
"Bagaimana kabarmu, Nay?" tanya Luke. Sudah lebih dari enam bulan, Luke dan Nay menjalani hubungan jarak jauh. Kondisi Nay jauh lebih baik setelah Otis memutuskan untuk membawa Nay berobat ke sebuah rumah sakit terbaik diluar negeri.
("Aku baik, Luke. Tapi rambutku habis. Para dokter itu memangkas rambutku habis-habisan. Aku merasa buruk sekali,") jawab Nay.
("Hai, Luke!") sapa seorang pria kurus berkacamata dengan wajah ceria.
Luke memandang pria itu dengan tatapan suka. "Sombong sekali, kamu! Tunggulah, sebentar lagi aku akan menyusul kalian ke sana!"
("Hahahaha, silahkan. Oh, dokter Nay sudah datang. Ayo, Nay! See you, Mr. Wallace!") sahut Kai dengan seringai menggoda.
Atas permintaan Kanaya, Kai pun didatangkan ke negara itu untuk menemani Nay disana. Alih-alih meminta Luke yang datang, dia meminta Kai untuk datang. Rencana pernikahan Nay pun ditunda dan sampai saat ini, gadis itu belum memutuskan akan menikahi siapa. Kai atau Luke? Atau dia akan mengurungkan niatnya untuk menikah, tidak ada yang tau.
Segala pengobatan dilakukan oleh Otis demi kesembuhan putrinya. Apa pun permintaan Nay akan dikabulkannya.
"Bilang saja kamu merindukanku, 'kan?" goda Kai. Hari itu, lagi-lagi Nay meminta Kai untuk menemaninya untuk berobat.
Beberapa bulan yang lalu, saat Nay diterbangkan ke negara tersebut, kondisi Nay kritis. Menurut dokter, ada beberapa hal yang membuat sel-sel ganas itu kembali berkembang dan menyebar kembali hampir tak terkontrol. Beruntunglah mereka membawa Nay saat itu, kalau tidak, mungkin nyawa Nay tidak akan tertolong lagi.
Saat itu, Otis menemukan secarik kertas yang diberikan oleh Kai di genggaman tangan putrinya. Isi pesan Kai itu adalah, 'Hei, Bodoh. Jangan kalah dengan penyakitmu. Ingatlah, kamu masih memiliki banyak hutang kepadaku dan ingat juga cincin yang kita pakai. Setengah hatiku terbawa olehmu, maka dari itu, jangan mati dan jangan pernah ucapkan kata itu! Paham? Aku menunggumu.'
Otis menitikkan air matanya saat membaca surat itu dan dia menyimpan kertas itu baik-baik sampai Nay sadar. Nay sempat mengalami koma selama 10 hari, dan begitu dia terbangun, Otis segera memberikan surat Kai tersebut kepadanya.
"Aku ingin Kai disini, Pah," ucap Nay. Saat itu juga, Otis mengabulkan permohonan putrinya untuk mendatangkan Kai, tak peduli apa pun yang sedang dilakukan oleh pria itu.
Selama beberapa bulan Nay dirawat di rumah sakit itu, keadaannya berangsur-angsur pulih. Kai menjadi support system untuknya. Walaupun dia kasar dan tak jarang mereka bertengkar, tapi kehadirannya membuat pewaris tunggal Rivers Group itu kembali bersemangat.
Yang membuat Otis serta Vio terharu, saat Nay harus merelakan rambut indahnya untuk dihabisi.
"Tidak usah sedih. Aku akan menemanimu untuk membotaki rambutku. Seperti yang pernah kukatakan kepadamu, pria tampan akan tetap terlihat tampan apa pun kondisinya," sambil berbicara begitu, dia memangkas rambutnya sendiri.
__ADS_1
Seketika itu juga, Nay memeluk Kai dan dia berhasil merelakan rambutnya dipangkas habis.
"Aku berterima kasih sekali padamu, Fletcher. Entah bagaimana anakku tanpamu," ucap Vio, memegang tangan Kai. "Entah apa yang Kanaya cari, segalanya ada di dirimu. Aku tidak mengenal Wallace, hanya mendengar cerita tentangnya dari Ashley. Aku lebih menyukaimu daripada Wallace,"
"Tuan Wallace, pria yang bertanggung jawab dan setia, Nyonya Mark. Dia menunggu Nay dan mau menggantikanku saat Nay sakit. Dia sosok yang dewasa, semua yang dibutuhkan Kanaya ada di dirinya," jawab Kai. Sudah dari sejak beberapa waktu yang lalu, pria kurus itu sudah merelakan Nay bersama dengan Luke.
"Tapi, Luke adalah bekas pamannya. Rasanya tidak etis sekali yah jika membayangkan hal itu?" tanya Vio lagi, mengungkapkan salah satu alasan keberatannya.
"Sejak kapan cinta masuk akal? Cinta dan logika, kurasa mereka tidak pernah berkenalan, jadi mereka tidak pernah mengenal satu dengan lainnya," jawab Kai tersenyum simpul.
Wanita bernama Violetta Mark itu mengangguk setuju. "Benar juga katamu, Fletcher,"
Seperti hari ini, Kai menemani Nay untuk berobat dan saat gadis itu mengeluh kesakitan, Kai siap menjadi cheerleader untuk sahabatnya itu.
"Ayo, Nay! Bertahanlah! Kamu pasti bisa!" begitulah kata-kata motivasi yang selalu keluar dari mulut laki-laki itu.
"Aku lelah," ucap Nay. Wajahnya semakin mengecil dan pucat. Terkadang gadis itu, memandang kejauhan untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Aku sering bertanya kapan selesainya pengobatan berengsek ini! Aku menghabiskan masa mudaku dengan sinar-sinar aneh dan selang di tulang belakangku," keluh Nay.
Di ruangan dokter, Otis dan Vip sedang berbicara dengan dokter yang menangani putri mereka.
"Kami membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang untuk mengganti beberapa yang sudah rusak karena sel ganas ini," kata dokter.
Tentu saja, ini membuat orang tua Nay shock mendengarnya. "Apa ada testnya? Kami orang tuanya, dengan senang hati kami akan mendonorkan sumsum kami. Ambillah sebanyak yang Anda butuhkan, Dokter," kata Vio diiringi anggukan setuju dari Otis.
"Akan ada test dan kami akan melihat kecocokannya, Tuan. Walaupun kalian keluarga, belum tentu memiliki struktur sumsum tulang yang cocok dengan Nay. Ini sulit dicari. Kita seperti berlomba-lomba dengan sel ganas ini. Siapa yang akan menang?" jawab dokter.
Hilang sudah harapan Vio dan Otis saat dokter mengatakan hal demikian. "Apakah Fletcher mau melakukan test itu? Aku akan memanggil Luke dan Alma untuk kesini sore ini juga,"
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Luke dan Alma sudah berada di rumah sakit. Mereka bersama-sama dengan Kai dan orang tua Nay, akan mengikuti test.
Beberapa jam kemudian, hasil pun keluar. "Saudara Kai Fletcher, bisa ikut saya?"
Kai pun mengikuti dokter itu dan memasuki ruangan yang sudah ada Nay di sana. "Kai?"
"Halo," sapa Nay.
Dokter menjelaskan kedatangan Kai ke ruangan itu. "Tuan Fletcher, sudah mengikuti test dan ternyata dialah yang memiliki kecocokan dengan sumsum tulang belakang Anda, Nona Rivers. Dengan kata lain, Tuan Fletcher akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Anda,"
"Apa? No! Tidak, Dokter! Jangan dia! Dia sudah melakukan banyak hal untuk saya," tolak Nay. Dia tidak mau Kai merasakan apa yang dia rasakan.
Akan tetapi, Kai menyeringai lebar. "Tenang saja, ini tidak akan sakit untuk kita berdua dan hanya berlangsung selama 1-5 jam. Bukan begitu, Dok?"
Dokter mengangguk. "Benar sekali. Mulai besok, kami akan mulai melakukan transplantasi ini. Prosesnya sama seperti donor darah, tidak akan sakit."
Setelah dokter pergi, Nay dikembalikan ke ruangan rawat inap dan di sanalah, dia menceritakan kepada keluarganya tentang Kai yang akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk dia.
"Apa? Astaga, Fletcher! Kami sungguh-sungguh berhutang banyak sekali padamu," Vio memeluk Kai sebagai ungkapan terima kasih, tak terkecuali Luke.
Keesokan paginya, setelah diberikan suntikan penahan rasa sakit, Nay dan Kai memasuki ruang tindakan. "Kami berharap padamu, Fletcher."
"Aku berhutang padamu banyak sekali, Kai. Terima kasih banyak untuk segalanya." sahut Luke. Dia merasa tak berguna sekali di samping keluarga Rivers saat ini.
"Tenang saja, aku akan membantu penyembuhan Nay sehingga kalian bisa cepat menikah," ucap Kai tersenyum.
Dokter datang menghampiri mereka. "Kau siap, Tuan Fletcher?"
Kai menganggukkan kepalanya. "Ya," Tak lama, dia merasakan sesuatu seperti sengatan semut menembus tulang belakangnya.
__ADS_1
...----------------...