
Suara monitor rumah sakit terus berbunyi. Perawat hilir mudik masuk dan memeriksa kondisi Nay hampir lima belas menit sekali.
"Bagaimana, Suster?" tanya Kai. Dia seorang diri di rumah sakit. Sesaat setelah Nay rubuh dan tak sadarkan diri, hampir saja pria muda itu menghubungi Otis. Namun seketika itu juga, dia teringat akan janjinya kepada Nay untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun.
"Kita tunggu sampai pasien sadar, yah, Tuan," jawab si suster sambil melengos pergi.
Kai mengangguk dan menoleh lagi ke arah gadis yang saat ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Nay, bangunlah. Lagian, kenapa juga, sih, kamu harus merahasiakan ini semua?" Laki-laki itu memberanikan diri untuk menggenggam tangan Nay yang pucat dan kecil.
Tak beberapa lama, Kai merasakan tangannya diremmas oleh Nay. "Nay, kamu sudah sadar? Syukurlah,"
Nay menatap Kai dan meminta kepada pria berkacamata itu untuk memeluknya. "Kamu tau, Kai. Ternyata aku sekuat itu,"
"Bodoh! Kamu bodoh sekali, Nay!" balas Kai mempererat pelukannya.
"Jangan begitu. Nanti kalau aku mati, kamulah yang akan sangat kehilanganku," kata Nay lagi. "Aduh!"
Kai memukul kening Nay. "Jangan bicara aneh-aneh! Kamu tidak akan mati, Nay. Akan kupastikan itu!" Pria itu berusaha menghibur Nay serta dirinya sendiri. Benar apa yang dikatakan oleh Nay, kalau gadis itu meninggal, maka dialah yang paling kehilangan.
Nay terkikik. "Aku akan berjuang untukmu, Kai. Kamu sudah baik sekali kepadaku jadi aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk membalas kebaikanmu,"
Wajah Kai menjadi semu kemerahan. "Bodoh sekali. Sembuhlah untuk dirimu sendiri! Bukan untuk orang lain,"
Selagi Kai menemani Kanaya di rumah sakit. Seseorang sedang mencari pria itu. Sudah beberapa minggu sejak kepulangan mereka, Kai Fletcher belum muncul-muncul juga. Baik itu di kantor maupun terlihat bersama Otis.
"Tidak ada jadwal Kai Fletcher hari ini, Tuan Wallace," jawab sekretaris Otis Rivers yang selalu stand by di kantor itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih, Van," sahut Luke. Entah kenapa, sejak kepulangan Nay, Luke merasa ada yang janggal dengan dua orang itu. Seperti ada yang mereka sembunyikan. Tapi apa? Luke pun bertanya-tanya.
__ADS_1
Saat Luke bertanya kepada Otis, pria paruh baya itu hanya menjawab semua baik-baik saja dan putrinya memang lagi dekat dengan Kai. Otis juga menjelaskan kalau Nay sedang dalam masa pemulihan jadi dia akan jarang sekali ke kantor dan Kai yang akan membantunya selama Nay masih belum sehat benar.
Suatu hari, Luke tidak datang ke kantor. Dia menemui Otis di rumahnya. "Selamat pagi, Kak Otis," sapa Luke.
"Luke, masuklah. Ada apa kamu menemuiku?" tanya Otis mempersilahkan adik iparnya itu untuk masuk. "Mau bertemu dengan Alma? Apakah pikiranmu telah berubah?"
Pria berperawakan tampan itu pun tersenyum. "Tujuanku ke sini bukan untuk Alma, tapi untuk Fletcher. Aku sudah lama tidak melihat dia? Ke manakah Fletcher kita ini, Kak?"
Otis menyeringai kepada Luke yang saat itu tampak rapi dengan kemeja bergaris serta celana panjang berbahan silk berwarna hitam. "Fletcher akhir-akhir ini kutugaskan untuk membantu Kanaya. Dia baru saja sembuh dari sakitnya jadi kupikir dengan adanya Kai di sana, Nay bisa terhibur,"
"Kenapa bukan aku?" tanya Luke. Pria itu mencoba keberuntungannya sendiri. Dia sudah tau apa yang akan di jawab oleh Otis, tetapi entah mengapa, dia tetap saja berharap pada jawaban itu.
"Aku ingin Nay melihat Fletcher dan membuka hatinya pada pria itu. Tapi ternyata, semua rencanaku gagal, Luke. Putriku tetap mencintaimu. Dia keras kepala sekali, entah dari siapa sifat keras kepalanya itu," jawab Otis jujur.
Ada desiran menyenangkan di hati Luke saat kakak iparnya itu mengatakan demikian. Dia pun tersipu. "Aku juga mencintainya, Kak. Maafkan aku. Segala cara telah kulakukan untuk melupakannya tapi sama seperti Kakak, aku gagal," jawab Luke. "Bisakah aku bertemu dengan Kai?"
"Aku akan menemui Fletcher! Permisi, Kak!" sahut Luke cepat dan dia pun bergegas pergi dari rumah klasik itu. Dengan kecepatan tinggi, Luke melajukan kendaraannya menuju apartemen Nay.
Setibanya di sana, segera saja dia memasukan kode keamanan yang dia pernah buat bersama Nay. Namun, sepertinya kode keamanan untuk bisa masuk ke dalam ruangan apartemen Nay sudah diganti.
Akhirnya, Luke pun mengetuk pintu itu. "Nay! Kanaya, ini aku," sambil terus mengetuk pintu, Luke mencoba menghubungi Kai juga.
Tak beberapa lama kemudian, Kai membukakan bergagang emas itu untuk Luke. "Tuan Wallace, Kanaya sedang berada di rumah sakit,"
Luke menjulurkan kepalanya untuk melihat lebih jelas ke dalam. Kai tau kalau paman dari Kanaya itu tidak percaya kepadanya. "Silahkan masuk jika Anda tidak percaya kepadaku, Tuan Wallace,"
"Bisa aku bicara denganmu?" tanya Luke.
__ADS_1
Kai mengangguk. "Ya, silahkan. Kita bisa bicara sambil jalan, 'kan?"
Beruntunglah hari itu, Otis meminjamkan supirnya untuk Kai dengan alasan akan mengantar Nay kontrol ke rumah sakit. Sesuai dengan instruksi Nay, Kai tidak mengizinkan Otis untuk menjenguknya di rumah sakit.
"Katakan kepadaku sejujurnya, Nay sakit apa?" tanya Luke.
"Maafkan aku, Tuan Wallace. Nay melarangku untuk mengatakan kepada siapa pun tentang penyakitnya," jawab Kai jujur. Pria itu menunggu sampai kondisi Nay lebih baik sehingga dia bisa mengatakan apa yang terjadi pada dirinya kepada Luke maupun Otis.
"Aku tau dia tidak baik-baik saja, Fletcher! Tidak bisakah kamu, ... Katakan saja kepadaku, apa yang terjadi dengan Nay!" titah Luke. Kali ini, nada suaranya meninggi.
Sama seperti Luke, Kai pun bersikeras dan menolak untuk memberitahukan kepada pria yang kini tampak gelisah itu. "Aku tidak bisa, Tuan Wallace. Aku sudah berjanji kepada Nay dan aku tidak akan mengingkari janji kami,"
"Kamu ingin memenangkan hatinya, ternyata, huh?" selidik Luke sambil menyindir halus.
Kai tersenyum setengah mengejek. "Anda sudah tau apa jawabanku, Tuan. Dan Nay memilihku untuk mendampinginya bukan memilih Anda,"
Raut wajah Luke kini mengeras. Dia tidak senang dengan kenyataan yang dipaparkan oleh Kai. Baru saja dia hendak membalas pernyataan Kai itu, pria muda yang menjadi asisten kakak iparnya itu menepuk pahanya.
"Maaf kalau aku menggoda Anda. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memenangkan hati Nay. Dia terlalu mencintaimu dan saat ini kondisinya memang sedang tidak baik-baik saja. Tentu saja dia membutuhkan orang yang dia sayangi untuk memberinya semangat, tapi saat ini dia hanya membutuhkanku untuk berada disisinya," tutur Kai menjelaskan. "Baik aku dan Kanaya tidak tau berapa lama lagi waktu yang dia punya tapi, sebisa mungkin, turuti semua keinginannya jika dia meminta sesuatu kepadamu dan satu lagi, aku tidak tau kapan Nay akan menyingkirkanku dari hidupnya tapi aku berharap kepada Anda untuk selalu menjaga wanita yang aku cintai. Perlakukan dia dengan baik, dengan sangat baik kalau perlu. Cintai dan sayangi dia melebihi Anda mencintai diri Anda sendiri walaupun itu tidak boleh tapi aku benar-benar memohon kepada Anda untuk itu."
Penjelasan Kai yang cukup panjang itu membuat Luke semakin berpikir apa yang terjadi dengan Kanaya? Apakah separah itu kondisinya? "Apa yang kau bicarakan, Fletcher?"
"Aku akan mengajak Anda menjenguk Nay, kurasa sudah saatnya Anda mengetahui bagaimana kondisi Nay hang sebenarnya," jawab Kai, dia mengindahkan tatapan Luke yang tampak ketakutan dan khawatir itu.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun sampai di pelataran rumah sakit dan seorang petugas keamanan membukakan pintu untuk mereka dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
...----------------...
__ADS_1