
1 Bulan Kemudian,
"Segalanya sudah siap, Sayang?" tanya Luke kepada istrinya dengan mesra. Sang istri pun mengangguk senang, apalagi saat lengan berotot suaminya melingkar manja di pinggangnya dan mengecup ceruk lehernya. "Jangan sampai ada yang ketinggalan,"
"Iya, Sayangku yang Cerewet," jawab istrinya sambil tersenyum.
Semenjak Otis Rivers mengirim pasangan ini untuk berbulan madu, Luke dan Alma menjadi lebih dekat. Walaupun pada awalnya, Luke sempat dilemma karena terombang-ambing perasaan yang tidak menentu. Akan tetapi, saat ini dia sudah menetapkan pilihannya.
Hal ini tidak terjadi begitu saja, beberapa minggu yang lalu, Otis menghubungi Alma dan memberitahukan kepada Alma kalau keponakannya sudah tinggal bersama Felix North. Tujuan Otis, tentu saja supaya Luke melupakan Kanaya.
Taktiknya ini berhasil, karena Luke menarik permintaan cerainya dan memperlakukan istrinya dengan lebih baik. Tak hanya itu, dia juga meminta maaf kepada Alma.
Mendengar kabar bahagia dari adik tercintanya membuat Otis bahagia dan merasa rencananya berhasil.
"Kalau kau terlalu banyak berbohong, kata orang zaman dulu, kau akan mati ditendang seekor kambing," ucap asisten pribadi Otis sambil mencibir.
Otis tertawa. "Hahahaha, aku tau kamu masih kesal kepadaku, Kai. Berbohong demi kebaikan itu perlu dan aku rasa itu tidak membuat dosaku bertambah," jawabnya.
Kai semakin memberengutkan bibirnya. Kedua matanya dia arahkan lekat-lekat kepada pria paruh baya itu. "Bagaimana jika pertemuan membuat mereka kembali lagi?"
"Aku akan membuat kabar lebih besar lagi, sehingga mereka akan saling membenci," jawab Otis santai.
"Cih! Itu namanya kamu tidak memikirkan perasaan anakmu, Tuan Rivers," ucap Kai lagi.
Otis tau kalau saat ini kebohongan yang dia lakukan sudah di luar batas. Akan tetapi, hanya ini cara satu-satunya supaya putri dan adik iparnya tidak saling mengingat dan melupakan cinta mereka.
Hubungan Kanaya dengan Luke sudah diketahui baik oleh Otis maupun Alma. Itulah sebabnya, Otis memisahkan dua insan yang sedang dilanda cinta itu. Pria itu tidak mau putrinya dicap buruk oleh masyarakat, apalagi Kanaya sekarang menjabat sebagai pimpinan Rivers Group. Pemimpin termuda abad ini.
"Semua kulakukan demi kebaikan Kanaya, Tuan Fletcher. Kamu juga tau kalau Nay masih sering bertanya tentang Luke, 'kan? Aku mengetahuinya dari pesan-pesan kalian dan terkadang saat Nay menghubungimu, aku tau dia menangis karena menahan rindu. Tapi hubungan itu salah," sambung Otis lagi yang kini terdiam dan menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong yang memiliki banyak makna.
Kai tidak dapat berkelit lagi saat Otis mengatakan hal itu. Dia mengakui kalau Nay memang masih terikat dengan Luke. Entahlah dengan Luke, tapi dia berharap Luke pulang dengan membawa kabar Alma mengandung.
Namun sayangnya, harapan Kai tidak akan terkabul. Luke memang sudah kembali mesra dengan istrinya tapi bukan berarti dia sudah sanggup berhubungan kembali dengan Alma.
__ADS_1
Setiap kali pria berparas tampan itu mencobanya, bayangan Kanaya selalu menari-nari di benaknya. Luke masih mengingat dengan jelas bagaimana dia dan Kanaya saat sedang berdua. Hanya dengan memikirkannya saja, sudah membuat kulit Luke meremang dan tak hanya itu, sebersit rasa rindu seolah menusuk jantungnya.
"Luke, aku sudah siap. Ayo, nanti kita ketinggalan pesawat," sahut Alma. Wanita itu segera menggandeng tangan suaminya yang sedang melamun.
Luke menggagguk. "Ayo," katanya.
Setibanya mereka di rumah, hari sudah malam. Mereka memutuskan untuk istirahat.
"Luke," panggil Alma.
"Ya?" jawab suaminya. Luke memutar tubuhnya hingga kini mereka saling bersitatap. "Ada apa, Sayang?"
"Apakah kamu belum bisa, .... Maksudku, apa yang membuatmu belum bisa berhubungan denganku? Aku menanti-nantikannya sejak kemarin. Apa kamu masih mengingat Nay?" tanya Alma. Saat itu, dia tidak berani menanyakan hal tersebut kepada Luke. Karena mereka sedang berlibur dan Alma tidak mau merusak hari-hari mereka.
"Aku belum bisa. Kalau untuk sekedar memelukmu aku masih sanggup melakukannya. Maafkan aku," jawab Luke dengan nada suara getir.
Alma mengangguk perlahan. "Ya sudah. Aku akan menunggumu sampai kamu bisa membuka hatimu lagi kepadaku,"
Luke mengulum senyumnya. "Aku berjanji kepada seseorang untuk tidak jatuh cinta lagi kepadamu tapi entahlah, mungkin janji tinggal janji," ucap Luke dalam hati.
"Oh, Alma! Wah, kalian sudah tiba rupanya. Mari masuk!" sahut Otis ceria. Alma dan Luke pun mengikuti si pemilik rumah untuk segera masuk.
"Katanya Kakak punya asisten baru. Belum datang? Asisten macam apa sudah sesiang ini belum datang juga?" protes Luke.
Tawa Otis pun pecah seketika mendengar ocehan dari adik iparnya itu. "Hahahaha, aku yang menyuruhnya datang siang. Dia selalu mengambil jam lembur dan menemaniku. Dia anak muda yang baik, aku suka kepadanya," Otis memandang ke depan dan melihat jam dinding besar bergaya klasik yang ada di ujung ruang tamunya itu. "Ah, sebentar lagi dia akan datang. Tunggu saja,"
Wajah pria tua itu berseri-seri dan benar saja, suara deru motor memasuki pelataran rumah megah Otis. "Itu dia!"
"Motor?" ejek Luke. Baginya, seorang asisten haruslah bersikap elegan untuk mencerminkan atasannya.
Sosok pria kurus kecil dengan rambut setengah keriting dan berkacamata pun memasuki ruang tamu Otis. Kedatangannya ramai sekali, dia disambut oleh para pelayan dengan baik.
"Ahoi, Mr. Rivers!" seru pria kecil itu. Kemudian dia melihat Luke Wallace dan istrinya, detik itu juga dia membungkuk dengan hormat. "Oh, eh, selamat pagi, Mr. Wallace dan Nyonya,"
__ADS_1
Otis kembali tertawa. "Hahaha. Ahoi, Mr. Fletcher!" seru Otis sambil mengangkat tangan bergelambirnya.
"Dia!" sahut Luke terkejut melihat Kai masuk ke dalam ruang tamu. "Diakah asisten pribadi barumu?"
Kai mengulurkan tangannya. "Kai Fletcher, asisten Tuan Rivers,"
Luke mengacuhkan uluran tangan Kai dan membuang mukanya ke arah lain. Kai pun menarik tangannya kembali. "Oke, Tuan Rivers. Saya akan segera bekerja. Silahkan di lanjutkan,"
Luke memandang punggung Kai sampai Kai menghilang dari pandangannya. "Kak, kakak merekrut Fletcher untuk menjadi asisten? Apakah dia semumpuni itu sampai Kakak mengangkatnya menjadi asisten?"
"Dia cerdas dan dia berani. Itu alasanku, Luke. Sudahi tentangku! Bagaimana tentang kalian?" tanya Otis sambil memakai kacamatanya.
"Aku ingin mengadopsi bayi, Kak," jawab Alma.
Sontak saja, Luke menoleh tajam ke arah istrinya itu. "Hah! Kenapa?"
"Sepertinya aku akan sulit mengandung, Kak. Kami memang belum ke dokter, tapi aku mempunyai firasat kalau aku akan sulit mendapatkan seorang anak nantinya, maka itu aku berniat untuk mengadopsi anak saja. Bagaimana?" tanya Alma.
Luke merasa bersalah saat Alma berkata seperti itu. Bukan Alma yang tidak bisa memiliki seorang anak tapi dialah yang tidak mau berhubungan dengan istrinya. Belum bisa tepatnya.
"Aku setuju saja, selama itu bisa membuat kalian bahagia dan semakin mengeratkan pernikahan kalian, silahkan lakukanlah," ucap Otis.
"Kalau Kak Otis setuju, siang ini aku dan Luke akan ke yayasan anak-anak. Apa Kakak bisa menemani kami?" tanya Alma lagi.
Otis memberikan telapak tangannya. "Ini urusan kalian, silahkan jalani dengan cara kalian masing-masing,"
Maka dengan mengantongi izin dari Otis, mereka pun akhirnya pergi ke yayasan dan memilih bayi yang akan mereka adopsi.
Sementara itu,
"Kai, jika hari ini kamu berbalas pesan kepada Nay. Katakan kepadanya, Luke akan memiliki seorang anak," ucap Otis datar.
Kai mengangguk perlahan. Dia tau, hal yang akan disampaikannya kali ini akan membuat gadis itu hancur sehancurnya.
__ADS_1
...----------------...