
Selama Kanaya menjauh dari kehidupan Luke, pria itu seperti kehilangan sesuatu. Dia selalu menunggu kedatangan Nay setiap pagi dengan menjulurkan kepalanya ke arah pintu gerbang rumahnya.
Luke juga tidak merespon dengan baik setiap Alma berbicara dengannya. Luke memilih untuk diam dan menjauhi istrinya itu. Bahkan untuk melakukan hubungan suami istri pun, Luke enggan.
"Honey, ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kamu dingin sekali kepadaku," tanya Alma suatu malam sambil memeluk suaminya dari belakang.
Dengan perlahan, Luke melepaskan tangan istrinya yang melingkari pinggangnya. "Aku hanya sedang lelah, Sayang,"
Alma masih berusaha mendekati suaminya itu dan menggelendot manja pada lengan kekar Luke. "Apa kamu mau mengajukan cuti bulan madu? Kita belum sempat berbulan madu, loh,"
Seakan dikejutkan oleh sesuatu, Luke sadar bahwa mereka belum sempat berbulan madu karena kesibukan Luke di kantor barunya.
Namun keadaannya sekarang sudah jauh berbeda karena keponakan yang selalu mengganggu pikirannya itu. Setiap kali, dia membayangkan Nay ada desiran menyenangkan yang dia rasakan.
Jejak jari-jari nakal Nay yang berlarian di sekujur tubuh pria itu masih sangat terasa sampai sekarang. Luke seperti tersihir pesona Nay.
Luke kemudian berdiri dan bergegas keluar dari kamar. Alma mengejarnya dan kembali bertanya kepadanya. "Sayang, apa kamu baik-baik saja? Sikapmu berubah menjadi dingin sejak kamu pulang dari acara kantormu? Apakah ada masalah dengan pekerjaanmu? Pernikahan kita belum genap sebulan, tapi kamu sudah berubah sedrastis ini. Ada apa, Sayang?"
Pria itu menghela napasnya. "Aku baik-baik saja, Sayang. Mungkin benar katamu, aku harus istirahat. Kanaya menjadi atasanku langsung dan dia berbeda sekali dengan Kak Otis. Kanaya ingin segala sesuatunya selesai dengan cepat,"
Tiba-tiba saja Alma tertawa dan mengejutkan Luke. "Hahaha, Kanaya itu wanita sempurna, Sayang. Wajar saja jika dia menginginkan kesempurnaan dalam pekerjaannya. Dia tidak suka lembur atau tenggelam dalam pekerjaannya berlarut-larut," sahut Alma.
Wanita itu kini memijat-mijat pundak suaminya dengan harapan, dia dapat meringankan beban pikiran Luke. "Kanaya tidak suka bekerja di kantor tapi Kak Otis meminta dia untuk belajar bekerja dan menjadikannya sebagai pewaris tunggal Rivers Group. Itu beban berat yang harus dia tanggung di usia semuda itu. Seharusnya dia masih bermain dan bersenang-senang bukannya memimpin perusahaan. Mengertilah, Sayang,"
Luke sedikit lebih santai karena menerima pijatan dari istrinya. Dia tidak mendengarkan dengan baik perkataan Alma, dia membayangkan bagaimana jika Nay yang memijatnya.
Pria itu menarik tangan Alma dan membawa wanita itu duduk di pangkuannya. "Aku mengerti, Sayang. Kalau begitu, malam ini manjakanlah aku,"
Luke menyambar bibir Alma dan memagutnya dengan kasar. Wanita itu berusaha mengimbangi permainan suaminya, biasanya Luke bermain dengan lembut. Alma berusaha mengerti kondisi suaminya yang mungkin sedang lelah dan sedikit emosi karena kondisi pekerjaannya.
__ADS_1
Berbeda dengan Alma, bayangan Kanaya terus menghantui Luke. Pria itu berusaha tidak meneriakan nama Nay saat dia berada di atas istrinya. Dia membayangkan jari jemari Nay bermain di sekujur tubuhnya, dan ciumannya nakalnya yang seperti seekor ulat menyentuh setiap inci tubuhnya yang sulit dia lupakan.
"Wah, kamu seperti anak muda, Sayang," puji Alma, wanita itu membaringkan kepalanya di dada bidang Luke.
Luke membelai rambut Alma dan mengecupnya lembut tanpa kata.
Suatu pagi di kediaman Wallace yang biasanya damai, hari itu tampak ramai. Tak seperti biasa juga, Luke membentak istrinya hanya karena Alma menabrak pelayan yang sedang membawa kopi untuknya.
"Pakai matamu saat berjalan, Alma! Aku harus mengganti pakaianku! Satu jam lagi aku sudah harus berada di kantor karena hari ini ada rapat!" tukasnya galak.
Alma terpana mendengar bentakan dari suaminya itu. "A-, aku akan menyiapkan pakaianmu, Sayang. Tu-, tunggu sebentar,"
Dengan gemetar, Alma masuk ke dalam kamar dan membawakan kemeja baru untuk suaminya. Kemarahan Luke semakin menjadi, dia melemparkan kemeja itu ke arah Alma. "Kembalikan saja! Kemeja itu tidak sama dengan dasi yang aku pakai! Membuang waktuku saja!"
Luke pun bergegas pergi dan meninggalkan istrinya yang masih shock.
Bukan tanpa alasan Luke marah-marah. Kanaya berhasil membuatnya panas dan cemburu. Nyaris setiap siang, Nay dan Kai selalu bersama, entah itu mengerjakan pekerjaan bersama, membicarakan sesuatu, makan siang atau hanya sekedar berbicara santai saja.
Seperti siang itu, Luke melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan berakhir di sebuah bar. Dia memasuki bar itu dan memesan makan siang untuknya pribadi.
"Bisa aku memesan sesuatu yang keras?" tanya Luke kepada seorang bartender.
Bartender itu tersenyum. "Belum bisa, Tuan. Untuk pemesanan minuman keras dilakukan di atas pukul 7 malam. Saya bisa merekomendasikan mocktail atau cocktail untuk Anda, Tuan,"
Luke mengibaskan tangannya dengan angkuh. "Bawakan aku apa saja!"
Hari mulai menjelang malam, Luke pun akhirnya memesan apa yang dia inginkan. "Hei, siapa yang sudah selesai shift? Temani aku minum malam ini, duduklah di sebelahku. Aku yang akan membayar semua yang kamu pesan malam ini, hehehe,"
Seorang bartender yang tadi siang menolak pesanan Luke, menyanggupi keinginan pria kekar dan tampan itu untuk menemaninya minum.
__ADS_1
Tanpa terasa, gelas demi gelas, botol demi botol telah ditenggak oleh Luke. Karena paman Kanaya itu sensitif terhadap alkohol, jadi dengan cepat dia sudah mabuk.
"Hei, pernahkah kamu merasakan jatuh cinta. Oh, aku belum tau siapa namamu. Katakan padaku, siapa namamu?" tanya Luke, dia mengangkat gelas dan membenturkannya kepada gelas bartender itu.
"Ken, Tuan." jawab Si Pria Bartender.
"Ken, pernahkah kamu jatuh cinta, Ken?" tanya Luke dengan susah payah karena alkohol yang sudah mempengaruhinya.
Belum sempat Ken menjawab, Luke menempelkan jari telunjuknya di bibir Ken. "Tapi, kamu sudah memiliki seorang istri. Hahahaha! Pasti belum pernah, 'kan?"
Pria Bartender itu ikut tertawa. "Hahahaha, belum pernah, Tuan,"
"Kau tau, aku jatuh cinta kepada keponakanku sendiri. Dia gadis kecil yang nakal, Ken. Aku jual mahal kepadanya, tentu saja karena istriku adalah bibinya. Tapi!" Luke kembali menenggak slokinya. "Tapi di saat aku meminta dia untuk menjauh, bayangan gadis nakal yang membuatku tergila-gila itu semakin menghantuiku. Seperti ini, huuuu, huuuu."
Sebagai pegawai yang baik, Ken tau bahwa ini saat yang tepat untuk menghubungi keluarga tamunya tersebut. Maka, pria itu mengambil ponsel Luke yang tergeletak di atas meja dan mencari nomor keluarganya yang dapat dihubungi.
Selang beberapa jam, sebuah mobil berwarna merah metalik terparkir rapi di depan baru tersebut. Dari mobil itu, keluarlah seorang wanita cantik dengan rambut berekor kuda memasuki bar dengan langkah tergesa-gesa. "Di mana suamiku?"
Seorang pelayan bar menunjukan kepada wanita itu keadaan Luke yang tertidur dengan berpangku tangan. "Nyonya Alma Wallace?"
Alma mengangguk cepat dan wanita itu segera membangunkan suaminya yang tak sadarkan diri. "Luke, kamu bisa mendengarku? Bangunlah, ayo kita pulang," ajak wanita itu.
Pria itu menepis tangan Alma. "Aarggh! Jangan berisik aku mengantuk!"
"Auw! Luke, ini aku. Aku tidak kuat jika harus memapahmu sampai parkiran mobil. Bangunlah, kamu bisa meneruskan tidurmu di mobil," rayu Alma tak menyerah.
Sekali lagi, Luke menepis tangan istrinya itu. "Aagghh! Pergilah kamu, Pengganggu Sialan!" tukas Luke.
"Ini aku, Luke. Aku Alma. Kita pulang dulu, yuk Sayang," pinta Alma lagi.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Luke terbangun dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Nay? Kamu Kanaya?" tanya pria itu sambil memincingkan kedua matanya.
...----------------...