Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Felix North


__ADS_3

Seorang pria duduk termangu di depan laptopnya sambil memutar-mutarkan dirinya di kursi kerja miliknya. Pria itu memandangi sebuah foto seorang wanita yang terpampang di layar komputernya.


"Kanaya, kenapa aku jadi menyukaimu? Padahal kamu menolakku dua kali, Nona Rivers. Dua kali. Seumur hidupku, aku tidak pernah mengalami penolakan dari seorang wanita, tapi kamu berani menolakku dua kali! Wah, hahahaha! Luar biasa," ucap Felix bermonolog. Dia menjentikkan jarinya ke layar komputer tersebut.


Setelah untuk kesekian kalinya di pagi itu dia memandangi foto Kanaya, dia pun beranjak dari kursi kerjanya.


"Dad, apakah Tuan Rivers sudah memutuskan tentang pernikahan itu?" tanya Felix saat dia bergabung dengan kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.


Sambil mengoles roti gandumnya dengan selai, Tuan North mengerutkan keningnya. "Otis belum menghubungiku tentang hal itu. Tapi ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, apakah kamu serius dengan putri Tuan Rivers?" tanya Tuan North, mengingat jejak Felix yang di cap sebagai Pemain Hati Wanita oleh para wartawan.


"Mungkin putri Tuan Rivers sudah mengetahui jejakmu di dunia percintaan, jadi dia sengaja menunda-nunda pernikahan putrinya sampai kamu bertobat," ucap Nyonya North yang bergabung di dalam pembicaraan mereka. "Apa kamu sudah membaca tentang beritamu yang tersebar di media sosial? Itu dituliskan dengan jelas sekali, 'Putra Petinggi North Tertangkap Basah Sedang Mabuk Bersama 2 Orang Wanita'. Menurutku itu tidak pantas, hilangkan dulu berita-berita seperti itu, setelah itu baru pikirkan menikah dengan putri Otis Rivers!"


Baik Tuan North maupun Felix terdiam mendengarkan perintah dari Nyonya North tersebut.


"Kaitlyn, kadang berita itu suka dilebih-lebihkan. Maksudku, jangan terlalu percaya dengan apa yang tertulis di media sosial, apalagi sudah beritanya belum jelas dari mana," sahut Tuan North membela putranya.


Tatapan maut Nyonya North membuat putra dan suaminya diam seketika. "Aku tidak mempercayai berita-berita itu hanya saja tidak ada salahnya, 'kan kita berhati-hati dalam bertindak? Dan ini tidak hanya satu atau dua kali saja tapi sering!" Kali ini Nyonya North menatap tajam kepada Felix. "Setiap orang tua akan selalu menjaga putrinya, begitu pula yang dilakukan oleh Otis Rivers. Apalagi Kanay Rivers adalah putri satu-satunya sekaligus pemimpin Rivers Group. Wajar saja jika mereka tidak segera menyetujui pernikahan ini,"


"Ya, Mom. Aku akan ingat kata-kata Mommy karena sepertinya saat ini aku jatuh cinta kepada Kanaya Rivers," tutur Felix menjelaskan.


Bagai gayung bersambut, ponsel Tuan North berbunyi. Satu pesan masuk di ponsel berlambang buah apel itu dan Tuan North segera membuka pesan dari Si Pengirim.


"Oh, ini Otis! Dia mengajakku bertemu! Aku harap dia akan membahas mengenai pernikahan kalian," sahut Tuan North. Matanya memandang Felix yang melihatnya dengan pandangan harap-harap cemas.


"Jangan terlalu berharap dulu, John. Temui saja dia dan cari tau apa yang ingin dibicarakannya denganmu," balas Kaitlyn, dingin.


"Ya, Sayang, aku tidak akan banyak berharap dulu," jawab John patuh.

__ADS_1


Pertemuan John dengan Otis berlangsung cukup lama. Dugaan Kaitlyn ternyata benar, Otis tidak membicarakan tentang pernikahan tetapi dia membicarakan tentang kerjasama perusahaan yang sudah lama mereka rencanakan.


John pun memberanikan diri untuk bertanya perihal pernikahan saat obrolan mereka mulai santai. "Ehem, Otis! Bagaimana kabar Kanaya? Sepertinya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan putrimu itu dan kamu juga tidak menceritakan tentang kabar anak gadismu yang cantik itu,"


Otis mengulum senyumnya. "Aku lupa memberitahumu kalau aku sekali lagi terpaksa harus menunda pernikahan anak-anak kita," ucap Otis. "Beberapa minggu yang lalu karena ia mengatakan kepadaku kalau dia ingin melanjutkan studi untuk memperdalam ilmu bisnisnya. Kamu tahu, 'kan kalau Kanaya sudah resmi menjadi pemimpin Rivers Group saat ini? Jadi, aku kirim dia ke luar negeri untuk melanjutkan studinya mungkin sekitar 1 sampai 2 tahun dia baru akan kembali ke sini,"


"Wah, lama juga, yah? Apakah putraku tidak terlalu lama menunggunya? Maksudku saat liburan semester nanti dia bisa pulang dulu ke sini untuk melangsungkan pernikahan setelah itu karena ia bisa melanjutkan studinya kembali di sana. Bagaimana menurutmu dengan usulku itu, Otis?" tanya John North.


Otis terkekeh. "Hehehe, jika Felix memang benar-benar jatuh cinta kepada Kanaya, dia akan menunggu putriku, John. 1-2 tahun, tidak akan lama,"


Begitulah pada akhirnya, John memberitahukan kepada Felix, putranya perihal Kanaya yang saat ini berada di luar negeri.


"Aku akan menemui Tuan Rivers," ucap Felix. Dia pun segera bergegas pergi ke tempat Tuan Rivers untuk menemui Otis.


Setibanya disana, Kailah yang menerima Felix. "Ada keperluan apa dengan Tuan Rivers?"


Dengan berlagak penting, Kai mengulurkan tangannya. "Saya? Oh, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Tuan Fletcher. Untuk saat ini, saya adalah tangan kanan Tuan Rivers,"


"So, please don't waste my time. Bisa saya bertemu dengan Tuan Otis Rivers?" tanya Felix lagi, wajahnya mulai terlihat kesal.


"Saya akan memberitahukan kedatangan Anda, silahkan menunggu," ucap Kai, dia pun bergegas menemui Otis untuk memberitahukan pesan Felix North.


Otis mengerutkan keningnya. "Felix North? Tanpa orang tuanya?"


"Betul, Tuan. Dia datang sendiri," jawab Kai.


"Suruh dia masuk. Aku ingin tau, ada keperluan apa Anak Muda itu menemuiku?" sahut Otis lagi.

__ADS_1


Kai membungkukkan tubuhnya dan kemudian dia memanggil Felix untuk masuk ke dalam ruangan kerja Otis.


Tak lama Felix pun masuk dan mengungkapkan tujuan dia datang ke tempat itu.


"What? Jadi kamu ingin mencari tahu tentang Kanaya?" tanya Otis..


Felix mengangguk. "Benar, Tuan. Karena sepertinya Kanaya telah mengganti nomor ponselnya yang lama dan saya seperti kehilangan jejaknya,"


"Aku mengganti nomor ponsel Kanaya karena suatu alasan. Ah, sebelum itu, kenapa kamu mau menghubungi anakku?" tanya Otis sambil menyesap kopinya. Otis juga menawarkan permen jeruk kepada Felix. "Ini permen kesukaanku, hehehe,"


Felix menggeleng dengan sopan. "Nanti saja, terima kasih. Sejujurnya aku penasaran kenapa karena dia selalu menolak untuk menikah denganku. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah mengalami penolakan. Wanitalah yang selalu datang kepadaku bahkan beberapa dari mereka memohon untuk menjadi kekasihku. Tapi tidak dengan Kanaya, dia berbeda sekali dengan wanita kebanyakan, Tuan. Dia membuatku penasaran,"


Otis tertawa bangga tapi kemudian dia disadarkan oleh kenyataan tentang alasan Kanaya menolak perjodohannya dengan Felix. "Ya, begitulah Kanaya,"


"Maka dari itu, aku ingin meminta izinmu untuk melakukan pendekatan dengan putri Anda. Mungkin saja, jika aku pelan-pelan mendekatinya, dia akan membuka hatinya untukku," jawab Felix.


Pria setengah botak yang sedang mengulum permen jeruk itu pun mengangguk. Dia memang berharap putrinya itu mampu melupakan Luke dan dengan bantuan Felix, mungkin saja perhatikan Kanaya akan teralihkan dengan adanya Felix.


Otis mengirimkan nomor ponsel Kanaya kepada Felix melalui pesan. "Aku harap, kamu tidak membocorkan nomor baru Kanaya ini kepada orang lain. Bahkan kedua orang tuamu pun, jangan!"


Wajah Felix berseri-seri. "Aku berjanji, Tuan Rivers. Andaikan, aku berubah pikiran dan ingin menyusul Kanaya disana, apakah Anda akan mengizinkanku?"


"Silahkan, Tuan North," jawab Otis lagi sambil tersenyum penuh arti.


Selepas kepergian Felix, Otis memanggil Kai untuk menemuinya. "Dia adalah calon suami Kanaya. Aku memberikan kepada pemuda itu akses untuk berhubungan dengan anakku. Sama sepertimu. Bersainglah kalian berdua dan taklukan hati putriku,"


Kai mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Otis yang kini tersenyum kepadanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2