
Hari kepulangan Nay pun tiba. Setelah sebelumnya, drama yang terjadi cukup menguras air mata Luke dan Alma. Luke memberitahukan kepada Kai kalau dia belum sanggup mengatakan kepada Otis tentang sakit Nay.
("Fletcher, kali ini kuakui kalau aku tidak sekuat dan setegar dirimu. Aku tidak sanggup.") ucap Luke dalam panggilan.
"Jadi? Sore ini Nay akan pulang. Apakah Tuan Rivers akan mengenali perubahan pada Kanaya? Aku akan mengajaknya ke salon, memakai rambut palsu, dan membeli pakaian baru. Pelan-pelan kita bekerja sama untuk mengungkapkan hal ini kepada Tuan Rivers. Bagaimana ideku, Tuan Wallace?" usul Kai. Kalau dia yang berhadapan dengan Otis seorang diri, dia juga tidak akan sanggup.
("Oke, better than by myself, right?") sahut Luke lagi. Suaranya terdengar lega saat Kai mengajaknya bersama-sama menghadap Otis nanti.
Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Luke, Nay terbangun. Dia menatap tajam kepada pria yang sedang melahap roti lapisnya tanpa dosa. "Hei!" tukas Nay tajam.
"Ya?" jawab Kai masih asik mengunyah roti lapis berisi tuna itu. "Kamu mau? Kebetulan aku beli dua tadi," Kai berdiri dan memberikan roti lapis kepada Nay.
Nay mengambil roti itu, membuka pembungkusnya, dan menggigitnya besar. Setelah itu dia mengacungkan jari manisnya ke arah Kai. "Jelaskan, apa ini?"
"Cincin. Apa sakitmu sudah menyebar sampai mata sampai kamu tidak tau kalau itu cincin?" goda Kai, dia tersenyum lebar.
"Ck! Haish! Kai, jangan main-main denganku! Apa maksudnya ini?" tuntut Nay. "Kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan melepaskannya!"
Kai menahan tangan Nay. "Kalau aku jawab, kamu akan pasang cincin itu sampai selama-lamanya?" Seringai lebar menghiasi wajah pria yang ramah itu.
Semburat merah menjalar di wajah Nay. "Aarrgghh! Bukan seperti itu! Sudahlah! Aku hanya bertanya, maksudku-, ...."
"Pakai saja cincin itu. Itu bukan cincin pernikahan. Tenang saja, aku tidak akan memberikan cincin atau mengajak menikah seseorang yang sudah menyerah pada hidupnya. Aku hanya ingin memberikan itu untukmu. Artinya, separuh hatimu adalah milikku. Kalau kamu mati nanti, aku pasti akan mengingat ada seorang wanita bodoh yang aku cintai tapi dia tidak mau berjuang dengan penyakitnya. Kebodohanmu itu akan selalu kuingat, Nay," jawab Kai panjang. Dia melihat cincin yang mengikat jari manisnya dan mengecup cincin itu.
Saat Kai memasangkan cincin setengah hati itu di jari Nay, gadis itu sempat berdebar. Setelah itu, dia memutuskan untuk tidur dan tidak menjawab pertanyaan pria konyol itu.
'Apa artinya Kai sudah mendobrak hatiku?' tanya Nay dalam hati. Manik matanya terus mengekor ke manapun Kai berjalan.
"Kenapa kamu melihatku? Aku tampan, yah? Sayang sekali, kamu baru melihatku, Nay. Kalau dari awal kamu melihatku seperti itu, aku sudah akan mengajakmu berkeliling dunia," tutur Kai.
Mendengar kelakar Kai, Nay meneteskan air matanya. Entah mengapa ucapan Kai membuatnya sedih. Entah karena perasaan bersalah atau menyesal, dia tidak tau.
"Nay, you okay?" tanya Kai dan dia memasukan Nay ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Namun, kali ini Nay mendorong tubuh Kai untuk menjauh. "Pergilah!"
Kening Kai mengerenyit. Dia tidak paham mengapa Nay begitu. Biasanya Nay selalu mencari pundak atau dekapannya saat gadis itu ingin menangis. "Kamu kenapa, sih? Maaf kalau aku mungkin salah bicara. Kamu tau mulutku tidak sekolah dan tidak mempunyai filter. Maafkan aku, Nay,"
Nay menangis sambil tertawa, wajahnya kembali bersemu kemerahan. "Tau ah, Kai! Aku hanya tidak mau terlalu nyaman kepadamu! Maksudku, aku-,"
"Kamu takut jatuh cinta kepadaku, yah?" goda Kai dan dia melangkah mendekati Nay dan kembali memeluk gadis bertubuh mungil itu. "Cintailah aku sebagai apa pun yang kamu mau, Nay."
"Bodoh!" tangis Nay makin kencang saat Kai mengucapkan kata-kata itu. Dia terus menangis dalam dekapan pria yang selama ini tidak pernah dia sadari kehadirannya.
Sore hari pun tiba, Luke sudah berada di rumah sakit bersama dengan Alma.
"Bibi!" tukas Alma saat melihat bibinya masuk ke dalam kamar rawat. "Bi-, Bibi tau da-,"
Belum selesai Nay bicara, Alma sudah memeluknya dengan erat. "Nay Sayang. Kamu kenapa, Cantik? Kenapa bisa sakit? Pasti tidak makan, tidak tidur, ya, 'kan?" bibi Alma menangis sesenggukan sambil memeluk keponakannya itu.
"Bibi, aku minta maaf. Maafkan aku tentang Paman Luke. Maafkan aku, Bibi," Nay ikut menangis sesenggukan. Dia terus meminta maaf kepada bibinya.
Luke mengangguk. "Maka dari itu, semangat untuk sehat, Nay. Supaya kita bisa pelesiran bersama-sama. Kamu juga belum sempat bermain dengan Chloe, 'kan?"
Nay merasa bebannya terangkat setengah. Masa depan tampak muncul kembali di depannya. Gadis itu merasa memiliki harapan dan mimpi. "Doakan aku untuk sembuh, Bibi,"
"Pasti, Sayang. Maafkan Bibi karena saat itu, Bibi tidak tau kalau kamu sakit. Aku merasa bersalah sekali padamu, Nay," ucap Alma. Dia kembali memeluk keponakannya dengan sayang.
Tak lama, dokter pun datang. Dokter itu memberikan jadwal kapan harus kemoterapi dan kontrol ke rumah sakit lagi. Dia juga memberikan resep obat serta vitamin untuk mereka tebus di bagian farmasi. "Itu saja, Nona Rivers. Aku harap, kita akan bertemu tidak setiap tiga hari sekali, yah. Hahaha. Semangat dan bahagia selalu untukmu, Kanaya Rivers,"
"Terima kasih, Dokter," jawab Nay. Kali ini hatinya terasa ringan dan dia merasa sangat bahagia hari itu. Dengan bantuan Bibi Alma, Nay berhasil membuat dirinya terlihat lebih baik tanpa harus ke salon.
"Cantik," ucap Alma.
Setelah berpamitan kepada para perawat dan dokter, mereka pun segera memasuki kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat Otis Rivers yang sudah bersiap menyambutnya.
"Kamarnya pastikan rapi yah dan jangan ada debu seinci pun. Pasang selimut senada dengan warna seprainya, yah. Oh, aku tidak sabar," Otis sibuk menyiapkan ini dan itu untuk menyambut kedatangan Kanaya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu juga meminta juru masak khusus untuk membuat semua makanan favorit putrinya itu. Tak lupa, Otis mencicipi satu demi satu masakan yang disajikan oleh juru masak itu.
"Hmmm, délicieuse," ucapnya. "Aku suka ini, Kanaya juga pasti suka," pria tua itu membayangkan wajah anak gadisnya saat menikmati makanan yang telah disiapkan itu.
Sekitar satu jam kemudian, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Otis berlarian untuk membukakan pintu untuk mereka.
"Papa," panggil Nay dengan suara nyaringnya.
Senyum Otis mengembang di wajah tuanya, dia merentangkan tangannya dan memeluk putri yang sudah lama dia rindukan. "Kanaya, Anak Papa. Hohoho, aku rindu sekali padamu, Nak,"
Kanaya masuk ke dalam pelukan ayahnya dan mendekapnya erat. "I miss you, Papa. So much,"
Otis menciumi pucuk kepala Nay dan kening serta pipi anak tunggalnya itu. Kemudian dia mencengkeram lembut kedua lengan Nay. "Ada yang aneh. Kenapa kamu tampak kecil sekali, Nak? Apa kamu sakit?"
Mereka semua saling berpandangan dan membiarkan Nay menjawabnya sendiri. "Oh, aku 'kan habis sakit, Pa. Wajar saja kalau badanku habis,"
"Tapi, Papa belum lega, Sayang. Papa takut kamu sakit yang aneh-aneh atau macam-macam. Papa tidak mau melihatmu kesakitan, Sayang," ucap Otis.
Nay menggeleng. "Aku sehat, Papa. Lihat saja, aku cantik, 'kan?" tanya Nay.
Baik Kai, Luke, dan Alma hanya bisa menunduk dan sesekali tersenyum mendengar jawaban Nay. Sampai malam itu, tibalah saatnya mereka berdiskusi, bagaimana caranya memberitahukan kepada Otis tentang penyakit Kanaya.
Baru saja mereka hendak berdiskusi, tiba-tiba saja Otis keluar dari kamar Nay dan menangis. Pria itu berpegangan pada kursi tamu. "Kalian sudah tau tentang anakku?"
Mereka bertiga mengangguk. "Kalian sudah tau tapi tidak ada satupun yang memberitahuku? Berapa bulan lagi kesempatan hidupnya?"
"Dokter bilang tidak bisa diprediksi, Tuan," jawab Kai. Dia memberanikan diri mendekati Otis dan merangkul pundak pria itu.
Hati Otis hancur mendengar jawaban Kai. "Kenapa harus anakku? Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku yang sudah tua?"
Selagi Otis menangis, Nay keluar dari kamarnya dan menangis. "Ka-, Kai, ini tidak mau berhenti. Aku harus apa?" Kai menoleh dan melihat darah mengalir dari hidung Nay.
...----------------...
__ADS_1