Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Cinta Dan Rahasia


__ADS_3

"Kanaya! Kemana sopan santunmu saat acara kemarin? Aku tidak pernah mendidikmu untuk lari di tengah-tengah acara seperti itu!" tukas Otis keesokan paginya.


Namun demikian, acara ulang tahun Otis kemarin berjalan dengan lancar hingga acara itu selesai.


Kanaya tertunduk dan wajahnya mengeras. Tanda bahwa apa pun yang akan dilakukan oleh ayahnya, akan dia tolak. Otis menghela napas panjang. "Jika kamu seperti ini, kamu mengingatkanku pada ibumu. Aku selalu menyerah jika ibumu memasang wajah seperti itu,"


"Aku tidak mau bertunangan dengan Felix, Pa. Kalau hanya untuk berteman aku masih oke, tapi untuk menjalin hubungan yang serius dengannya, aku tidak mau," ucap Kanaya. Jari-jarinya sibuk menguntel-nguntel ujung kaus tidurnya.


"Apa alasanmu menolak pertunangan itu?" tanya Otis tajam.


Nay terdiam sesaat. Gadis itu mencari alasan yang bagus untuk dia berikan kepada ayahnya. "Aku sudah memiliki kekasih,"


Otis mendengus. "Huh! Kai Fletcher maksudmu dengan perusahaan palsu buatanmu?" tanya Otis.


Nay kembali tertunduk.


"Kamu harus tetap bertunangan dengan Felix, walaupun anak presiden melamarmu, aku akan menolaknya!" tegas Otis. "Katakanlah aku merestuimu bersama Fletcher, lalu dia bisa memberimu apa dengan pendapatan bulanannya? Kalaupun aku mengangkatnya menjadi manager atau direktur, apa dia sanggup?" ejek Otis lagi.


"Aku mencintai Kai, Pa," ucap Nay. Gadis itu mulai mengangkat wajahnya dan menampakan raut wajah sedihnya kepada Otis.


Otis mengepalkan kedua tangannya. Pria tua itu menahan emosi supaya dia tidak membentak putri semata wayangnya. "Cinta tidak bisa memberimu kehidupan, Nay. Walaupun kamu memberinya saus tomat, cinta tetap tidak bisa di makan! Realistis sajalah, berapa pendapatan Kai per bulannya? Bagaimana keluarganya? Aku tidak mendidikmu di sekolah yang mahal hanya untuk menghidupi seorang pria, Nay!"


Nay menelan salivanya, air matanya dia jatuhkan supaya ayahnya melihat kalau dia tidak mau dijodohkan dengan Felix North.


"Keputusanku sudah bulat, Nay. Besok akan ada pertunangan resmi dengan Felix, yang kemarin kuanggap kacau dan gagal. Apa kamu sudah lihat berita pagi ini? Aku harus membayar para wartawan untuk menurunkan berita itu! Ck! Tidak berguna!" ujar Otis kesal. Dia pun beranjak dari kursinya dan bergegas pergi.

__ADS_1


Nay yang kelabakan segera menghubungi Luke. Namun, tidak ada jawaban dari Luke. Maka, Nay menulis pesan kepada pamannya itu.


"Paman, Papa besok aku akan tetap bertunangan dengan North. Aku harus apa? Kalau Paman mencintaiku, segera tinggalkan Bibi dan ikutlah bersamaku!" tulis Nay dalam pesan singkatnya.


Lama, pesan itu tak terbaca sampai akhirnya Kanaya berhasil mendapatkan balasan dari pamannya itu. ("Kamu gila! Tidak mungkin aku menceraikan Alma, Nay! Temui aku nanti!")


"Aku sedang tidak bisa keluar, Paman. Tolong aku, selamatkan aku!" pinta Nay dalam pesannya.


Sekali lagi, dia harus kecewa karena menunggu balasan pesan dari Luke cukup lama. Gadis itu berdecak dan melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


Keesokan harinya, kediaman mewah Otis Rivers kembali ramai oleh para wartawan dan beberapa tamu undangan. Kebanyakan dari mereka penasaran, Apakah pertunangan ini akan berjalan dengan lancar atau berakhir dengan Kanaya yang melarikan diri kembali?


Namun hari itu, Otis tampak sangat percaya diri dan meyakinkan kepada para wartawan dan tamu undangannya Kalau hari ini akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.


Gadis itu berharap Luke akan membawa kabar bahagia untuknya di tengah-tengah penderitaan yang dialami saat ini.


Akan tetapi harapan Nay tampaknya hanya menjadi sebuah impian belaka, karena hingga acara pertunangan akan dimulai baik bibi dan pamannya itu belum menunjukkan batang hidung mereka.


Acara pertunangan pun berlangsung. Kedua mata Otis mengunci gerak-gerik Kanaya sehingga mau tidak mau gadis itu terpaksa mengikuti keseluruhan rangkaian acara pertunangan tersebut.


"Bagaimana, Tuan Rivers? Tuan North? Sah? Sah! Akhirnya pertunangan antara dua orang pewaris perusahaan raksasa di negeri ini telah terjadi. Ini bisa dikatakan sebagai momen bersejarah karena kita tidak dapat membayangkan akan menjadi seberapa besarnyakah perusahaan mereka nantinya?" seru Si Pembawa Acara.


Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai pada tahu undangan memenuhi kediaman Otis Rivers sore itu. Kanaya yang sudah turun dari panggung hanya dapat melihat cincin yang kini melingkar di jari tengahnya.


Setelah acara hampir selesai, Bibi Alma dan Paman Luke memasuki rumah yang bergaya modern klasik itu. Bibi Alma berlarian kecil untuk mengucapkan selamat kepada keponakannya yang telah resmi bertunangan.

__ADS_1


"Wah, akhirnya keponakan kecilku sudah bertunangan dan lihatlah cincin ini, indah sekali, Nay," puji Bibi Alma yang kemudian memeluknya.


Paman Luke menatap Nay dengan tajam dan penuh arti. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit untuk memberi isyarat kepada Kanaya supaya gadis itu mengikutinya.


"Kenapa kamu tidak menolak pertunangan ini, Nay?" tanya Luke dingin.


Mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu, kesabaran Kanaya habis sudah. "Apa aku tidak salah dengar? Paman minta aku menolak pertunangan ini? Apakah selama ini Papa bisa ditolak? Aku meminta Paman untuk bercerai dari bibi tapi Paman menolaknya! Lalu sekarang ketika acara pertunangan ini selesai, Paman marah kepadaku karena aku menerima pertunangan dari North!"


"Nay, dengarkan aku! Untuk menceraikan bibimu aku perlu alasan yang kuat dan kamu sama sekali tidak membantuku memberikan alasan itu! Yang kudapatkan saat ini hanyalah cincin di jari tengahmu, tanda kalau kamu sudah ada yang memiliki dan itu bukan aku!" tukas Luke.


Nay melepaskan cincin itu dari jarinya dan memberikannya kepada Luke. "Cincin ini tidak ada artinya untukku! Hanya ada satu orang yang kucintai di dunia ini dan itu adalah Paman! Bukan Felix North atau Kai Fletcher! Tapi sepertinya Paman tidak mengerti!"


"Aku mengerti, Nay! Tapi bukan dengan cara aku bercerai ataupun kamu menerima pertunangan ini!" balas Luke tajam.


"Lalu apa? Apa yang harus aku lakukan supaya Paman menjadi milikku dan kita bisa menunjukkan kepada orang lain kalau kita sedang berkencan? Sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi? Aku juga ingin berdansa bersama Paman saat pesta! Aku ingin berteriak kalau aku mencintai Paman, bukan berbisik!" butiran bening mulai berjatuhan dari pelupuk mata nan indah milik Nay. "Kenapa Paman harus menjadi pamanku?"


Luke segera memeluk keponakannya itu dan menenangkannya. "Nay, maafkan aku. Aku tidak mungkin bercerai dari Alma sama sepertimu yang tidak mungkin mampu menolak pertunangan dengan Felix North, 'kan?"


Kanaya tidak menjawab pertanyaan pamannya itu, dia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Luke. Gadis yang baru saja bertunangan itu menyesali kenapa Luke menjadi pamannya? Kenapa dia tidak menyatakan cintanya saja di pusat perbelanjaan saat mereka bertemu pertama kali di sana? Paling tidak, jika Nay mengungkapkan cintanya saat itu, dia akan mengetahui kalau Luke akan menjadi pamannya dan dia tidak akan merasa sesakit ini.


"Bagaimanapun juga, aku mencintaimu, Paman. Aku sayang kepadamu," isak Nay.


Belum sempat Luke membalas ungkapan cinta dari Nay, seseorang datang dan memandang mereka berdua dengan jijik. "Dugaanku ternyata tidak salah! Kalian memang memiliki hubungan yang kotor dan menjijikan! Nay, aku tidak menyangka kamu akan serendah ini! Kalian benar-benar gila!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2