Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Mengungkapkan Kebenaran


__ADS_3

Suara mesin monitor terus berbunyi di samping ranjang rumah sakit. Di atas ranjang tersebut, tergeletak seorang pria dengan perban dimana-mana dan alat bantu pernapasan yang dipakaikan di sekitar hidung dan mulutnya.


"Pasien sudah kami tangani dengan semaksimal mungkin, saya beserta tim berharap pasien segera sadar, mengingat banyaknya lebam dan beberapa tulangnya patah karena trauma yang pasien alami ini," ucap seorang dokter dengan stetoskop menggantung di lehernya.


"Apakah kemungkinan teman saya ini korban pemukulan, Dok?" tanya Kanaya, pipinya sudah lengket karena air mata.


Dokter itu mengangguk-angguk. "Mungkin, tapi belum bisa dipastikan kecuali pasien bersedia melakukan visum untuk mendapatkan bukti lebih lanjut tentang adanya pemukulan seperti yang Nona khawatirkan,"


"Baik, begitu pasien sadar, saya akan mencoba meminta dia untuk mau bekerja sama melakukan visum seperti yang Dokter katakan tadi," ucap Kanaya.


Setelah dokter pergi, Kanaya kembali menemani Kai yang masih belum sadarkan diri. Dia membelai kening teman prianya itu. "Kamu sok berani, Kai. Kamu bukan Superman atau Captain America, kamu hanya seorang Kai! Kenapa sih, Kai?"


Kanaya pun menangis hingga tertidur dengan menggenggam tangan Kai. Tiba-tiba saja, seseorang menyentuh pundaknya. "Nay,"


Gadis itu terbangun dan menoleh ke belakang. "Paman! Darimana Paman tau aku ada di sini?"


"Ayahmu yang memberitahuku," jawab Luke singkat. Dia mendekat ke arah ranjang Kai dan memperhatikan pria itu dan mendengus pelan.


"Sampaikan pesanku kepada Tuan Fletcher kalau sudah siuman nanti, katakanlah untuk tidak mencampuri urusan orang lain," sahut Luke.


Kanaya terkejut mendengar pesan pamannya itu. Dia menatap Luke dengan tatapan tak percaya. "Paman yang membuat Kai seperti ini?"


Luke menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau siapa yang berbuat itu kepadanya, mungkin saja orang lain yang tidak suka dicampuri urusannya oleh Bajingan Tengik ini, huh!"


"Paman! Kenapa Paman bisa sebenci itu pada Kai? Dan ucapan Paman itu, tidak pantas sekali diucapkan kepada orang yang sedang mengalami bencana seperti ini, Paman!" tukas Nay kesal.


Tanpa alasan yang jelas, Luke membenci Kai dan di waktu yang sama, Luke juga menjauh dari Nay. Entah apa yang terjadi. Nay merasa hatinya sangat hancur dan dia sulit sekali untuk melupakan Luke dari hidupnya.


Air mata Nay kembali membasahi pipinya. "Kai, cepatlah bangun supaya aku punya teman bicara,"


"Apa kau tidak menganggapku sebagai temanmu, Nay?" tuntut Luke.


Dengan kasar, dia menarik tangan kecil Nay dan menyeretnya keluar dari ruangan tempat Kai dirawat.

__ADS_1


"Sakit, Paman! Lepas!" tangis Nay. Gadis itu berusaha memberontak dari cengkeraman lengan kekar pamannya.


"Kamu sudah mengambil hatiku, Nay dan kamu belum melepasnya. Kenapa tiba-tiba saja kamu menerima lamaran dari North dan hanya selang satu hari, kamu mengganti lamaran North dan berkata kamu akan menikahi Fletcher! Lalu, bagaimana denganku?" tanya Luke.


Nay memukul Luke dengan kepalan tangan kecilnya. "Paman yang mengatakan kepadaku kalau Paman ingin berbulan madu bersama Bibi dan Paman juga mengatakan kepadaku kalau Paman tidak bisa menceraikan Bibi, lalu aku harus apa? Paman egois kalau membiarkan aku menunggu!" Kanaya masih dipenuhi dengan emosi. Air matanya membanjiri kedua matanya.


Luke menangkap pergelangan tangan Kanaya dan memeluknya. "Nay! Nay, tenang dulu. Maafkan aku karena membuatmu bingung. Aku juga bingung harus apa. Semua yang kamu minta, tidak bisa dilakukan dengan mendadak. Aku tidak bisa menceraikan Alma tiba-tiba. Mengertilah, Nay,"


"Tapi, Paman 'kan bisa mengatakan kepadaku kalau kondisinya seperti itu! Bukannya marah-marah karena aku bertunangan dengan North atau dekat dengan Kai! Itu tidak lucu, Paman!" sahut Nay kesal.


Luke semakin erat mendekap Nay dalam pelukannya. Sesaat dia tersadar kalau Nay sungguh-sungguh mencintainya dan membutuhkan dia dalam hidupnya. Begitu juga dengan dia sendiri, entah sejak kapan tapi Nay menjadi berarti baginya.


"Seharusnya Paman sudah mengerti kalau aku mencintai Paman. Aku mengungkapkan perasaanku berkali-kali kepada Paman, tapi kenapa Paman masih marah kepadaku karena aku dekat dengan Kai? Aku tidak mengerti cara berpikir Paman," kata Nay. Dia mulai tenang berada di dalam pelukan pria yang dicintainya itu.


"Aku takut kehilanganmu, Nay," jawab Luke singkat sambil mengecup bibir Nay yang sudah lama dia rindukan.


Sementara itu, Kai mulai membuka kedua matanya perlahan. Dia menggerak-gerakkan tangan juga secara pelan. Beruntunglah, seorang perawat sedang memeriksa kondisinya mengetahui kalau Kai sudah siuman.


Perawat itu memanggil dokter dan memberitahunya kalau pasien atas nama Kai Fletcher sudah sadar. Tak lama, dokter pun datang dengan langkah cepat seolah terbang.


Seorang perawat yang berdiri di sampingnya segera berlari kecil dan menjulurkan kepalanya sembari berteriak, "Keluarga Kai Fletcher!"


Untunglah Nay tidak berada jauh dari sana, sehingga dia dapat mendengar suara panggilan dari perawat tersebut. "Ya, ya, saya, Suster,"


Kanaya pun bergegas menghampiri perawat itu dan kemudian masuk ke dalam ruangan tempat Kai. "Bagaimana Dokter?"


"Pasien sudah sadar, kondisi umum pasien juga bagus. Tidak demam atau pun kejang. Kami dapat menyimpulkan kondisinya baik-baik saja. Tinggal menunggu tulang patahnya untuk menyambung kembali. Biasanya sekitar kurang lebih 6 bulan, kondisi pasien sudah dapat pulih sepenuhnya, " jawab dokter itu.


Kanaya menghembuskan napasnya lega. "Oh, syukurlah, Dokter kalau begitu. Paling tidak temanku tidak akan mati dalam waktu dekat ini, 'kan?" Nay tertawa kecil berusaha menghibur Kai yang masih tampak linglung.


"Syukurlah, Kai. Cepatlah sembuh, aku akan membawakanmu sup tulang sapi dan vitamin tulang dosis tinggi supaya tulangmu cepat pulih," kata Nay setelah dokter itu pergi.


Kai mendengus. "Huh! Dasar orang kaya!"

__ADS_1


Malam itu, Otis datang menjenguk Kai. "Ah, Jagoanku, kupikir kamu tidak bisa sakit ternyata saat ini kamu tergeletak lemah tak berdaya. Huh!"


Kai tersenyum mendengar cemoohan dari Otis. Dia tahu kalau Otis hanya mengajaknya bercanda. "Even heroes had the right to bleed, 'kan?"


"Hahahaha! Berarti kamu punya kryptonite? Malam ini, aku akan mengirimkan pengawalku untuk menjagamu. Biarkan Kanaya beristirahat di rumah. Kasihan dia jika harus bermalam di rumah sakit," usul Otis berbaik hati.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan Rivers. Aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja," tolak Kai dengan halus.


Dia tidak mau terlanjur mencintai Nay dan ayahnya. Sulit untuknya jika suatu saat, Nay lebih memilih pria lain dibandingkan dengan dirinya yang hanyalah seorang pria biasa.


"Aku memaksa! Jangan menolak kebaikan orang lain, Anak Muda," tukas Otis.


Tak lama, masuklah seorang pria berbadan tegap dan mengenakan pakaian serba hitam dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


"Nah, ini dia. Masuklah, Jay!" seru Otis kepada pria besar itu.


Kai mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. "Hai, Jay. Kamu boleh berbaring di manapun kamu mau,"


"Tugas dia adalah berdiri, bukan berbaring, Kai. Hahaha. Ya sudah, aku tinggal dulu untuk mengantar Kanaya. Cepatlah sembuh, Mocha sudah merindukanmu," ucap Otis menepuk pundak Kai yang segera saja mengaduh kesakitan.


"Tuan Rivers,"


Otis menatap manik hitam Kai. "Ya?"


Kai menimbang-nimbang apa yang ingin dia sampaikan saat ini. "Maafkan aku sebelumnya, tapi aku rasa antara Tuan Wallace dan Kanaya memiliki hubungan serius,"


"Hahaha, tentu saja serius. Mereka bersaudara, Kai. Ada-ada saja kamu," sahut Otis berkelakar.


"Maksudku, bukan hubungan saudara, Tuan Rivers. Hubungan mereka lebih dari itu. Maksudku, hubungan pria dan wanita. Aku memang tidak punya bukti apa pun yang bisa kuberikan untuk Anda, Tuan. Aku mendengarnya sendiri," Kai menatap tajam netra Otis dan detik itu juga dia menemukan Kanaya di mata Otis. "Tujuanku mengatakan ini bukan untuk mengadu domba, aku hanya ingin Kanaya melupakan Tuan Wallace yang sudah menikah dan menata kembali hidupnya ke jalan yang benar. Maafkan aku, Tuan,"


Otis terdiam. Pria tua itu sedang melakukan kilas balik ke belakang. Memang ada beberapa perubahan yang terjadi pada anaknya, seperti dia yang jarang pulang ke rumah, dandanannya juga berubah, menjadi lebih dewasa.


"Aku tidak akan mempercayaimu begitu saja, Tuan Fletcher. Kalau kamu sudah berani mengungkapkan sesuatu, kamu juga harus berani bertanggung jawab. Aku rasa, kamu sudah tau hukum sederhana macam itu. Bersiaplah, Kai. Aku sendiri yang akan membuktikan kebenarannya!" erang Otis dan dengan gusar dia melangkah pergi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2