Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Dua meja terpisah dengan delapan pasang mata yang saling bersitatap tegang menghiasi sebuah restoran siang hari itu.


Suasana canggung pun menyelimuti meja tersebut. Bagaimana tidak, Nay datang bersama dengan Kai sedang Luke datang dengan membawa Alma dan gadis kecil mereka.


Awalnya, Nay datang lebih dulu dan meminta Kai untuk duduk di kursi yang agak jauh dari kursi Nay. Tak beberapa lama kemudian Luke datang dengan rombongannya.


Kai pun terkejut melihat kedatangan Luke bersama Alma dan Chloe. Dia segera menghampiri Nay untuk memberinya kekuatan.


Namun sayang sekali, Luke terlanjur menghampirinya. Pada akhirnya, di sinilah mereka. "Nay, apa kabar?" tanya Bibi Alma mengulurkan tangannya.


"Aku tidak bisa mengatakan kalau aku baik-baik saja dan aku yakin Bibi sudah tahu apa yang terjadi di antara aku dan paman," jawab Nay lugas.


Alma mengagumi ketegasan jawaban keponakannya itu. "Ya, aku sudah tahu hubungan kalian dan aku juga tahu tujuan kalian datang ke sini untuk mengakhiri hubungan kalian, bukan?" Alma mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum penuh arti.


Nay sudah berlatih untuk menahan emosinya di hari ini jadi dia tampak dingin dan seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Bibi Alma. "Entahlah. Itu tergantung kepada paman, 'kan?" jawab Nay berusaha setenang mungkin. "Sekarang, bisakah aku hanya bicara berdua saja dengan Tuan Wallace?"


"Silahkan, aku dan sepupumu akan menunggu di meja sana," kata Alma, dia menekankan kata sepupu supaya Nay sadar akan kehadiran Chloe.


Nay melihat sepintas bocah kecil yang sedang menggigiti kue beras itu dan menyapanya seolah Chloe gadis seumurannya, "Oh, hai. Salam kenal, namaku Nay. Siapa namamu?"


"Chloe," jawab Alma pendek.


Kai menuntun Alma untuk segera menjauh karena dia tau sebentar lagi, Nay akan meledak karena emosinya terlihat sudah berada di puncak kepalanya. "Mari, Nyonya Wallace,"

__ADS_1


Tadinya, Alma akan menolak ajakan Kai, tetapi begitu dia melihat tatapan mata keponakannya yang sudah hampir menangis, dia mengurungkan niatnya dan mengikuti Kai. Bagaimana pun juga, Alma tidak akan tega melihat gadis yang pernah dibesarkannya itu menangis.


"Sayang, aku dan Chloe menunggumu di sana," kata Alma dan mengecup bibir Luke. Luke mengangguk dan kemudian dia duduk berhadapan dengan Nay.


Debaran itu masih ada saat Luke menatap Nay. Pria tampan itu tidak tau bagaimana caranya menghilangkan debaran itu. Dia bahkan tidak berani menatap mata hijau keponakannya itu lagi, dia takut apa yang sudah dia rencanakan hancur berantakan.


"Ehem, aku melihat berita tentangmu, Nay," kata Luke membuka percakapan mereka.


"Kamu ada di sana, Paman dan melihatku berlari. Aku setengah berharap, kamu akan mengejarku tapi bahkan memanggil namaku saja tidak jadi kupikir aku sudah tidak memiliki harapan lagi," balas Nay. Manik hijaunya menatap manik hitam Luke lekat-lekat.


Luke tertunduk. Bohong kalau dia sudah melupakan Nay, perasaan untuk gadis itu masih ada dan masih sangat besar. Saat pertama kali, Otis memberitahukan kepadanya tentang hubungan Nay dengan Felix, ada lubang di hatinya yang menganga lebar.


Emosi Luke memuncak mengingat hal itu. Kenapa sekarang, Nay memasang wajah lemah seolah dia yang bersalah? "Aku yang mengira kalau aku sudah tidak memiliki harapan lagi, Nay. Ayahmu memberitahuku tentang hubunganmu dengan Felix dan itu menyakiti hatiku. Selama satu bulan aku berbulan madu bersama bibimu, aku terus memegang janji kita,"


Kai memejamkan matanya saat dia mendengar isak tangis Nay. Ingin rasanya dia mengambil tangan gadis itu dan membawanya pergi dari sini. Akan tetapi, dia menahan keinginannya. Nay harus melupakan Luke dan menata kembali hidupnya.


Sesekali waktu, Alma menjulurkan kepalanya ke meja tempat Luke dan Nay duduk. Wanita itu pun tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Dia menoleh ke arah Kai dan mengajaknya bicara. "Apa yang kalian rencanakan?"


"Kami? Kami tidak merencanakan apa-apa selain aku yang ingin membantu Nay untuk melupakan Tuan Wallace. Hanya itu," jawab Kai berterus terang.


Alma meremehkan jawaban Kai. "Hah, hanya untuk melupakan apakah sampai harus bertemu berkali-kali tanda tanya ini sama saja dengan membuang waktu kami bukan? Jika memang dia berniat melupakan suamiku, itu mudah saja, dia harus benar-benar berniat dan niat itu asalnya dari dalam hati,"


"Apakah Nyonya pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan? Atau ketika Nyonya tidak bisa mencintai orang yang mencintai Nyonya juga dan kalian tidak bisa bersatu hanya karena keadaan? Nay tidak akan menangis sampai air matanya menganak sungai jika tidak sesakit itu. Bukankah Nyonya juga pernah mengurus Nay? Berarti Anda tau dan mengerti rasa sakit yang dirasakan oleh Nay saat ini," ucap Kai panjang.

__ADS_1


Alma tersentak mendengar jawaban dari Kai yang tidak dia sangka sebelumnya. Mungkin sama seperti Otis, Alma menganggap Kanaya hanyalah sebagai pewaris tunggal dari Rivers Group. Mereka melupakan kenyataan bahwa Nay adalah anak kakaknya serta keponakannya yang bisa merasakan patah hati ataupun sakit.


Sementara itu di meja sebelah mereka, Nay dan Luke masih saling mencoba untuk berdamai dengan keadaan masing-masing.


"Hapuslah air matamu, Nay," ucap Luke memberikan salah tisu kepada Kanaya yang air matanya masih bercucuran dan sudah hampir membuat basah pakaian yang dikenakannya.


"Aku tidak akan menghapus air mataku, supaya Paman tau rasa sakit yang kualami saat ini. Biarkanlah mereka mengalir, karena air mata ini berisi kenanganku bersama dengan Paman dan aku berharap setelah hari ini berakhir aku bisa melupakan Paman selama-lamanya," sahut Nay. "Aku ingin bertanya sesuatu kepada Paman, bagaimana cara Paman melupakanku? Dan bagaimana juga cara paman bisa mencintai Bibi Alma lagi?"


Luke menelan salivanya. Sejujurnya, dia tidak jatuh cinta lagi kepada Alma dan dia sama sekali belum melupakan Nay. Luke merasa ada salah paham di antara mereka dan mungkin saja ini disebabkan oleh Otis yang selalu menyampaikan kabar terupdate tentang kondisi mereka berdua.


"Nay, aku tidak pernah bisa melupakanmu karena kamu satu-satunya gadis yang bisa membuat duniaku jungkir balik melebihi siapapun. Kalau kamu berkata saat ini aku melupakanmu itu bohong. Aku belum bisa melupakanmu hanya saja aku harus meneruskan hidupku. Aku memiliki istri dan sa-,"


"Aku tau. Dari dulu Paman selalu mencintai bibi Alma," potong Nay.


"Dengar, Nay, aku hanya ingin kamu bahagia dan bisa menemukan seseorang yang benar-benar bisa mencintaimu melebihi aku mencintaimu," balas Luke. Benak Luke saat ini hanya dipenuhi oleh Nay seorang. Ingin sekali rasanya memeluk dan mencium gadis yang ada di hadapannya itu.


"Kalau Paman ingin aku bahagia maka ceraikanlah bibi Alma dan hiduplah bersamaku. Hanya itu permohonanku kepada paman sejak dari awal kita memulai hubungan ini tapi Paman tidak pernah mengabulkan keinginanku," tuntut Nay. "Setelah ini aku akan kembali untuk melanjutkan kuliahku. Mungkin sesampainya di sana Aku akan memutuskan hubunganku dengan papa, bibi, ataupun paman. Aku hanya ingin ada Kai menemaniku. Doakan aku, supaya aku benar-benar bisa melupakan Paman dan hidup bahagia seperti yang Paman mau. Aku juga berharap, semoga Paman selalu bahagia bersama bibi dan sepupuku,"


Setelah mengatakan itu, Nay pun beranjak berdiri dan bergegas pergi. Namun, Luke menahan tangannya dan menggenggamnya sesaat. "Aku ingin sekali memelukmu tapi aku tahu kita tidak bisa seperti itu. Aku juga selalu mengharapkan kebahagiaan untukmu, Nay,"


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Nay menepiskan tangan Luke dan mengenakan kacamata hitamnya kemudian dia pergi. Kai mengejarnya dari belakang dan menggandeng lengan sahabatnya itu.


Sebutir cairan bening jatuh dari pelupuk mata Luke. Itu adalah rasa sakit yang tidak pernah dia tampakkan di hadapan Nay.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2