
Usai mendapatkan pernyataan cinta dari Kai, Nay cukup terkejut. Gadis itu tidak menyangka kalau ternyata Kai memiliki perasaan yang lain terhadapnya.
"Wow, apa kesalahanku sampai aku harus menerima pernyataan cinta dari sahabatku sendiri?" tanya Nay bermonolog.
Gadis itu pun kembali ke ruangannya dengan wajah cukup shock. Hal ini tentu saja mengundang perhatian dari Luke. Saat dia melihat gadis yang dicintainya itu masuk dengan menyeret langkah kakinya, Luke segera menghampiri Nay. "Apa ada masalah dengan Pria Brengsek itu?"
Nay menghempaskan dirinya ke sofa panjang yang biasa dia pakai untuk menyambut tamu yang ada di ruangannya. Mata Nay menatap Luke dengan tajam. "Jangan sebut Kai seperti itu! Dia bukan Pria Brengsek! Dia temanku hanya saja saat ini dia sedang tersesat,"
Luke menghela napasnya. "Maafkan aku. Ada apa dengannya?"
"Tidak ada apa-apa. Sebenarnya jika kita menjadi sepasang kekasih, bukan berarti Paman harus tau segala sesuatunya tentangku, 'kan? Maksudku, baik aku dan Paman memiliki ruang pribadi masing-masing dan aku ingin kita tidak mengusik ruang itu," tegas Nay.
Pria yang terpaut 20 tahun dengan keponakannya itu hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. "Tapi, bukan berarti kamu menutupi semuanya dariku, Nay. Maksudku, kita sedang berada dalam suatu hubungan saat ini dan jika kamu ingin hubungan ini naik level kurasa kita harus terbuka satu sama lain,"
Lirikan tajam dari mata hijau Kanaya mengunci kedua manik pamannya. "Apakah Paman sudah menggugat Bibi Alma?"
Luke terdiam. Bagaimana pun juga, dia masih memiliki rasa cinta yang tersisa untuk diberikan kepada bibi dari keponakannya itu. "Aku belum menemukan alasan yang tepat untuk menggugat Alma, Nay. Lagipula, apa kamu tidak sedih melihat bibimu patah hati?"
Sekali lagi, Luke dihadiahi lirikan tajam nan menusuk dari kedua mata Nay. "Ya sudah kalau begitu, tidak perlu berlebihan. Aku akan memberikan batasan sampai mana Paman bisa masuk ke dalam hidupku!"
Luke menggertakan giginya, menahan kesal. Bisa-bisanya dia dipermainkan oleh seorang gadis berusia belum genap 25 tahun itu. Dengan kasar, Luke melahap bibir gadis itu dan mengangkat tubuh mungilnya ke atas meja kerja.
"Aku akan masuk ke dalam hidupmu, Nay. Tunggu saja," ancam Luke, tangannya membuka satu per satu kancing kemeja merah muda tanpa motif yang dipakai Nay hari itu.
__ADS_1
Tak mau kalah, Nay mengimbangi permainan tangan pamannya. "Silahkan saja, Paman. Aku akan menunggumu sampai Paman mempersilahkanku masuk ke dalam hidup Paman,"
Tubuh mungil Nay menggelinjang saat Paman Luke menghisap kuat pucuk bukitnya. "Segera Nay, segera! Tunggu saja, tak lama lagi aku tidak hanya mempersilahkanmu masuk ke hidupku, tapi aku akan menyeretmu masuk ke sana,"
Suara dessahan lolos begitu saja dari bibir seksi Nay. "Oh, dengan senang hati, Paman," tantang Nay. "Tetapi, aku butuh kepastian darimu, Paman. Kapan itu terjadi? Aku berharap secepatnya,"
"Tak lama lagi, Kanaya. Bersabarlah," Luke membaringkan tubuh Kanaya di atas meja kerjanya dan membawanya masuk ke dalam permainan inti mereka.
Baik Luke maupun Kanaya kini tidak sempat berbicara lagi bahkan Luke tidak membiarkan Nay untuk mengeluarkan suara sedikit pun. Dia memberikan jarinya kepada Nay dan mempersilahkan gadis itu untuk melakukan apa pun dengan jarinya.
Sementara itu,
Alma sedang berkeluh kesah kepada kakaknya terkait pekerjaan Luke yang cukup berat. "Kak, apakah Kanaya tidak terlalu menekan Luke? Dia jarang pulang, Kak. Jangankan berbulan madu, menghubungi dia saja susah. Kadang ponselnya tidak aktif karena kehabisan daya dan dia tidak sempat mengisinya,"
Walaupun Otis telah memberikan kata-kata yang meyakinkan dan menenangkan, Alma merasa masih ada yang mengganjal dan hatinya terasa tidak nyaman. "Kak, apa di kantor ada seseorang sedang dekat dengan Luke?"
Tawa Otis mengencang, pundaknya kini turun naik seiring dengan suara gelak tawanya. "Alma, Alma. Aduh, ada-ada saja pikiranmu itu. Seseorang yang dekat dengan suamimu hanya Kanaya, hahahaha,"
Entah kenapa firasat Alma mengatakan ada sesuatu yang salah di sini dan ini bukan tentang pekerja melainkan tentang hal lain yang disembunyikan Luke darinya. Sebersit rasa pedih menyusup ke dalam hatinya.
"Tapi, apa memang pekerjaan Luke sebanyak itu? Tidak bisakah Kakak memberinya cuti?" pinta Alma dengan tatapan memelas.
Otis mengangguk-angguk. "Coba kau bicarakan dengan Kanaya. Semua urusan kantor sudah kuserahkan semua kepadanya,"
__ADS_1
"Nanti akan kutanyakan kepada Nay, Kak. Aku pamit dulu karena aku harus pergi ke suatu tempat. Aku sudah membuat janji dengan teman-temanku. Thank you, Kak dan sampaikan salamku untuk Nay," pamit Alma. Wanita itu mengecup pipi kiri dan kanan kakak laki-lakinya dan bergegas pergi.
"Alma, between you and Luke, is everything fine?" tanya Otis khawatir.
Alma tersenyum. "We're good," jawabnya.
Tak lama, mobil sedan Alma sudah meluncur ke suatu tempat. Bukan menemui teman-temannya melainkan menemui seseorang yang sudah dia sewa untuk menjalankan rencana yang sudah dia susun. "Ikuti pria ini 24 jam mulai besok. Aku ingin Anda mengambil gambar dari setiap aktifitas yang dia lakukan dan juga kemana saja dia pergi hari itu dan dengan siapa dia pergi. Dan ini, bayaran untukmu,"
Pria misterius itu menarik sebuah amplop cokelat yang tampak penuh dengan sesuatu. Dia mengocok-ngocok amplop itu dan kemudian dia tersenyum puas. "Siap laksanakan, Nyonya Wallace,"
Maka keesokan harinya, pria misterius itu mengikuti Luke. Dia mengambil gambar dan sesegera mungkin dia kirimkan kepada Alma.
Alma melihat foto-foto yang diberikan oleh pria misterius yang telah dibayarnya itu. "Apakah ini seorang wanita? Dan apartemen ini, kenapa tampak tidak asing? Aku pernah melihatnya, tapi di mana, yah? Ah, bodoh sekali kenapa aku bisa sampai lupa!"
Wanita itu terus memperhatikan foto-foto yang dikirimkan kepadanya sampai pada akhirnya dia menyerah dan menghubungi si Pria Misterius tersebut. "Apakah dia seorang wanita?"
"Ya, Nyonya dan tampaknya wanita itu masih sangat muda. Tuan Wallace keluar dari apartemen itu bersama wanita ini dan kemudian mereka masuk ke dalam mobil menuju kantor tapi mereka tidak segera keluar dan baru keluar dalam waktu yang cukup lama," kata pria itu menjelaskan dengan terperinci.
Seperti tersambar petir di siang hari, tubuh Alma tiba-tiba saja kehilangan kekuatan dan dia segera duduk di sebuah kursi yang ada di dekatnya. "Bagaimana ciri-ciri gadis itu?"
"Maaf Nyonya, yang saya tau, gadis itu masih sangat muda dan wajahnya tertutup topi. Tubuh gadis itu kecil dan mungil tapi padat berisi," jawab pria itu.
Hati Alma mencelos. 'Siapa wanita itu?' tanya Alma dalam hati. Tanpa terasa, butiran bening keluar dari pelupuk matanya sambil terus mengintropeksi diri, apa kesalahan yang telah dia perbuat sampai suaminya yang baru saja dia nikahi selingkuh dengan seorang wanita muda?
__ADS_1
...----------------...