
Ashley William adalah mantan kekasih Luke. Tentu saja kehadiran Ashley di tengah-tengah kebahagiaan Nay menbuat gadis itu terbakar cemburu. Apalagi, melihat Luke dan Ashley yang sepertinya masih menyimpan benih-benih asmara itu semakin dekat setiap harinya.
"Nay, kapan kamu kontrol ke dokter lagi?" tanya Vio kepada putrinya. "Mama mau ikut. Kenapa sih, kamu itu tidak mau cari dokter yang lebih bagus, rumah sakit yang lebih baik? Karena pria itu?" tanya Vio menunjuk ke arah Kai.
Nay menggeleng. "Bukan!"
Vio mengernyit keningnya. "Yang mana? Jangan bilang, kamu menyukai pamanmu! Astaga! Lalu, bagaimana dengan bibimu?"
Nay mengangguk cepat. "Aku tau, aku salah. Tapi, aku tidak tau bagaimana menghilangkan perasaan ini. Sempat hilang tapi muncul lagi, Ma. Paman dan bibi sudah resmi bercerai,"
"Dan itu karena kamu? Wah, luar biasa sekali putri Otis Rivers." Vio bertepuk tangan seolah-olah memberikan penghargaan kepada putrinya itu.
"Sebelum paman menikah dengan bibi, aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaan dan tiba-tiba saja aku jatuh cinta kepadanya. Saat itu, aku mengajak paman berkenalan, tapi paman sudah terlanjur pergi," jawab Nay membela diri, dia tidak ingin ibunya menilai dirinya negatif dan menganggapnya perebut suami orang.
Vio memandang putrinya. "Aku tidak pernah menganggapmh buruk, Nay. Tapi, menurutku pribadi, usiamu dengan usia Luke terpantau terlalu jauh. Aku lebih suka kepada pria disana itu. Siapa namanya?"
"Kai," jawab Nay singkat. "Aku sempat ragu karenanya tapi setelah aku pastikan, aku tidak memiliki perasaan cinta kepadanya. Mungkin, aku menganggapnya sebagai seorang kakak,"
"Kapan kamu akan menikah? Besok atau lusa?" tanya Vio lagi. "Kita harus mempersiapkan segalanya, 'kan?"
"Kalau tidak ada halangan, lusa. Aku akan menyiapkan segalanya besok," jawab Nay.
Hari itu, energi Nay seperti terkuras habis. Dia merasa lemas, tak bertenaga, dan mengantuk. Gadis itu tidak paham apa yang terjadi pada sistem di tubuhnya.
"Seharusnya aku sudah baik-baik saja, 'kan, Kai? Apa sebaiknya aku mati saja, Luke lebih perhatian kepada Ashley! Apa bagusnya wanita itu selain sehat? Cih!" Nay masih memandangi Luke yang sedang berbicara dengan Ashley sambil sesekali tertawa dan saling bersitatap.
Kai merangkul Nay dan mengajaknya beristirahat. "Jangan dipikirkan. Kamu tidak boleh mati, Nay. Hiduplah untuk dirimu sendiri dan untukku,"
Jantung Nay kembali berdebar saat Kai memintanya untuk tetap hidup. "Andai saja aku bisa mencintaimu, Kai,"
__ADS_1
"Aku tau apa alasanmu tidak bisa mencintaiku. Itu karena aku terlalu tampan dan terlalu baik, sehingga kamu tidak pantas untuk mendampingiku. Hahahaha," jawab Kai sambil bercanda. Pria itu berharap Nay dapat mengalihkan perhatiannya dan tidak terlalu memikirkan Luke.
Nay pun menurut dan beristirahat di kamar dengan Kai menemaninya. Entah mengapa, Kai merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada gadis yang sedang terlelap itu.
"Sehatlah, Nay. Jangan pergi dari sisiku, kumohon. Bertahanlah untukku," bisik Kai saat dia menemani Nay tidur. Rasa cintanya kepada gadis itu masih sangat besar, hanya saja dia ingin melihat gadis yang dicintainya berbahagia walaupun tidak bersamanya.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Kai. Pria itu membukakan pintu dan Luke segera masuk ke dalam. "Apa yang terjadi?"
"Dia cemburu padamu, Tuan Wallace," jawab Kai.
"Panggil aku Luke saja, Fletcher. Kita sekarang teman, 'kan?" sahut Luke sambil menepuk pundak Kai.
Kai mengangguk. "Baiklah, Luke. Dia cemburu padamu dan Ashley," tutur Kai lagi.
Luke mendekat ke arah Nay dan membelai rambutnya lembut. "Dia tidak perlu cemburu karena hatiku hanya untuknya. Kenapa dia masih ragu?"
"Jangan terlalu dekat dengan Ashley atau wanita manapun, Luke. Kondisi Nay belum stabil, begitu pula suasana hatinya. Dia lebih sensitif dan akan membandingkan dengan dirinya sendiri. Berikan perhatian lebih kepadanya, teruslah disampingnya," usul Kai bijak. Kadang dia juga tidak tau darimana kata-kata itu keluar. Yang dia tau, saat ini hanyalah dia tidak ingin kehilangan Nay jadi, apa pun akan dia lakukan selama gadis itu bahagia dan sehat.
"Apa Nay belum bangun?" tanya Otis kepada Luke. "Dia belum makan, 'kan?"
Luke mengangguk. "Ya, mungkin dia terlalu lelah. Aku dan Kai selalu mengecek semua tanda vitalnya dan semua normal."
"Aku ingin bicara dengan kalian berdua. Panggilkan Fletcher, biarkan Vio yang akan menjaga Nay," titah Otis.
Tak mau membuat Otis menunggu, Luke memanggil Kai di kamar Nay. Namun, dia melihat wajah Kai tampak khawatir. "Sepertinya terjadi sesuatu dengan Nay. Dia pernah seperti ini saat awal sakit. Apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke dokter? Atau, aku akan menghubungi dokter untuk datang kesini,"
Otis yang mendengar Kai berbisik-bisik, segera mendatangi mereka. "Ada apa?" tanya Otis. "Apa yang terjadi pada putriku? Aku mendengar Fletcher akan menghubungi dokter. Ada apa, Fletcher?"
Kai menjelaskan kekhawatirannya kepada Otis. "Panggil dokternya sekarang! Vio, tolong jaga Nay! Aku memanggil dokter kesini saat ini, katakan kepadaku kalau dokter itu sudah datang! Luke, Fletcher, aku butuh berbicara dengan kalian berdua!"
__ADS_1
Vio datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya panik, takut, dan khawatir. "Ada apa? Apa yang terjadi dengan Kanaya?"
"Jaga dia dulu sampai dokter datang," jawab Otis. Setelah dia mendapatkan sebuah anggukan dari Vio, Otis pun mengajak Luke dan Kai untuk membicarakan sesuatu.
"Aku tau kalian berdua mencintai anakku dan aku berterima kasih sekali untuk itu. Saat ini, kondisi Nay, seperti yang kalian tau, dia sakit. Baik aku maupun kalian berdua, tidak ingin kehilangan dia, 'kan? Maka dari itu, izinkanlah aku untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih baik sampai dia sembuh. Kalian pasti tau maksudku," ucap Otis panjang.
Kai mengangguk setuju, begitu juga dengan Luke. Jawaban dari kedua pria itu membuat Otis bernapas lega. "Baiklah kalau begitu, aku lega. Tapi, maafkan aku sebelumnya, karena aku tidak bisa mengajak kalian. Biarkanlah hanya aku dan Nay yang akan pergi. Mungkin Vio akan ikut bersama kami,"
"Baiklah, kalau memang itu yang terbaik untuk Kanaya, aku akan tetap menunggu disini, Tusn Rivers. Karena kalian sudah mengetahui tentang apa yang menimpa Nay, kalian bisa memberikan dukungan penuh untuknya. Itu akan lebih baik, bukan?" ucap Kai. Dia sudah tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat, selama Nay berada di tangan yang tepat, pria itu tidak khawatir apa yang akan terjadi dengan Nay ke depannya.
Tak lama, dokter pun datang dan memeriksa Nay. "Dia harus dibawa ke rumah sakit secepatnya, saya tidak bisa memeriksa dengan detail disini."
"Bisakah kami meminta surat rujukan? Kami ingin membawa Nay ke luar negeri untuk pengobatan lebih lanjut. Anda sudah bagus, Dokter dan perkembangan Nay di tangan Anda cukup baik. Tapi, kami ingin mencoba yang lebih baik," kata Otis, dia pun merasa sungkan meminta surat rujukan kepada dokter baik hati yang sudah merawat Nay selama ini.
Dokter itu mengangguk-angguk. "Silahkan, Tuan Rivers. Saya akan kirimkan surat rujukan serta rekam medis dari Kanaya ke email Tuan Fletcher da-,"
"Kirimkan semua ke email saya, Dokter. Karena saya ayahnya. Mulai saat ini, saya yang akan bertanggung jawan terhadap anak saya bukan Fletcher," potong Otis.
"Baiklah, akan saya kirimkan." balas si dokter.
Malam itu juga, Otis membawa Nay yang masih tak sadarkan diri ke bandara. Gadis itu dipasangi infusan untuk mencegahnya dehidrasi.
Setibanya di bandara, Otis memeluk Kai dan Luke serta mengucapkan terima kasih kepada mereka. "Terima kasih banyak untuk semuanya, Fletcher. Semoga kamu bersedia menunggu anakku untuk kembali dan bermainlah bersama dengannya saat dia sehat nanti,"
"Luke, terima kasih untukmu juga. Terima kasih kamu bersedia mencintai anakku sampai titik ini, aku harap kamu akan menunggu Nay dan akan tetap mencintainya," ucap Otis penuh haru.
Pria paruh baya itu mengizinkan Luke dan Kai untuk berpamitan kepada Nay sebelum mereka masuk ke dalam pesawat.
"Nay, cepatlah sembuh. Setelah itu kita akan menikah. Aku akan menunggumu, Sayang," bisik Luke dan mengecu kening Nay dengan sayang.
__ADS_1
Sedangkan Kai, dia menyelipkan secarik kertas di kepalan tangan Nay tanpa sepengetahuan siapa pun. "Aku masih membutuhkan teman berdebat. Hiduplah, Nay,"
...----------------...