
"Mana Kanaya?" tanya seorang pria paruh baya dengan rambut setengah botak dan sweater cukup tebal.
"Tuan Rivers. Aku pikir, Anda bergurau saat mengatakan ingin menyusul ke sini," sahut Kai kepada tamu yang ternyata ayah Nay itu. "Nay tidur. Habis minum obat. Dokter baru saja pulang. Infusannya juga sudah dicabut,"
Otis segera masuk untuk melihat Kanaya dan dia melihat putrinya terbaring lemah di sofa kacang. "Kenapa tidak di dalam kamar? Jangan katakan padaku, saat diinfus pun dia tidur di bean bag ini!"
"Nay menolak tidur di kamar, Tuan. Dia takut katanya. Dia takut sewaktu-waktu, dia tidak bisa bangun lagi," jawab Kai sambil memperhatikan Nay yang tertidur nyenyak di kursi kacangnya. "Jika dia bangun nanti dan mengetahui kalau aku yang memberitahukan kepadamu tentang kondisinya, dia pasti akan sangat marah kepadaku,"
Otis membelai rambut Nay dan mengecup keningnya dengan lembut. "Terima kasih karena kamu telah mengabariku, Kai. Perasaanku memang tidak nyaman saat melepas kepergiannya kemarin,"
Kai memberikan waktu kepada Otis untuk menemaninya. Dia menutup pintu kamarnya rapat dan tidak mengganggu waktu ayah dan anak itu.
Keesokan paginya, Nay terbangun dan betapa terkejutnya dia mendapatkan Otis tertidur di sebelahnya. Nay berjalan dengan mengendap-endap untuk mencari Kai di kamarnya.
Tanpa mengetuk, Nay membuka kamar itu dan melihat Kai masih tertidur. Gadis itu duduk di samping ranjang Kai dan membelai wajahnya. Semua kemarahannya menguap begitu saja saat melihat Kai. "Kai, terima kasih untuk semuanya. Aku ingin sekali bisa mencintaimu, Kai. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk membuka hatiku untukmu?" bisik Nay sambil mengusap pipi Kai yang terasa dingin.
Kai menangkap pergelangan tangan Nay. "Mudah sekali untuk mencintaiku, Nay. Kalau kamu kesulitan membuka hatimu, tenang saja, aku akan membukanya secara paksa, mendobrak masuk ke sana dan mengacak-acak hatimu sampai kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku,"
Wajah Nay memerah dan seutas senyum tertera di wajah cantiknya. "Hahaha, coba saja," kemudian, Nay teringat tujuan sebenarnya dia mendatangi Kai. "Ah, kamu pengkhianat! Untuk apa ayahku ke sini? Kamu pasti memberitahukan kepada ayahku kalau aku sakit, 'kan? Iya, 'kan? Kenapa, sih?"
"Supaya ayahmu tenang," jawab Kai singkat. Pria itu beranjak dari ranjang dan mengajak Nay untuk sarapan. "Makan, yuk. Aku lapar. Mana vitaminmu? Sudah diminum?"
Nay menggeleng dan hadiah dari gelengan kepalanya itu adalah sebuah jentikan kecil di kening Nay. "Makanlah obat serta vitaminmu! Ubah pola hidupmu kalau kamu mau merasakan nikmatnya malam pertama,"
"Sudah!" ucap Nay kesal.
__ADS_1
Kai menatap manik hijau itu dan menggelengkan kepalanya. Diam-diam, Otis mendengarkan percakapan kedua orang itu sambil tersenyum kecil. Begitu mendengar mereka akan keluar, Otis berjingkat-jingkat dan kembali ke sofa tempat dia tidur tadi.
Lain Otis, lain juga dengan Alma. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi di keluarga kecil itu. Mulai dari mereka membuka mata hingga memejamkan mata kembali.
Kesabaran Alma yang sudah sejak lama dipendamnya, kini dia keluarkan semuanya tak lagi dia tahan. "Melamun lagi! Melamun lagi! Kopimu nanti dingin, Luke!"
"Kamu tidak lelah bicara dengan nada setinggi itu sejak kemarin?" tanya Luke sambil menyesap kopinya dengan santai. "Aku saja lelah,"
"Astaga! Astaga, Luke! Apa yang kamu bicarakan? Aku begini juga karena kamu! Andaikan kamu tidak pernah jatuh cinta kepada keponakanku, mungkin saja kita sudah hidup bahagia!" tukas Alma kembali memanas.
"Atau sebaliknya. We never know, Alma." ucap Luke tidak peduli. Nada suaranya dingin dan tidak ada rasa cinta dalam setiap kata-katanya.
Alma menggelengkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. "Jujur saja, Luke. Aku berusaha mempertahankan pernikahan kita sampai aku mengadopsi Chloe dengan harapan kamu akan melihatku dan melupakan Nay. Tapi semua harapanku musnah."
"Aku sudah mencobanya, Alma. Kamu boleh memarahiku jika aku tidak mencoba untuk belajar mencintaimu lagi. Aku sudah mencoba tapi aku tidak bisa," kata Luke mencoba membela dirinya sendiri.
Alma menghenyakkan tulang ekornya ke kursi makan. Wajahnya tampak sangat lelah dan matanya berkantung hitam. "Kanaya masih sangat muda dan dia cantik. Itukah yang membuatmu tertarik kepadanya?"
"Muda dan cantik itu relatif. Ada sesuatu dari dirinya yang membuatku tertarik kepadanya dan tidak hanya aku, let's say, Felix North, Kai Fletcher, dan Sean West, mereka pria yang menyukai Nay bukan karena Nay cantik," jawab Luke. Pria itu berusaha mengingat bagaimana awalnya dia menyukai Kanaya.
Sikap berani dan nekatnya, kecerdasannya, dan gadis itu bisa memiliki berbagai macam ekspresi dalam satu waktu. Mungkin inilah alasan Luke menyukai Nay.
Wajahnya memerah saat Luke mengingat bagaimana dia menghabiskan waktu dengan keponakannya itu. Alma menyadari perubahan raut wajah Luke dan spontan saja dia menampar pipi suaminya itu. "Apa yang kamu pikirkan, Luke!"
Luke memegang pipinya. "Apa-apaan kamu?"
__ADS_1
"Aku akan pergi dari sini! Tapi aku ingin kamu tau, sampai kapan pun, aku tak akan pernah menceraikanmu, Luke. Aku akan tetap menunggumu!" tegas Alma, dia segera masuk ke dalam kamar dan mengepak beberapa barang miliknya dan milik Chloe. "Kamu tidak mencegahku?"
Luke membuka lengannya, mempersilahkan Alma untuk pergi. "Silahkan, jika memang itu yang kamu butuhkan. Pikirkanlah, hubungan kita saat ini tidak baik-baik saja dan jika kamu bersikeras untuk meneruskan hubungan ini, kita akan saling menyakiti."
"Apa pun yang terjadi, aku tetap tidak akan bercerai darimu, Luke. Tidak bisakah aku meminta sisa cinta itu?" tanya Alma. Wanita itu tidak peduli kalau saat ini dia tampak sangat menyedihkan.
"Aku tidak memiliki sisa cinta. Seluruh cintaku sudah kuberikan kepada Kanaya. Maafkan aku. Itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari," ucap Luke. Dia berusaha menatap manik hijau cokelat yang mirip sekali dengan manik Nay itu.
Sebulir air mata turun dari pelupuk matanya. "Tidakkah kamu menyisakannya sedikit untukku, Luke? Cintaku masih sangat banyak untukmu, aku tidak tau aku harus membaginya dengan siapa."
"Bagilah untuk Chloe dan dirimu sendiri. Ini salahku, aku terlalu mencintai Kanaya," ujar Luke. Laki-laki itu tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Luke berjalan mendekati Alma dan memeluknya. "Jangan pergi dari hidupku, Luke. Aku sama sepertimu, aku terlalu mencintaimu sampai aku tidak menyisakan cinta untuk diriku sendiri," sahut Alma terisak-isak dalam pelukan pria yang masih resmi menjadi suaminya itu.
"Aku butuh waktu untuk sendiri, Alma dan kuharap kamu mengerti itu," pinta Luke.
Wanita cantik itu mengangguk. "Aku mengerti dan semoga kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita, Luke,"
"You know we can't, Alma. Apa lagi yang kamu ingin perbaiki? Kamu sudah tau tentang perasaanku. Aku tidak mau lebih menyakitimu lagi kalau kita tetap bersama," ucap Luke putus asa. Bagi Luke kini, semua sudah sangat jelas. Hatinya sudah yakin akan dia labuhkan kepada Kanaya.
Alma mendorong kopernya dan bergegas menuju keluar, dia berharap Luke akan mencegahnya. Tapi ternyata, tidak! Luke bahkan tidak melihat ke arahnya.
"Luke, aku akan menunggumu. Aku akan terus menunggumu tanpa waktu sampai semua menjadi kembali seperti semula lagi," ucap Alma dan kemudian dia pun pergi. Wanita itu berharap, kepergiannya hanya untuk sementara bukan selamanya.
...----------------...
__ADS_1