Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Sebuah Filosofi


__ADS_3

"Tuan Sean West?" tanya Luke begitu pintu ruangan terbuka. Luke sedang berada di sebuah restoran ala Jepang dan mengajak Tuan West untuk bertemu dengannya. Dari informasi yang Luke dapatkan, Tuan West sangat menyukai makanan Jepang, maka, Luke merogoh kocek yang cukup besar untuk menyewa satu ruangan pribadi restoran itu untuk mereka berdua.


Saat Luke tahu dia melakukan kesalahan, hari itu juga Luke segera menghubungi Tuan Sean West west dan memintanya untuk bertemu dengannya.


Sean West adalah sosok pria yang ternyata tidak seperti bayangan Luke. Usia West mungkin sama dengan Luke. Dia gagah dan mungkin juga ada keturunan Jepang jika dilihat dari wajahnya.


"Wallace? Bagus juga pilihan restoranmu. Ternyata kamu sudah mencari tau tentangku supaya aku bisa memaklumi kesalahan fatalmu, huh? Aku akan melihat, seberapa besar permintaan maafmu setelah itu, aku akan menentukan apakah aku bersedia bernegosiasi denganmu," ucap Sean sombong.


Luke mengeratkan giginya. Kalau bukan untuk meminta maaf, bogemnya akan dengan senang hati berkenalan dengan pria itu dan melenyapkan senyumnya yang sombong. "My mistake. Human error, you know. Ketika kita lelah, kesalahan bisa terjadi begitu saja, 'kan? Dan tentang mark up-,"


"Mark up yang kalian buat, sungguh tidak tau malu sekali! Lebih dari 100% kamu menaikkan angka! Apa yang kamu harapkan dari angka besar seperti itu?" tanya Sean takjub.


"Dana darurat, jika kami ternyata memiliki kerugian di saat kamu start running. Ada yang salah dengan itu?" jawab Luke santai.


Lagi-lagi Sean menanggapinya dengan sombong. "Kenapa kamu memikirkan rugi di saat kamu bahkan belum memulainya. Aku suka ide itu. Kasarnya, seperti memasukan sebuah gedung ke dalam laut. Brilliant! Aku yakin, bukan kamu seorang yang memiliki gagasan luar biasa ini, 'kan?"


"Kanaya Rivers. Beliaulah yang memiliki ide untuk membuat perusahaan di bawah laut," jawab Luke sedikit bangga.


Sebelum Sean menjawabnya, seorang pelayan masuk dengan membawa teko teh beserta dua cangkir kecil. Tak lama, pelayan yang lain datang dengan membawa sushi sashimi platter.


Setelah pelayan-pelayan itu pergi dan menutup pintu, Sean menanggapi jawaban Luke. "Kanaya Rivers. Gadis yang menarik. Aku pernah bertemu dengannya. Aku akui dia cerdas dan idenya luar biasa,"


Sean menyumpit satu buah sushi, meletakkan wasabi di atasnya dan mencelupkannya ke dalam kecap asin sebelum dia masukan ke dalam mulutnya. "Kanaya Rivers, gadis sushi,"


"Apa maksudmu? Kamu menyamakan dia dengan sushi? Tidak sopan sekali!" tukas Luke.


"Mengapa aku sangat menyukai makanan ini? Karena semuanya serba pilihan. Mulai dari pemilihan nasinya, jika bukan beras khusus, dia tidak akan bisa tergulung sempurna seperti ini dan lihat saja, apa yang membuatnya nikmat. Bahan yang tampak sederhana tapi memiliki kualitas terbaik," kata Sean sambil memperhatikan satu buah sushi yang digulung dengan memakai salmon dan telur ikan di atasnya.


Luke memikirkan jawaban Sean kemudian dia tersenyum. "Mungkin kamu benar,"


Mereka berdua pun dengan cepat menjadi akrab. Luke menjabarkan tentang proyek yang akan dia dan Nay buat sampai membutuhkan dana sebesar itu.

__ADS_1


"Pemerintah harus masuk karena kalian akan membangun semacam benteng air," ucap Sean lagi.


"Sedang kami usahakan," kata Luke.


Kini, Luke bisa bernapas lega karena ternyata Sean bukan seorang pemimpin yang pendendam. Dia memahami kesalahan dan menerima alasan Luke dengan baik.


"Aku tidak memaafkanmu, Wallace. Posisimu aman hanya karena kamu membawa nama Kanaya Rivers, My Sushi Girl. Aku akan menyetujui dan menandatangani kontrak kerja sama itu. Katakan kepada Otis Rivers kalau kamu telah memenangkan West Corporate," ujar Sean seraya menandatangani dokumen berisi proposal pengajuan kerja sama itu. "Lain kali, berhati-hatilah." sambungnya lagi sambil menunjukan print out rancangan keuangan Rivers Group.


Sementara Luke disibukkan dengan proyek baru Rivers Group, Kanaya disibukkan dengan tugas-tugas kuliahnya. "Aku tidak bisa, aku menyerah, aku tidak sanggup lagi, Kai! Ini gila!" kata Nay suatu hari sambil mengacak-acak rambutnya kasar.


Wajahnya tampak lelah dan tubuhnya semakin mungil saja walaupun makannya bertambah banyak. "Istirahatlah, Nay. Jam tidurmu sangat kurang jika kuperhatikan."


"Itu karena tugasku banyak, Kai." ucap Nay berkilah.


Jari telunjuk Kai bergoyang-goyang. "Tugasmu tidak banyak, Nay. Kamu sengaja mengerjakannya malam supaya kamu tidak mengingat pamanmu. Binggo!" tukas Kai.


Nay berdecih. "Cih! Makanya kalau malam, jangan tidur duluan! Temani aku sampai aku tertidur! Payah!"


Gadis itu pun duduk di kursi makan dan melahap sup hangat buatan Kai. Dia bersyukur Kai ada bersamanya saat ini. Paling tidak, dia memiliki teman untuk bicara dan berkeluh kesah.


"Ah, kenyangnya," ujar Nay sambil meregangkan tubuhnya. "Terima kasih untuk makanannya, Kai. Ini enak sekali," sambung Nay, memberikan ibu jari kepada pria yang serba bisa itu.


"Cih!" sahut Kai berdecih, tetapi hatinya bersorak gembira setiap kali Nay memuji masakannya.


Saat hari menjelang malam, Nay mulai menyibukkan diri dengan laptop dan buku-bukunya. Dia benar-benar memegang teguh prinsipnya untuk tidak menghubungi ayahnya atau pun Luke. Walaupun hatinya, ingin sekali menekan kedua nomor itu dan mendengarkam suara mereka.


Sebuah ketukan di pintu kamar Nay terdengar, "Masuk saja. Sejak kapan kamu mengetuk pintu?"


Kai menjulurkan kepalanya. "Ayahmu ingin berbicara kepadamu, Nay. Bicaralah,"


Nay menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Katakan pada ayahku, aku akan ke sana,"

__ADS_1


Tak lama, dengan masih memakai piyama panjang dan kacamata tebal, Nay menghampiri laptop Kai yang dipenuhi wajah ayahnya.


"Naya! How i missing you, Dear," ucap Otis, matanya berkaca-kaca saat melihat Nay menghampirinya.


"Papa, apa Papa sehat? Apakah Papa makan teratur?" tanya Nay. Hatinya luluh saat melihat wajah ayahnya dan rasa rindu kembali menguasainya. "I miss you too, Pa,"


Otis tertawa senang. "Lihatlah aku, aku sangat sehat karena makanku teratur. Fletcher selalu menghubungiku dan kadang menemaniku untuk makan, hehehehe. Anak itu, aku semakin suka padanya,"


"Ah, tapi bagaimana denganmu, Nay? Kamu kurus sekali! Apa makanmu banyak? Bagaimana tidurmu? Kamu sudah makan malam hari ini? Aku akan mengirimmu uang dan belilah susu serta makanan yang enak dan banyak, Nay," ujar Otis. "Ah, ah! Aku tidak menerima penolakan! Terimalah dan aku akan meminta Fletcher untuk mengawasi pola makan dan tidurmu,"


Kai mengangguk. "Baik, Tuan Rivers. Akan kupastikan Nay makan dan istirahat dengan baik,"


"Kai, apakah pamanku juga menghubungimu dan bertanya tentangku?" tanya Kanaya saat mereka selesai berbicara dengan Otis.


Ingin rasanya Kai tidak menjawab pertanyaan itu, akan tetapi jika Nay mengetahui kebenarannya, dia akan marah besar kepada Kai. "Ya, dia menghubungiku sesekali, hmmm, maksudku seminggu sekali. Ah, baiklah, dia menghubungiku sehari tiga sampai empat kali!"


Tanpa Kai sadari, wajah Luke sudah ada di layar laptopnya. "Tu-, Tuan Wallace! Nay! Haish!" Kai segera meninggalkan ruangan itu dengan kesal.


"Paman," ucap Nay. Jari-jari lentiknya mengusap wajah pamannya yang terpampang menjadi sebuah gambar digital.


"Aku merindukanmu, Nay. Bagaimana kabarmu?" tanya Luke. Jari-jarinya mengikuti kemana jari-jari Nay pergu.


Nay mengangguk. "Aku baik dan aku kacau," butiran bening dari pelupuk mata Nay bergulir jatuh di pipinya.


Suara Luke terdengar parau. Dia menyugar rambutnya ke belakang. "Aku pun kacau tanpamu, Nay. Aku ingin bersamamu, aku-,"


Tiba-tiba saja, Bibi Alma masuk ke dalam ruangan kerja Luke dan menggeser kursi yang diduduki oleh suaminya itu "Nay! Bisakah kamu berhenti mengganggu suamiku!"


"Bibi? A-, aku, ...."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2