anda,"
"Tidak masalah. Kami bisa masuk dan memesan sekarang?" tanya Nay.
Wanita itu kembali mengangguk dan mempersilahkan Nay untuk duduk di manapun dia mau.
"Wah, kamu benar-benar memanfaatkan uangmu dengan baik, Nay. Tapi, andaikan Luke tidak datang. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kai. Dia duduk di hadapan Nay sambil menikmati potato salad sebagai hidangan pembuka mereka yang dengan cepat disajikan oleh kepala koki.
"Aku pulang," jawab Nay santai.
"Sedikit sekali ceritamu tentang Felix, padahal dia calon suamimu," tukas Kai saat Nay selesai bercerita.
"Aku tidak mencintainya. Dia hanya pengalihanku. Aku tidak tega jika memperalatmu jadi kupikir aku menikah saja dengan Felix," balas Nay tanpa rasa bersalah.
"Sungguh bermakna sekali hidupmu, Nay. Ckckckc," ucap Kai berdecak.
Setelah Kai pergi, Nay meminta secangkir kopi hangat kepada pelayan. Tak beberapa lama kemudian, secangkir kopi hangat beserta sepotong kue cantik sudah dihidangkan di atas meja. Nay mengeluarkan sebuah buku yang sengaja dia bawa untuk menghabiskan waktunya saat menunggu Luke.
Nay melirik jam tangan berlambang omega yang dia kenakan di pergelangan tangan kanannya. Sore itu, jarum jam sudah mengarah ke pukul empat sore lebih sedikit. Sudah tiga jam Nay menunggu. Tangannya mulai dingin karena vasokonstriksi yang sedang terjadi di dalam tubuhnya.
Jarum jam kembali bergeser ke kanan, akan tetapi Luke belum juga muncul. Bahkan mengabari lewat pesan pun tidak. Kini posisi Nay sudah seperti berada di rumahnya sendiri.
Dia mengambil apa pun yang dia mau dan di atas mejanya sudah ada dua kaleng bir kosong dan setengah kaleng bir. "Ayolah, Paman, datanglah," harap Nay.
__ADS_1
Sesekali gadis itu menjulurkan kepalanya ke arah jendela dan terkadang dia keluar masuk restoran untuk melihat apakah mobil Luke sudah tampak atau belum.
Nay sudah hampir menangis saat jam menunjukkan nyaris pukul 7 malam. Ketika restoran itu mulai menyajikan makan malam, Nay bersiap untuk keluar dari restoran berbintang empat Michelin itu.
Tepat ketika semua barang-barang Nay masuk ke dalam tas, pintu restoran klasik itu terbuka dan masuklah seorang pria tampan, berjanggut tipis, dan memakai kaus dengan jas hitam sederhana. "Sudah mau pulang, Nay,"
Nay segera menoleh ke arah suara yang sedari tadi dia nanti-nantikan. Dia menahan diri untuk tidak berlari ke arah pamannya itu. Alih-alih berlari, Nay tersenyum dengan anggun dan elegan. "Aku pikir, Paman tidak akan datang. Baru saja aku merapikan barang-barangku. Mari, silahkan duduk, Paman," ucap Nay.
Luke pun menghampiri Nay dan mengecup kedua pipi Kanaya. "Aku datang, Nay,"
Tak tahan, Nay memeluk pamannya dengan erat. "Aku merindukanmu, Paman. Kupikir Paman tidak akan datang,"
Mereka pun duduk berhadapan dan tidak saling bicara. Hanya kedua mata mereka saja yang seolah menceritakan apa yang terjadi selama mereka saling berjauhan. Kanaya dapat menangkap tatapan rindu yang terpancar dari kedua mata pamannya. Begitu pula dengan Luke. Laki-laki itu juga dapat melihat kerinduan dari wajah Kanaya.
"Aku tidak bisa berlama-lama, katakan saja dengan cepat apa permintaanmu?" tanya Luke.
"Aku tidak meminta apa-apa dari Paman. Aku hanya ingin Paman tau kalau aku masih mencintai Paman dengan segenap hati, jiwa, dan ragaku," jawab Nay. Dengan berani, gadis itu mengunci kedua manik pamannya sehingga Luke seolah tersihir oleh Nay.
Luke terdiam. Dia ingin mengakhiri hubungan yang tidak sehat itu dan kembali fokus kepada anak dan istrinya itu. "Kalau aku, aku-, ...."
"Aku tau Paman masih mencintaiku. Tatapan mata Paman yang memberitahukannya kepadaku," sanggah Nay dengan berani.
"Ini gila, Nay! Hubungan kita itu salah! Aku sekarang sudah memiliki anak perempuan dan aku mencintai anakku. Aku juga mencintai Alma. Aku akui aku merindukanmu dan aku ingin memelukmu tapi semua itu salah!" sahut Luke putus asa. Entah bagaimana lagi dia harus menjelaskan kepada gadis yang sedang menatapnya itu.
Nay memberanikan diri mendekati Luke. Wajahnya semakin dekat dengan pamannya dan sedetik kemudian dia mengecup lembut bibir Luke. "Aku tidak paham tentang salah atau benar, yang aku tau saat ini adalah aku benar-benar mencintai Paman," bisiknya.
Tanpa ragu, Nay kembali menyapukan bibirnya ke bibir pamannya dan menumpahkan segala perasaan rindunya di dalam ciuman yang dia berikan kepada pamannya itu.
Hati Nay memekik senang saat Luke membalas pagutannya. Pagutan yang telah lama mereka rindukan dan mungkin akan segera mereka lupakan. Namun sepertinya, Kanaya tidak akan melupakan ciuman malam itu dengan cepat. Tak patah arang, dia berbisik lembut dengan suaranya yang manja dan menggoda. "Paman, ayo kita kawin lari,"
...----------------...
__ADS_1