
"Luke,"
"Kak Otis? Ada apa sampai Kakak datang ke kantor?" tanya Luke. Pria itu segera merapikan meja kerjanya dan mempersilahkan empunya Rivers Group itu untuk duduk.
"Luke, sesungguhnya aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tanggamu, tapi istrimu menyalahkan Nay atas gugatan yang telah kamu layangkan kepadanya. Jawablah aku, apakah ini karena putriku?" tanya Otis tanpa basa-basi.
Luke menegakkan posisi duduknya. Ini bukan permasalahan yang sudah dia siapkan jawabannya. Jika dia menjawab jujur, kakak iparnya akan marah besar kepadanya tetapi kalau dia berbohong, Otis pasti akan memintanya mempertahankan pernikahan mereka.
"Maafkan aku, Kak. Tapi kurasa Kakak sudah tau apa yang terjadi dengan pernikahan kami," jawab Luke akhirnya. "Nay, aku masih mencintainya dan dari kabar yang aku dengar, dia sakit. Kalau boleh aku tau, Nay sakit apa, Kak?" sambung Luke bertanya tentang putri kesayangan Otis itu.
Otis menundukkan kepalanya. Pria itu menghembuskan napasnya perlahan. "Kalau kamu sudah bercerai dari Alma, apakah kamu berencana menikahi Kanaya? Begitukah rencanamu, Luke?" tanya Otis tanpa menjawab pertanyaan Luke sebelumnya.
Luke mengangkat kedua bahunya. "Aku belum tau, Kak. Aku hanya ingin mencari kebahagiaan untuk diriku sendiri dulu,"
"Huh! Andaikan aku merestui hubunganmu dengan Nay setelah kamu bercerai, aku takut kamu akan memperlakukan Nay seperti Alma," kata Otis.
Posisi pria paruh baya itu, kini serba salah karena dia takut Luke akan mengulangi kesalahannya terhadap Nay. Dia tidak ingin, Nay hancur hanya karena dikhianati oleh pria yang sangat-sangat putrinya cintai itu.
"Nay sakit karena merindukanmu, Luke. Jujur saja, aku menyerah. Aku tidak tau lagi bagaimana membuat Nay menyingkirkan bayang-bayangmu," sambung Otis lagi. "Hanya Kai yang bertahan ada di sisinya dan harapanku adalah Nay mau membuka hatinya untuk Kai. Tapi ternyata, itu gagal juga,"
Wajah Otis tampak lelah dan menua. "Bagaimana ini, Luke?"
"Apakah Kakak akan merestui kami?" tanya Luke setengah berharap.
"Entahlah, Luke. Apa keputusanmu sudah bulat untuk menceraikan Alma?" tanya Otis. "Mereka berdua wanita kesayanganku dan mereka adalah sosok wanita yang begitu berharga di hidupku. Sekarang, mereka berdua sakit karenamu, Luke," ucap Otis lagi.
__ADS_1
Luke tertunduk. "Maafkan aku, Kak,"
Keheningan kini menyergap mereka berdua seakan mereka tertelan ke dasar bumi.
Di lain tempat, Alma sedang berbicara dengan Nay. Kai sempat marah kepada Alma karena wanita itu membangunkan Nay yang sedang tidur.
"Maaf, Nyonya. Ta-,"
"Aku tidak butuh bicara denganmu, Fletcher! Minggirlah!" tukas Alma dan mendorong Kai untuk menyingkir dari hadapannya. "Nay! Oh, keponakanku tersayang ternyata sedang asik tidur cantik setelah berhasil merusak rumah tanggaku! Begitu, hah! Bangun, Nay!"
Alma menarik tangan Nay dari kursi kacangnya. "Bangun! Aku ingin berbicara denganmu!"
"Aah," Nay mengerang lemah.
"Nyonya Wallace!" tukas Kai dan segera menghampiri Nay, memapahnya untuk berdiri. "Kanaya sedang sakit, Nyonya. Biarkan dia istirahat dulu! Jangan kasar juga terhadapnya, aku mohon kepada Anda,"
"Ayo, kita bicara," tegas Nay dan dia melepaskan tangan Kai dan memberinya tanda kalau dia akan baik-baik saja.
Tak lama, kedua wanita itu sudah duduk mengelilingi meja makan dengan segelas air di hadapan mereka. "Ini untuk diminum bukan untuk disiramkan ke wajah satu sama lain!" tutur Kai tegas.
"Ada apa, Bibi?" tanya Nay. Gadis itu menopangkan kepalanya dengan salah satu lengannya.
Tanpa belas kasihan, Alma menyerang Nay yang sedang menahan sakit itu. "Kamu yang meminta Luke untuk menceraikanku, 'kan? Jujurlah, Nay! Aku sudah hafal betul sifatmu!"
"Pertama, ya, aku memang meminta Paman Luke untuk menceraikan Bibi. Sudah dua kali aku memintanya dan Paman selalu menolak permintaan cerai dariku," kata Nay dengan suaranya yang sedikit parau.
__ADS_1
Kai melihat gadis itu dengan tatapan cemas. Dia takut sekali Nay akan pingsan atau mengeluarkan darah dari hidungnya lagi atau bahkan dari tempat lain. Dia memberanikan diri untuk mendekati kedua wanita itu. "Nyonya Wallace, Nay sedang sakit. Dia harus istirahat," ucap Kai. Laki-laki itu kemudian berlutut dan bersimpuh di hadapan Alma. "Kumohon, jangan buat dia berpikir terlalu keras, Nyonya,"
Nay meminta Kai untuk bangun, dia memegang lengan Kai dan mengajaknya berdiri. Namun, Kai menolaknya. "Berjanjilah kepadaku, Nyonya," pinta Kai.
"Pergilah! Aku akan berusaha untuk tidak membuat Gadis Gatal ini berpikir keras. Paling tidak sebuah tamparan keras, bisa membuatnya berpikir," ucap Alma, siap melayangkan tangannya.
Hati Nay sakit sekali saat mendengar ucapan bibi Alma tentang dirinya itu. Dengan sigap, Kai menghadang di depan Nay dan dialah yang pada akhirnya terkena tamparan dari Bibi Alma.
"Ka-, kamu! Menyingkirlah dari hadapanku!" gusar Alma dan mendorong Kai untuk pergi menjauh dari mereka.
Namun, Kai bersikeras dan tetap ada di sisi Nay. "Bicaralah, anggap saja aku tak ada,"
Akhirnya, Alma mengindahkan kehadiran Kai di tengah mereka. "Suka-sukamulah! Dengar Nay, aku tidak akan memohon kepadamu dua kali, tapi kali ini aku mohon padamu, jauhi suamiku dan mintalah padanya untuk menarik gugatan cerai itu! Kalau kamu bersedia melakukan itu untuk Bibi, aku akan menarik ucapanku tadi!"
"Maaf, Bibi. Aku akan tetap pada keputusanku untuk menikahi Paman Luke," jawab Nay.
Kai menelan salivanya, dia meragukan indera pendengarannya saat dia mendengar Nay mengucapkan kalimat itu. "Apa maksudmu, Nay?"
"Selama ini, Paman selalu menolak untuk bercerai dari Bibi. Tapi tadi Bibi mengatakan, kalau Paman sudah menggugat Bibi. Lepaskanlah Luke Wallace dan berikan dia kepadaku. Aku membutuhkan Paman Luke di hidupku, Bi. Maafkan aku," tutur Nay kepada bibinya. Gadis cantik itu tidak tau, berapa lama lagi sisa umur yang dia punya. Dia ingin menghentikan segala terapi dan pengobatan yang membuatnya semakin lemah dan tersiksa ini untuk menghabiskan sisa waktu yang dia punya bersama Paman Luke kesayangannya.
Sebuah tamparan melayang di pipi Nay yang putih dan mulus itu. "Kurang ajar! Aku Bibimu, Nay! Sadarlah!" air mata Alma berurai turun dari pelupuk matanya. "Aku tidak peduli tentang sakitmu atau apa pun itu, aku hanya ingin, jauhi Luke! Dia suamiku, Nay! Dia pamanmu! PAMANMU!"
Nay memegangi pipinya dan memandang lurus bibi Alma. "Aku tau, Bi. Andaikan, aku hanya memiliki sisa hidup satu tahun lagi dan keinginanku adalah menikah dengan Paman Luke, apakah Bibi akan merelakannya?"
Wajah Alma tampak semakin berang. "Mau kamu akan mati tahun depan atau besok pun, aku tidak peduli! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskan Luke kepadamu, Nay! Tidak akan pernah! Camkan itu!" Setelah mengucapkan itu, Alma pun pergi dengan membanting pintu.
__ADS_1
"Kai, kepalaku pusing sekali," baru saja dia hendak berdiri, kesadarannya sudah jauh meninggalkannya. Gadis itu tidak mendengar suara Kai yang memanggil namanya dengan khawatir sambil menepuk-nepuk pipinya.
...----------------...