Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Teror Untuk Kai


__ADS_3

Malam itu, seorang pria memasuki apartment kumuhnya di pinggiran kota. Pria itu merasa ada yang mengikuti kendaraannya dan bahkan para penguntit itu mengikutinya masuk ke dalam kawasan apartemennya.


Setibanya di dalam ruangan apartemennya, pria itu berpikir dan mengira-ngira siapakah para penguntit tersebut? Dia memiliki firasat kalau para pengungkit itu ada hubungannya dengan wanita yang akhir-akhir ini sedang dekat dengannya, Kanaya Rivers.


Besar kemungkinannya yang mengutus para pengungkit ini adalah Luke Wallace, kekasih rahasia Nay yang notabene adalah pamannya sendiri.


Beruntunglah pria tersebut memiliki ilmu bela diri yang telah dipelajarinya sejak kecil jadi dia tidak terlalu takut menghadapi para pengunten itu hanya saja rasanya menjadi sedikit kurang nyaman.


Pria itu mengintip dari balik jendela apartemennya dan para pengungkit itu memang sedang melihat-lihat di mana ruangan pria yang sedang mereka incar.


"Ternyata kau seorang pengecut, Luke! Aku tidak akan membiarkan Nay jatuh ke tanganmu walaupun dia cinta mati kepadamu," ucap pria itu bermonolog.


Keesokan paginya, pria itu bersiap untuk berangkat ke kantornya. Lagi-lagi sebuah mobil hitam menguntitnya dari belakang. Pria itu mendengus dan melajukan kendaraan bermotornya dengan kecepatan tinggi.


Setibanya dia di kantor, pria itu segera masuk ke dalam ruang direksi dan mencari Luke Wallace.


"Selamat pagi, Tuan Wallace," sapa pria kurus itu.


Luke yang saat itu sedang berbicara dengan sekretarisnya, mengangkat wajahnya sedikit dan seakan tidak ada tamu dia melanjutkan percakapan dengan sekretarisnya tersebut.


Ketika dia selesai berbicara dengan sekretarisnya, barulah Dia meminta pria kurus berkacamata itu untuk masuk dalam ruangannya dan duduk di depannya.


"Tuan Fletcher, ada yang bisa saya bantu? Setahu saya ruangan absen untuk karyawan tidak berada di ruang direksi," ejek Luke sambil tersenyum mencemooh.


Pria kecil itu mendengus dan menatap tajam ke arah Luke. "I know what you did, Mr. Wallace,"


Luke memiringkan kepalanya dan menyeringai lebar. "Oh yah? Apa yang aku lakukan kepadamu, Kai Fletcher?"


"Kau bersikap seperti seorang pengecut. Aku tidak menyangka kalau kau sepengecut itu sampai harus mengutus orang untuk menguntitku dan menakuti-nakutiku. Asal kau tahu, aku tidak mempan terhadap ancaman atau apapun itu. Niatku hanyalah untuk menyelamatkan Kanaya dari jalan sesat yang kalian lakukan," tegas Kai.

__ADS_1


Luke menegakkan posisi duduknya dan mendekat ke arah Kai. "Sayangnya itu bukan sebuah ancaman, Tuan Fletcher. Itu sebuah peringatan supaya kau tidak ikut campur dalam urusan orang lain. Hubunganku dengan Kanaya atas dasar suka dan suka, rasanya kurang pantas tiba-tiba Kau datang di tengah-tengah kami dan menghasut karena ia untuk menjauh dariku. Apa tujuanmu sebenarnya, Tuan Fletcher?" tanya Luke.


Tanpa takut Kai pun menjawab, "Aku hanya ingin menyadarkan Kanaya dari kebutaannyq akan cinta. Gadis itu menempatkan cinta di atas tempat yang salah dan kupikir aku bisa menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan hidupnya dari kesalahan tersebut,"


Luke menertawakan teori yang dijabarkan oleh anak muda yang menatapnya tanpa gentar itu. "tahu apa kamu tentang cinta? Kalau kamu belum pernah merasakan cinta aku mah aku anggap kamu sama saja memberikan sebuah pembelajaran yang salah kepada orang lain,"


"Mungkin aku memang tidak tahu tentang cinta tapi aku tahu bagaimana caranya mencintai seseorang. Cinta yang tumbuh di antara kau dan Kanaya itu adalah cinta yang salah," ucap Kai tegas.


"Oh yah? Salah di mananya, Tuan Fletcher kita yang cerdas?" ejek Luke lagi. Tangannya terus mengetuk-ngetuk meja kerjanya tanda dia menahan emosi.


"Kupikir kita sudah sama-sama dewasa, Tuan Wallace dan aku rasa kau bisa menjawabnya sendiri. Kalau memang ini tidak salah, kenapa hanya Kanaya yang merasakan sakit? Sedangkan kamu, kamu berlindung di balik pernikahanmu. Apa itu benar? Cinta memang membenarkan segalanya, Tuan Wallace yang terhormat," jawab Kai berani.


Sebuah bogem mentah yang sedari tadi ditahan oleh Lukez akhirnya berhasil mendarat sempurna di rahang Kai. Pria kecil itu terpelanting dengan suara yang cukup keras.


"Ouwh!" Kai menggerak-gerakkan dagunya dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Tubuh Luke kekar, wajar saja jika Kai terpelanting dengan keras.


"Kalau kau tidak mau mendapatkan masalah seperti ini lagi, jauhi Kanaya!" ancam Luke, mengendurkan ikatan dasinya.


"Keluarlah sebelum tanganku ternodai dosa lagi karena memukulmu! Aku akan panggilkan keamanan untuk membantumu! Jangan pernah mendikteku tentang hal yang benar atau salah! Persetan dengan itu semua! Yang aku tau, aku mencintai Kanaya!" tukas Luke sambil terus menunjuk wajah Kai.


"Kalau begitu,, ceraikan istrimu dan menikahlah dengan Nay," pinta Kai.


Luke meninggalkan Kai yang masih kesakitan, dia tidak ingin mengotori tangannya lagi.


Kai berpikir, pertemuannya dengan Luke membuat para penguntit itu pergi. Tetapi, ternyata tidak dan justru semakin menjadi.


Tak jarang, Kai mendapatkan paket aneh yang menjijikan saat dia pulang. Kadang juga dia mendapatkan telepon ancaman dari nomor tak dikenal.


Yang awalnya, Kai hanya diam, kali ini Kai tidak bisa diam. Pria itu kemudian menemui Kanaya dan Otis untuk memberitahukan kepada mereka kalau Luke telah memata-matai dan mengancamnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin pamanku seperti itu, Kai! Jangan asal tuduh!" sanggah Nay.


Kai membawa bukti-bukti ancaman yang dialamatkan kepadanya dan juga foto dari orang yang menguntitnya. "Siapa lagi? Dia terang-terangan memintaku untuk menjauh darimu. Siapa lagi sainganku selain pamanmu?"


Kanaya terdiam. "Kai, berarti pamanku masih mencintaiku, Kai. Jalan kamilah yang tidak dapat menyatukan kami. Aku pun masih mencintai paman Luke," sebutir air mata menetes dan jatuh di pangkuannya.


"Entahlah, Nay. Aku rasa, hatimu sudah tertutup," ucap Kai. Namun tiba-tiba, dia mendapatkan sebuah ide. "Nay, kita liburan, yuk!"


"Ke mana?" tanya Nay heran. Kai memang selalu out of the box dan tidak pernah bisa diprediksi jalan pikirannya.


"Kita pergi yang jauh sampai kamu bisa melupakan pamanmu," jawab Kai dengan sumringah.


Pria itu bertekad supaya Nay dapat melupakan bayang-bayang Luke dari hidupnya. Dia tidak bisa melihat Kanaya terus bersedih dan menangis seperti ini.


Sayangnya, percakapan mereka dicuri dengar oleh seseorang. Orang itu segera saja melaporkan kepada tuannya tentang rencana Kai yang ingin mengajak pergi Kanaya.


Maka malam itu, setelah Kai sampai di kawasan apartemennya, sebuah mobil hitam panjang menghadangnya dari depan. Untungnya, Kai pengemudi motor yang handal, dengan cekatan dia membelokan motornya dan mengeremnya secara mendadak.


Sebelum dia membuka helmnya, beberapa orang pria berbadan besar keluar dari mobil hitam itu dan mulai memukuli Kai. Dua orang pria memegangi tangan Kai, dan dua orang lagi menghabisi Kai.


Bruk! Tubuh Kai pun ambruk ke bawah. Dia merasakan sakit dan pedih yang luar biasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Napasnya tersengal-sengal, kepalanya sangat berat.


Dalam kondisi lemas, Kai masih mendengar sayup-sayup suara para pria yang memukulinya.


"Apa dia sudah mati?" tanya salah seorang pria itu.


Pria yang ditanya oleh kawannya berjongkok, dan mengangkat wajah Kai yang lebam dan penuh luka. "Belum, tapi Bos bilang jangan sampai anak kecil ini mati, 'kan? Kita sudah cukup memberinya pelajaran. Sekarang, hubungi Bos, cepat!"


Tak lama, Kai dapat mendengar suara salah satu pria itu. "Bos, pesanmu sudah tersampaikan dengan baik. Kami undur diri,"

__ADS_1


Setelah mendengar percakapan itu, kesadaran Kai semakin menjauh dan dia pun tergeletak tak berdaya di jalanan beraspal itu, tanpa ada yang datang untuk menolongnya.


...----------------...


__ADS_2