
"Luke, apa alasanmu membatalkan gugatanmu?" tanya Alma.
Hari itu, Luke sudah kembali ke rumahnya karena dia merasa tidak enak hati kepada Kai yang berhasil membuat Nay bersemangat lagi.
"Tidak ada. Aku telah berjanji kepada seseorang," jawab Luke dingin.
Alma mengerenyitkan keningnya. "Kupikir kamu akan memberiku kesempatan untuk membenahi pernikahan kita, ternyata hanya sekedar janji," sindir Alma pedas.
"Maaf Alma, tapi hatiku bukan untukmu. Di lain sisi, aku tidak bisa menolak janji orang itu. Sekarang pun rasanya aku tak nyaman," ucap Luke. Kerutan di dahinya menjadi tanda kalau pria itu sedang berpikir keras dan ada ketakutan yang tampak di raut wajahnya. "Kurasa, aku tidak akan bisa mengalahkan dia. Andai aku bisa seberani itu kepadanya. Aku hanya takut melukai hati dan perasaan Nay,"
Ucapan terakhir yang Luke tujukan untuk dirinya sendiri itu terdengar oleh Alma. "Ada apa dengan Nay?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Luke singkat.
Alma melihat Luke seperti seorang anak remaja yang ketika cintanya terancam karena kehadiran orang ketiga. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya. "Hadeuh!"
"Ada apa denganmu?" Luke gantian bertanya.
Alma hanya memberikan telapak tangannya sebagai jawaban. Setelah itu dia menjauh dari suaminya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah tidak paham lagi dengan kelakuan suaminya itu.
Luke sedang dilanda galau. Dia cemburu kepada Kai, walaupun sebelum Kai mendapatkan pelukan dari Nay, dia sudah mereguk kenikmatan bersama gadis yang dia cintai itu.
"Aarrggh! Kenapa aku tidak berani berbicara seperti itu kepada Nay? Bodoh sekali aku!" umpat Luke kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Luke kembali menjenguk Nay dan mengajaknya berjemur. Berdasarkan keputusan Kai dan keputusan itu telah disetujui oleh beberapa perawat dan dokter, Nay boleh lepas dari kursi rodanya.
"Nay, boleh aku bertanya kepadamu?" tanya Luke. Pria dewasa itu membantu Nay dengan menggerakkan tiang infus.
__ADS_1
Nay mengangguk. "Boleh. Paman, kita duduk di kursi itu, yuk!" ajaknya. Luke setuju dan berjalan bersama Nay menuju kursi taman yang berada tepat di bawah naungan sinar matahari. "Paman mau bertanya apa?"
"Bagaimana Kai Fletcher di matamu?" tanya Luke.
Sontak saja Kanaya tertawa. "Hahaha! Paman cemburu kepada Kai?"
Sekarang, Luke merasa tampak bodoh di depan keponakan tercintanya itu. "Kenapa kamu tertawa? Aku merasa Fletcher lebih baik dariku. Dia bisa membuatmu bersemangat dan kamu patuh sekali kepada Fletcher. Apa pun yang dia lakukan, apa pun yang dia katakan, kamu selalu menurutinya. Tapi tidak denganku, Nay. Tadi malam aku telah berpikir, selama ini akulah yang sering menuruti semua kemauanmu," protes Luke.
Pria tampan dan sekssi di usia dewasanya itu telah berpikir semalaman dan mengakui pernyataannya, kalau selama ini dialah yang paling banyak mengalah pada Nay dan menuruti semua kemauan gadis itu.
Nay memegang tangan pamannya yang besar dan hangat. "Kai sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri dan rasa sayangku padanya berbeda dengan rasa sayangku kepada Paman. Kai tegas dan wajar saja jika seorang adik menuruti kata-kata kakaknya dibandingkan perintah ayahnya, 'kan?"
Luke tampak belum puas dengan jawaban Nay. Maka, dia bertanya lagi. "Lalu, kenapa kamu memintaku mencabut gugatan cerai?"
Raut wajah Nay berubah menjadi muram seketika. "Aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa bertahan. Kai atau dokter bisa saja memintaku untuk tidak menyerah dan terus berjuang melawan sel sialan ini, tapi aku yang menjalani dan aku juga yang merasakan rasa sakit ini, Paman! Rasanya melelahkan. Aku tidak ingin mati muda, aku masih mau menikmati hidupku. Aku ingin menikah dengan Paman, berkeliling dunia bersamamu, melihat Kai menikah, bertemu dengan ibuku, tapi di saat yang sama, aku juga lelah. Bahkan untuk berguling saja, tenagaku seakan menguap!"
"Keinginanku banyak sekali, Paman. Apakah kita bisa melakukan itu? Termasuk berlibur ke pantai?" tanya Nay masih terisak.
Luke mengangguk. " Ya, Sayang. Kita akan berlibur bersama ke pantai,"
Nay sudah mengumpulkan daftar keinginannya. Dia menyusunnya bersama Kai beberapa malam sebelumnya. Inilah yang akan dilakukan oleh Nay dan Kai ketika gadis itu diizinkan keluar dari rumah sakit nanti.
Diam-diam Kai melihat Nay dan Luke saling bercanda dan berbincang-bincang. Wajah Nay tampak bahagia sekali saat gadis kesayangannya itu berada di samping Luke. "Aku tidak pernah ada di hatimu, yah, Nay. As long as you happy, i will happy for you too,"
Pria berkacamata itu pun menyusul kedua pasangan yang sedang berjemur di taman. "Hei, Nay. Waktumu untuk minum obat,"
Nay mencibir ke arah Kai. "Huh! Perusak acara! Hahaha," dengan ditopang oleh Kai dan Luke, Nay berdiri perlahan. Namun, tiba-tiba saja, dia terjatuh. Wajahnya tampak sangat ketakutan. "K-, Kai! Aku kenapa?"
__ADS_1
Saat Luke hendak berlari mencari perawat. "Aku akan panggil bantuan, sebentar!"
"Tidak usah! Berpeganganlah yang kencang Nay! Jangan kamu lepaskan! Aku akan menggendongmu ke dalam!" Kai segera mengangkat tubuh kecil itu ke dalam dekapannya dan seperti disebuah drama, Kai berlari dengan membawa Nay dalam gendongannya.
Begitu sampai di dalam kamar, dokter dan beberapa perawat segera menangani Nay. Sedangkan Luke dan Kai menunggu di luar kamar rawat.
"Fletcher, tak bisakah kamu mundur?" tanya Luke
Kai menggeleng. "Kalian belum resmi menikah, aku belum bisa mundur. Tenang saja, aku bukan pria brengsek yang akan menikungmu."
"Apa alasanmu?" Luke bertanya lagi.
"Aku ingin memastikan dia bertahan. Dia sehat, sembuh dari sakitnya, dan hidup bahagia. Aku tidak peduli siapa pun yang akan mendampinginya nanti. Selama pria itu sanggup membuat gadisku tersenyum dan bahagia, aku akan mundur," jawab Kai tegas.
Ketegasan jawaban Kai membuat Luke kagum kepada pria yang berbeda 23 tahun dengannya itu. "Kamu luar biasa, Fletcher. Aku salut padamu,"
Tak lama, dokter pun keluar. Baik Kai dan Luke spontan beranjak dari kursi mereka dan menghampiri dokter. "Bagaimana, dok?"
Dokter itu tampak lelah dan putus asa. "Perkembangan sel kankernya sudah cukup besar dan semakin ganas. Mereka memang berhenti menyebar, tapi mereka memakan semua organ dan sel darah merah yang masih aktif di dalam tubuh Nona Rivers. Saat ini, sudah memasuki stadium 3. Nona Rivers juga mengalami anemia dan nantinya akan membutuhkan transfusi darah. Sekali lagi, kami akan berusaha semaksimal mungkin,"
"Bagaimana kemungkinan hidupnya, Dok? Apakah masih ada harapan?" tanya Luke. Seluruh kekuatannya menghilang dan dia berpegang pada Kai supaya dia tidak terjatuh.
"Harapan selalu ada, Tuan. Jangan khawatir, tetaplah optimis kalau kita bisa memenangkan pertarungan ini," hibur dokter itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Luke dan Kai menemui Nay yang tertidur. Sekarang selang yang menancap di tubuhnya bertambah satu. "Cepatlah sembuh, Nay. Kuatlah, Sayang," Luke mengecup kening Nay dengan lembut.
Tiba-tiba saja, terdengar dering telepon. Ponsel Nay berdering dan tampak nama Papa Otis melakukan panggilan video kepada gadis yang sedang terbaring itu. Luke dan Kai saling berpandangan. "Bagaimana ini?"
__ADS_1
...----------------...