Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Kejutan Dari Otis


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang besar untuk Otis Rivers. Mulai dari dia membuka mata, wajahnya tampak cerah ceria dan dia menbawa senyumnya ke manapun dia pergi.


"Selamat pagi," ucapnya ceria kepada para pelayan di rumahnya.


Hanya ada 1 hal yang membuatnya bersedih hati, anak gadis satu-satunya tidak pulang ke rumah. Kemudian, dia mempunyai sebuah ide untuk memberikan kejutan kepada anak gadisnya itu.


"Bagaimana persiapan hari ini?" tanya Otis kepada Agnes, asisten pribadinya yang kebetulan mengurus acara besarnya malam nanti.


("Selamat ulang tahun, Tuan Rivers. Persiapan hari ini berjalan dengan lancar, Tuan dan tamu undangan juga hampir 90% sudah mengkonfirmasi akan hadir nanti malam,") jawab Agnes.


Otis terkekeh. "Aku sudah tua, hehehehe. Pesta ini aku adakan untuk Kanaya. Hari ini aku akan meresmikan kepemilikan Rivers Group kepadanya dan juga aku akan mengumumkan sesuatu yang akan membuat gempar dunia bisnis, hahahaha. Panggil pers juga, Agnes. Kita akan menjamu mereka,"


("Baik, Tuan Rivers,") jawab Agnes.


Setelah mengakhiri teleponnya dengan Agnes, Otis pun bersiap memberikan kejutan untuk anak gadis kesayangannya itu.


Sudah hampir satu bulan ini, Nay dan Luke tidak saling bertemu kecuali saat mereka di kantor. Sepulang dari kantor, Luke akan segera pulang dan tak jarang juga, Luke mengambil cuti hari itu.


"Paman sibuk sekali. Aku baru tau kalau bibiku sangat manja!" ucap Kanaya hari itu setelah mereka selesai rapat.


Luke mengunci ruang rapat dan menutup jendela kaca ruangan itu. Dia berjalan menghampiri Nay dan memeluknya dari belakang. "Aku juga merindukanmu, Nay. Tapi untuk saat ini, kita tidak bisa sebebas kemarin,"


Nay memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan pamannya yang memiliki postur tubuh tinggi itu. Dia mengalungkan lengannya ke leher Luke dan berjinjit untuk menciumnya. "Bagaimana kalau siang ini?"


"Hmmm, saat jam makan siang?" tanya Luke, pria itu mengangkat tubuh Nay ke atas meja dan memberinya sebuah pagutan yang dalam dan lama. Dia memasukan semua rasa rindunya ke dalam ciuman itu.


"Yups, bagaimana?" Nay memastikan kembali. Suaranya mulai mendessah dan terdengar kalau dia sudah menikmati permainan kecupan yang diberikan oleh pamannya itu.


Setelah Luke mengangguk setuju, mereka berdua pun segera keluar dari ruangan rapat itu dengan profesional.


Tak sampai 30 menit, seluruh sikap profesional mereka ditanggalkan bersamaan dengan seluruh pakaian mereka. Rindu yang sudah kedua pasangan itu tahan kini dapat mereka luapkan.


Suara lenguhan dan dessahan memenuhi ruangan apartemen itu. Entah apa, bagaimana, dan tangan siapa yang mana, sudah tidak dapat dipastikan lagi.


Sayangnya aktifitas mereka terpaksa terganggu karena Nay mendengar suara bel pintu.

__ADS_1


"Ah, ****! Siapa itu, Nay?" tanya Luke saat dia sibuk menggempur Kanaya.


"Aku tidak tau dan aku tidak peduli. Lanjutkan, Paman," pinta Nay. Gadis itu menarik wajah pamannya dan melummat bibir Luke dengan penuh gairah.


Suara bel pintu itu tidak berhenti, begitu pula dengan permainan Kanaya dan Luke di dalam.


"Paman, aku sudah mau sampai, ooohhh!" Nay berseru dan mencengkeram kuat-kuat pundak pamannya.


Luke mengangguk cepat, dia pun merasakan hal yang sama dengan gadis yang berada di bawah kungkungannya itu. "Oohhh, Nay!" kecupan demi kecupan terus membanjiri tubuh Nay tanpa satu inci pun terlewati.


"Kalau Paman terus begini, kita akan bermain lagi dan tamuku akan berjamur di luar sana, hehehe," ucap Nay dengan manja. Gadis itu duduk di pangkuan pamannya yang masih asik menikmati tubuh mulus Nay.


"Kamu membuatku kecanduan, Nay. Bagaimana ini? Aku tidak bisa berhenti dan ingin mencumbuimu lagi, lagi, dan lagi, Nay," sahut Luke enggan melepaskan ciumannya.


Tiba-tiba, ponsel Nay berdering. Nama Papa Otis tertera di layar ponsel itu. "Aku akan menghubungi Papa kembali dan sepertinya kita sudah harus menghentikan permainan kita kali ini, Paman sebelum tamuku mendobrak pintu apartemenku,"


"Begitukah? Aku masih ingin bersamamu, Nay," ujar Luke, kali ini dia memainkan pucuk bukit Nay dengan lidahnya.


Nay kembali menggelinjang dan menahan suara dessahannya. "Pahmaaan, ooh, hentikan,"


Ponsel Nay kembali berdering. Dengan cepat Nay menjawab panggilan dari ayahnya itu. "Ya, Papa,"


"Aku tau kamu ada di dalam apartemenmu, suara ponselmu terdengar dari luar, Kanaya. Bukakan pintu untukku," titah Otis.


"Heh! Papa yang sedari tadi membunyikan bel pintu?" tanya Nay, yang segera saja merapikan pakaiannya. "Tunggu, akan aku bukakan! Biasanya Papa langsung masuk tanpa membunyikan bel,"


Nay berlari ke kamar kecil dan membuka pintu yang tidak terkunci itu. Dia menatap tubuh pamannya yang seakan memanggil-manggil namanya untuk segera mendekapnya.


"Nay, ada apa?" tanya Luke tersenyum senang melihat keponakannya yang terpesona dengan tubuh sekssinys itu.


"Ah, hentikan tawamu, Paman! Papa ada di luar! Pakai kemejamu, dan segera nyalakan laptop," tukas Nay cepat.


Setelah mendapat jawaban dari Paman Luke, Nay menata meja kerjanya seolah mereka sedang mengadakan rapat penting.


"Papa!" Nay memeluk Otis begitu dia membukakan pintu untuk ayahnya itu.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" tanya Otis. "Kamu sedang bekerja di sini? Kenapa tidak di kantor? Kamu sakit?" Otis memegangi kening putrinya dan mengecek suhu tubuh Nay.


Raut wajah Nay berubah. "Aku sedang sedikit tidak enak badan makanya aku tidak ke kantor,"


"Siapa saja yang datang, sepertinya ramai sekali. Kalau tau kamu sedang rapat, aku akan membawakan makanan untukmu. Ah, tapi kamu lupa hari ini hari spesialku," tuntut Otis sambil memonyongkan bibirnya.


Nay kembali memeluk Otis. "Aku tidak lupa. Happy birthday, Papaku Sayang,"


Otis tertawa bahagia mendengar ucapan dari putrinya. "Hehehe, kupikir kamu melupakan ulang tahun pria yang sudah tua ini,"


"Tidak dong, Pa. Papa jangan tua, nanti tidak ada yang menemaniku lagi," sahut Nay dengan manja.


"Makanya, Papa mau kamu cepat menikah supaya ada yang menemani anak gadis Papa," ucap Otis tertawa.


Luke datang dan memecah waktu khusus Nay dan ayahnya. "Kak Otis," sapanya.


Kedua alis Otis saling bertautan. "Luke? Kejutan sekali kamu ada di sini,"


"Nay mengajakku rapat di sini, beberapa karyawan sedang mencari makan. Tapi tadi aku menyuruh mereka untuk segera kembali ke kantor," ucap Luke beralasan.


Nay melirik ke arah pamannya dan memberikan senyuman dari sudut bibirnya. "Kamu kembali saja ke kantor karena aku ingin putri kesayanganku temaniku di hari spesialku ini. Apa kau tahu hari ini hari apa, Luke?"


Pria yang memiliki senyuman memikat itu pura-pura berpikir dan kemudian, "Ah, selamat ulang tahun, Kak Otis,"


"Hahaha, kupikir kamu lupa ulang tahunku. Alma juga belum mengucapkan ulang tahun kepadaku. Apa kalian berencana memberiku kejutan? Hah?" tanya Otis kegirangan.


Luke tersenyum. "Itu rahasia, Kak, hahahaha,"


"Malam ini datanglah ke acara ulang tahunku. Aku akan mengumumkan dua acara besar. Akan kubocorkan kepadamu, yang pertama adalah peresmian pemindah tanganan Rivers Group kepada Kanaya, hehehe. And the second one, wait for it, ...." Otis tersenyum sambil melirik ke arah Nay dan Luke bergantian. "Tentu saja, pengumuman pertunangan kamu, Nay dengan Felix North,"


"Apa!" tukas Nay. "Papa bercanda, 'kan?"


Otis tertawa. "We'll see, Nay," ucap Otis sambil terus tertawa senang.


Baik Nay maupun Luke saling bertukar pandang dan menenangkan melalui kedua mata mereka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2