
Keesokan harinya, Nay mulai merencanakan untuk menjalankan satu demi satu wishlistnya. Kondisinya saat ini sedang baik, sehingga dia semangat sekali semenjak pagi tiba.
"Kanaya, jangan terlalu lelah, nanti kamu drop!" tukas Otis melihat anaknya terlalu bersemangat pagi itu. Otis belum terbiasa dengan kondisi Nay saat ini. Kadang, pria tua itu masih terkejut saat melihat segumpal rambut putrinya terlepas dari kepalanya atau tertinggal di bantal tidurnya.
Rambut Nay yang dulu tebal dan panjang terurai indah, sekarang rambut itu tipis sekali walaupun belum sepenuhnya habis tapi terkadang Nay memakai rambut palsu untuk menutupi rambutnya yang rontok.
"Kalau minggu depan aku harus terapi lagi, maka habislah rambutku. Aku tidak mau botak sebenarnya, aneh sekali, 'kan kalau aku botak?" tanya Nay saat dia bercermin.
Jawaban Kai dan Luke sedikit membuat Otis terhibur kala itu. "Kalau kamu botak, aku juga akan membotaki rambutku. Orang tampan, mau botak atau tidak akan tetap terlihat tampan, jadi, kamu tidak perlu khawatir, Nay. Kamu akan tetap terlihat cantik walau rambutmu habis," begitulah ucapan Kai saat itu.
Beda lagi dengan Luke, saat itu dia menjawab kalau dia akan tetap mencintai Nay apa pun yang terjadi. Mau dia botak atau tidak, Luke tetap akan menikahinya.
Otis sangat senang melihat Nay dijaga oleh kedua pria itu. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Otis masih bertanya-tanya. Siapa pria pilihan Nay?
"Papa, aku sudah siap. Hari ini, Kai dan paman akan menemaniku berbelanja seharian di pusat perbelanjaan. Ada beberapa yang ingin aku datangi. Setelah itu, aku akan mengecat kukuku supaya mereka tampak cantik," kata Nay. Otis melihat anak gadisnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum.
"Papa akan mengingatkanmu sekali lagi, Nay. Jangan terlalu lelah, Papa tidak mau melihatmu pingsan dengan darah mengalir dimana-mana." ucap Otis.
Nay memeluk ayahnya. "Aku tau. Kai sudah menyiapkan kursi roda jadi nanti kalau aku lelah, aku bisa langsung duduk. Jangan khawatirkan aku, Pa,"
Otis ingin sekali ikut dengannya, tapi Nay melarang dengan alasan, dia harus memastikan siapa yang akan dia nikahi dalam beberapa hari ke depan. Jadilah, Otis dan Alma mengalah dan menunggu mereka di rumah.
Hari itu, Nay terlihat cantik dengan memakai terusan berwarna peach dan outer hitam serta sepatu boots selutut. Tak lupa, dia memakai rambut palsu, karena dia tidak mau terlihat sakit dan dikasihani oleh orang.
Setibanya mereka di pusat perbelanjaan, Nay segera memilih butik langgananannya. "Aku mau kesana," katanya. Luke dan Kai pun mengangguk dan seperti pengawal, mereka berjalan mengapit Nay.
Mereka menunggu Nay membeli pakaian. Anehnya, dia tidak membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Dia membeli pakaian untuk ayah dan bibinya serta untuk Kai dan Luke.
"Lalu, untukmu?" tanya Luke, saat Nay mengajak pamannya itu mencoba pakaian di kamar ganti.
"Aku sudah punya banyak baju," kata Nay sambil memperhatikan pamannya itu dari cermin. "Paman gagah sekali memakai ini. Pilihanku memang tidak pernah salah,"
Luke menyambar bibir Nay dan menciumnya. "Sehatlah, Nay. Aku tidak mau kehilangan kamu," Luke memagut bibir pucat gadis itu lagi.
"Aku akan sehat, Paman. Tenang saja," Nay kembali membalas pagutan bibir Paman dan mengalungkan lengannya di leher Luke.
__ADS_1
Setelah puas saling mencumbu, Luke dan Nay keluar dari kamar ganti itu.
"Kai, giliranmu. Cobalah ini," ucap Nay, dia juga menemani Kai untuk mencoba pakaiannya. "Kamu tampak tampan, Kai," ucap Nay sesaat setelah melihat Kai memakai kemeja yang dia pilihkan untuk Kai.
"I know what you did with your uncle," ucap Kai berbisik di telinga Nay dan membuat wajah gadis itu kemerahan. "Berarti kamu sudah mendapatkan kepastian? Good girl,"
Nay terdiam sesaat. Dia tidak tau harus menjawab bagaimana saat Kai mengucapkan kata-kata itu.
"Mana punyamu? Aku yang akan memilihkan untukmu!" tukas Kai kemudian dia keluar dan mengambil salah satu gaun dengan cepat dan memberikannya kepada Nay. "Cobalah!" tegas Kai sambil berlalu keluar dari kamar ganti itu.
Luke menghampiri Kai dan menunggu Nay mencoba gaun pilihan Kai. Tak lama, dengan malu-malu, Nay keluar dari kamar ganti itu. "Ba-, bagaimana?"
"Oke, good. You look so dammn beautiful," jawab Kai tanpa basa-basi. "Bungkus!"
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari butik itu dengan membawa lebih dari lima kantung belanja. Untunglah, mereka membawa seorang pelayan yang bisa membantu mereka membawakan barang belanjaan.
Kai memaksa Nay untuk duduk di kursi roda dan membiarkan Luke mendorong Nay.
Sementara Nay berbelanja dengan Kai. Otis sedang menunggu seseorang untuk datang di hari itu.
Otis mengangguk. "Sudah, setelah aku tau Nay sakit, aku segera menghubungi dia. Bagaimana pun, dia harus tau kondisi Nay, 'kan? Walaupun dia sudah bahagia dengan orang lain, tetap saja, dia harus bertemu dengan Nay sebelum, ... Kamu paham maksudku, 'kan?"
"Ya, aku paham maksud Kakak. Kita tidak bisa memprediksi kondisi Nay ke depannya seperti apa. Aku pun takut dia drop dan terjadi sesuatu dengannya," jawab Alma.
"Jika sepulang nanti Nay drop, aku akan membawa dia berobat ke luar negri. Apa pun yang terjadi, aku akan memaksimalkan pengobatannya. Aku ingin dia tetap hidup." tegas Otis lagi. "Aku sudah berbicara dengan dokter disana dan dia siap menerima kita kapan pun Nay akan datang,"
"Bagaimana dengan Nay? Dia pasti akan menolaknya," tanya Alma.
Otis menghembuskan napas panjang. "Aku tau dia pasti akan menolak. Anak itu keras sekali, tapi aku harus lebih keras supaya dia sembuh. Ini untuk kebaikannya,"
Alma terdiam. Jika sudah berurusan dengan Otis atau Nay, dia akan mengalah. Mereka berdua memiliki sifat keras yang sama dan akan saling memaksakan kehendak masing-masing.
Di pusat perbelanjaan, Nay masih menikmati waktunya. Mereka baru saja selesai makan siang. "Ah, nikmatnya. Aku sudah lama tidak makan makanan enak seperti ini. Aku terharu," ucap Nay.
"Makanya sehat, supaya kita bisa makan ini setiap hari," tukas Kai.
__ADS_1
"Bukankah selama ini kamu terlalu keras pada Nay, Fletcher! Aku tidak suka kalau kamu selalu menggertaknya seperti itu!" tukas Luke.
Kai menanggapi Luke dengan santai. "Supaya dia berpikir, hidup sehat itu lebih indah dari apa pun,"
"Huh! Sok pintar!" tukas Luke.
"Sudahlah! Oh, besok kalian harus menemaniku ke bandara karena aku ingin bertemu dengan ibuku. Kita harus menyiapkan apa saja yang akan kita bawa, 'kan?" ucap Nay.
Gadis itu sudah memikirkan untuk bertemu dengan ibunya menjadi keinginannya di urutan 3 besar.
"Kami yang akan menyiapkan apa yang akan kita bawa, kamu fokus pada istirahat, Nay," sahut Luke mendahului Kai. Pria itu tau kalau Nay masih ragu kepadanya, sehingga dia mencoba untuk memberikan perhatian kepada Nay kapan pun dia bisa.
"Oke, yuk jalan lagi," ajak Nay. Mereka berdua pun mengangguk dan kembali berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan itu.
Nay sesekali masuk ke dalam sebuah butik dan keluar dengan membawa beberapa tas belanja, dia tidak pernah keluar dengan tangan kosong.
Selama beberapa jam berada di kursi roda, Nay memutuskan untuk berjalan sendiri. "Aku bosan duduk." katanya dan meletakkan sebagian barang-barang belanjaannya di atas kursi roda itu.
Mereka pun kembali berjalan sampai terdengar seorang wanita memanggil nama Luke. "Wallace!" Gadis itu menghampiri Luke dan memeluknya. "Hai, Luke. Apa kabar?" tanya gadis itu.
"Ashley? Oh, aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Luke.
Gadis bernama Ashley melihat ke sekeliling Luke. "Wah, rombongan, yah? Hahaha. Siapa ini?"
Dengan salah tingkah, Luke memperkenalkan mereka satu per satu. "Ah, ini Kai Fletcher, dia asisten pribadi di kantorku, dan ini Kanaya Rivers, pewaris Rivers Group,"
"Wow, hai, Kanaya. Kupikir seorang pewaris perusahaan sudah berumur, ternyata kamu masih sangat muda. Senang bertemu denganmu," kata gadis itu menjabat tangan Kai dan Nay bergantian. "Makan siang bisniskah, Luke?"
Luke menggelengkan kepalanya. "Oh, tidak. Kanaya adalah keponakanku, hahaha. Kami hanya sedang berjalan-jalan,"
Baik Nay maupun Kai saling berpandangan dan mengerutkan dahi mereka. Kenapa Luke mengenalkan Nay sebagai keponakannya bukan kekasihnya?
"Paman, kami akan kesana sebentar sambil menunggu Paman. Silahkan kalau mau bergabung," ucap Nay. Dia sengaja menekankan kata Paman saat berbicara dengan Luke. Ada rasa kesal saat Luke mengenalkan dirinya sebagai keponakan, mengingat pesta pernikahan akan berlangsung 3 hari lagi. "Cih!"
...----------------...
__ADS_1