Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Hari berganti dengan cepat. Segala urusan pernikahan ini menjadi seratus kali lipat terasa lebih merepotkan dari sebelumnya.


Semua orang tampak sibuk dan berjalan dengan terburu-buru. Otis Rivers sampai memberikan seorang manager untuk membantu keperluan putrinya dalam menyiapkan pernikahan itu.


Dari sekian banyak orang yang cukup sibuk, hanya Nay yang tampak santai. Sejak dia bertemu dengan Luke, dia tidak dapat melupakan ciuman terakhir bersama pamannya tersebut.


Malam saat Nay bertemu dengan Luke, Nay berbisik dan mengajak Luke untuk kawin lari. Akan tetapi, itu justru membuat Luke sadar dan melepaskan ciuman mereka.


"Nay! Tidak boleh seperti ini, Nay, aku harus pulang dan kamu, menikahlah dengan siapa pun! North, West, South, atau East, aku tidak peduli. Lupakan aku!" seru Luke kemudian laki-laki sekssi itu melengos pergi meninggalkan Nay yang masih termangu dan merasakan bibir Luke di bibirnya.


Alih-alih melupakan, Nay menjadi semakin menginginkan Luke untuk kembali bersamanya. "Aarrggh! Sialan! Kenapa sih ciumannya harus senikmat itu?" batin Nay dengan wajah memerah.


Kai masuk di sela-sela kesibukan manager Nay yang sedang mengurus gaun pengantin atasannya itu. Nay bukan tipe wanita yang merepotkan hanya saja dia cukup pemilih. Hanya saja dia akan memilih sesuai perasaan hatinya saat itu dan setiap jam dapat berubah.


"Bagaimana, Jill? Apakah dia sudah menentukan pilihannya?" tanya Kai berbisik kepada Jillian, manager Nay yang wajahnya tampak semrawut. Wanita itu menggeleng lemah.


"Ketika aku mengkonfirmasi kepada orang butik terkait gaun pengantin yang sudah Nona Rivers pilih, tiba-tiba saja dia mengatakan dia tidak mau yang itu dan menggantinya dengan gaun lengan panjang yang ini. Kemudian, aku kembali menyampaikan kepada orang butik lagi, dan Nona Rivers mengubah pilihannya lagi menjadi gaun model A Tube, dan begitulah, dia mengubahnya kembali sampai sekarang aku masih menunggu Nona Rivers untuk menentukan gaunnya," jawab Jill putus asa. "Apakah dia memang dia berniat untuk menikah? Tidak ada semangat atau bahagia di wajahnya,"


Kai mengambil tablet dari tangan Jill dan dengan cepat dia memilih gaun A Tube berwarna merah. "Ini saja, nanti aku yang akan mengkonfirmasi kepada keluarga North. Kanaya tidak akan peduli apa yang dia pakai untuk pesta itu. Ini pernikahan bisnis, kau pasti tau rasanya, 'kan?"


Jill mengangguk dan sekarang dia menatap Nay yang sedang membaca buku dengan tatapan kasihan. "Baik kalau begitu, aku akan mengkonfirmasi kepada orang butik. Ini sudah fix, 'kan? Tapi menurutku, kita harus menyediakan dua gaun cadangan untuk Nona Rivers,"


Jari-jari Kai kembali menggeser layar tablet dan dia memberikan tanda centang untuk model ball gown dengan aksen bunga poppy pada gaunnya. Kemudian jari telunjuknya kembali menggeser layar tab dengan cepat dan menemukan gaun pengantin sederhana model sleeves berwarna putih. "Ini saja," kata Kai menyerahkan tabletnya kembali kepada Jill.


Setelah memilihkan gaun pengantin untuk Nay, Kai menghampiri gadis yang tengah membaca buku sambil menulis-nulis sesuatu di bukunya tersebut. "Hei, calon pengantin,"


Nay menatap Kai dari sudut matanya. "Hmmm?"

__ADS_1


"Kamu tampak kacau sekali, Nay. Apa yang terjadi dengan Luke? Kalian bercinta? Secelup, dua celup?" tanya Kai menggoda sahabatnya.


"Hish! Mana ada seperti itu! Ah, sudahlah!" tukas Nay, dia mencibir ke arah Kai dan memalingkan wajah cantiknya. "Dia memintaku untuk menikah dan melupakannya, Kai. Kenapa orang bisa secepat itu berubah?"


"Dia tidak berubah, kamu saja yang bodoh karena mau menunggu dia dan berharap pamanmu itu masih mencintaimu. Itu gila menurutku," jawab Kai. "Sejak ada Chloe, keluarga Wallace tampak bahagia dan Luke juga terlihat lebih memperhatikan bibimu dan anak mereka. Oh, kamu belum bertemu dengan Chloe? Dia menggemaskan sekali, Nay."


Nay kembali mencibir. Kotak berisi keluarga miliknya sudah tidak dapat diisi lagi dengan siapa pun. Bahkan seorang bayi sekali pun, tidak akan dia izinkan untuk masuk ke dalam kotak keluarganya.


Apalagi untuk kotak cintanya, tidak akan ada yang sanggup mengambil kotak cinta berisi Luke dan membuangnya. Nay tidak mengizinkan siapa pun untuk menggantikan kotak cinta Luke itu.


Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Rivers dan North pun tiba. Para tamu undangan sudah memenuhi venue yang berada di sebuah taman luas yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna putih dan kuning.


Meja-meja bulat berisi empat sampai lima kursi sudah dihias dengan kain linen putih dan berpita kuning di belakangnya.


Alunan musik Canon In D menemani para tamu yang sedang menikmati pemandangan dan makanan ringan yang telah tersedia di hadapan mereka.


"Itu bukan keluargaku atau keluarga Felix. Mereka adalah wartawan. Biasalah, ayahku ingin memberitahukan kepada dunia kalau perusahaannya bertambah besar," jawab Nay santai. Bahkan di hari besarnya itu dia masih sempat menggigit sekotak cokelat dan menikmatinya.


Jillian hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kanaya Rivers yang cukup absurd itu. "Aku tidak peduli jika gaun putih itu akan terkena cokelat,"


"Anggap saja kita tidak menyadarinya jika itu terjadi," bisik Kai menenangkan Jill.


Sebuah ketukan di pintu, membuat Jill merapikan veil yang menghias kepala Nay dan dengan tegas, dia mengambil cokelat yang dipegang oleh Nay.


Otis Rivers menjulurkan kepalanya ke ruangan itu. "Nay, sudah siap?"


Kai membuka lebar pintu ruangan mereka dan mempersilahkan Otis untuk masuk. Betapa terkejutnya Otis saat melihat Nay sangat cantik dengan gaun pengantin. "Kanaya kecilku akan menikah dan kamu cantik sekali, Sayang," puji Otis mencium punggung tangan Nay.

__ADS_1


Nay tersenyum simpul. "Aku tau dan aku memang selalu cantik. Ayolah cepat, kita selesaikan hari ini!" tukas Nay tanpa semangat.


Otis memberikan lengannya kepada Nay dan mereka pun berjalan menuju altar. Musik Wedding March mengalun, mengiringi langkah ayah dan anak itu.


Di depan altar sudah menunggu Felix North yang hari itu tampak gagah dengan pakaian serba putih dari atas hingga bawah. Dia tersenyum lebar saat Nay berjalan mendekatinya.


Tibalah saatnya mereka menbacakan sumpah pernikahan mereka. Kai mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan rasa sakit karena gadis yang dicintainya akhirnya menikah dengan orang lain. Walaupun itu pernikahan main-main menurut Nay, tetapi sakit yang dirasakan oleh Kai tidak main-main.


"Felix James North, apakah Anda menerima Kanaya Thalia Rivers sebagai istrimu dan berjanji akan menemaninya dalam suka duka, senang sedih, untung malang, dan dalam segala kondisi?" tanya pemuka agama mengulangi sumpah mereka.


Felix mengangguk yakin. "Ya, saya berjanji,"


Pemuka agama pun mengulangi pertanyaan yang sama kepada Nay, "Kanaya Thalia Rivers, apakah Anda menerima Felix James North sebagai suamimu dan berjanji akan menemaninya dalam suka duka, senang sedih, untung malang, dan dalam segala kondisi?"


Nay tidak segera menjawab, dia terdiam. Pemuka agama itu kembali mengulangi pertanyaannya. Akan tetapi Nay tetap terdiam.


Felix menyentuh jari tangan Nay dan ber-pssst kepadanya. "Nay, pssst! Jawab,"


Tetapi Nay tetap terdiam. Suara bisik-bisik segera terdengar seperti suara dengungan kawanan lebah. Alih-alih menjawab, Nay melihat ke meja para tamu. Pandangannya berhenti pada Luke, Nay menatapnya sesaat sebelum dia mengalihkan pandangannya lagi. Nay melihat Kai yang sedang menatapnya heran, dia pun berlari dan menarik tangan Kai untuk mengikutinya.


"Nay, kamu gila! Mau kemana?" pekik Kai.


"Ikut saja!" jawab Nay.


"Kanaya! Kanaya! Tunggu, Nay!" Nay bisa mendengar langkah kaki Felix mengejarnya.


Gadis itu tau, dia tidak akan bisa berlari cepat saat mengenakan sepatu berhak tinggi, maka tanpa menghentikan langkahnya, dia melepas sepatunya dan melemparkan sepatu serta buket bunga kecilnya ke arah Felix. "Sorry!" teriaknya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2