
"Otis, selamat ulang tahun," ucap seorang pengusaha yang terkenal dengan kebaikan hatinya.
"Forest, apa kabar? Terima kasih sudah datang, hahahaha. Aku semakin menua," balas Otis sambil mendekap pergelangan tangan Tuan Forest.
Beberapa tamu juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Otis malam itu. Pria yang sudah berusia 68 tahun itu pun sangat bahagia dan wajahnya tampak berseri-seri.
Tak lama, dia memeluk seorang wanita cantik dengan gaun gemerlapan yang sangat indah. "Alma," sahutnya. Dia berjoget-joget kecil mengikuti irama musik untuk menyambut adiknya itu.
"Lihat apa yang kubawakan untuk Kakak!" seru Alma. Wanita muda itu membawa sebuah anak anjing seukuran cangkir teh kecil.
Otis menyambut kegirangan anak anjing berjenis mini red poodle itu. "Oh, apa ini? Lucu sekali,"
"Kakak kemarin sempat bilang kepadaku kalau Kanaya jarang pulang dan aku mempunyai ide untuk membelikan anak anjing ini untuk menemani Kakak," jawab Alma antusias. "Aku juga membeli satu untukku, kalau-kalau Luke tidak pulang atau sedang bekerja,"
Senyum yang sedari tadi terukir di wajah Otis kini lenyap seketika. "Apa kamu masih jarang pulang, Luke?"
Luke menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, Kak. Kanaya mengatur waktu supaya rapat dimajukan menjadi pagi sampai siang hari jadi tidak selesai terlalu malam,"
Otis kembali tersenyum. "Bagus. Pertahankan rumah tanggamu, Luke. Jangan seperti aku, menyesal kemudian. Mamanya Kanaya, pergi meninggalkanku saat aku sedang membangun Rivers Group. Oleh karena itu, jangan ulangi kesalahanku,"
"Tidak akan, Kak. Oh iya, di mana Nay?" tanya Luke. Sejak dia menginjakkan kakinya di gedung itu, hanya satu orang yang ingin dilihatnya hari itu, yakni, Nay.
"Hmmm, Kanaya masih ada di ruang rias. Aku minta dia tampil cantik hari ini karena aku akan memberikan kejutan untuknya. Oh, itu dia Nayku," ucap Otis sumringah. Dia berlari ke arah Kanaya yang malam itu tampak cantik dengan gaun berwarna gold, rambut burgundy balayagenya tergerai cantik bak tirai di punggungnya, ditambah dengan tiara yang menyempurnakan penampilannya.
Jantung Luke berdegup kencang saat melihat Nay yang dengan anggun menyapa para tamu. Tidak sekalipun dia menyesali cintanya kepada gadis itu.
"Nay! Kanaya!" suara Alma memecah lamunan Luke yang tepat berada di sampingnya.
Merasa namanya dipanggil oleh suara yang tidak asing bagi indera pendengarannya, Kanaya pun menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada bibinya itu. Gadis itu menatap Luke cukup lama sebelum akhirnya dia berpamitan kepada lawan bicaranya.
"Bibi Alma, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Kanaya, dia memeluk bibinya itu dengan sayang. "Halo, Paman," tak lupa, dia menyapa Luke yang sedang mengangumi Nay.
"Nay, kam-,"
"Kamu cantik sekali, Nay," sahut Paman Luke memotong ucapan istrinya dan kali ini Almalah yang tertegun mendengar kata-kata yang terdengar mesra itu.
__ADS_1
Nay tersenyum dan menunduk sambil mengucapkan terima kasih kepada pamannya. "Paman, Bibi, ke sana saja. Acaranya sudah mau dimulai," ajak Nay. Gadis itu melingkarkan lengannya ke lengan paman dan bibinya serta mengajak mereka untuk menuju ke tempat yang di peruntukan untuk keluarga.
Pembawa acara membuka acara itu dan seperti pesta pernikahan, Nay dan Otis masuk dengan bergandengan tangan dan diiringi lagu Ulang Tahun yang dinyanyikan oleh band yang sudah disewa untuk acara malam itu.
Rangkain acara berjalan sesuai rencana yang sudah disusun rapi oleh Agnes. Tamu-tamu pun menikmati acara malam itu.
Saat pembaca acara membawa Otis untuk naik ke atas panggung, seseorang menarik tangan Nay dan membawanya ke balik partisi. Seseorang itu mencium bibir Nay dengan mesra.
"Paman!" tukas Kanaya tak percaya.
"Ssstt! Kamu cantik sekali, Nay. Aku tidak tahan hanya melihatmu saja," ucap Luke, pria itu kembali menempelkan bibirnya ke bibir Nay.
Tak mau kalah, Nay segera mengalungkan lengannya ke leher Paman Luke dan melummat bibir pamannya. "Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini, aku ingin kita berduaan saja malam ini, Paman,"
Beruntunglah suara kecupan mereka teredam oleh pengeras suara yang berada di beberapa titik di gedung besar itu.
"Paman, kamu benar-benar pencari masalah. Aku ingin lebih dari ini. Bagaimana ini, Paman?" tanya Nay. Napasnya turun naik dan wajahnya memerah seperti orang mabuk.
Luke tersenyum. "Sayangnya kita tidak bisa, Nay. Tapi aku masih bisa menggodamu seperti ini," Luke menyapukan lidahnya ke tubuh bagian depan Kanaya yang tidak tertutupu oleh gaun panjangnya.
Suara dessahan lolos begitu saja dari bibir mungil Nay. "Aahhh, Paman, tidak sopan! "
Nay segera keluar dari balik partisi itu, tetapi Luke menahannya dan menciumnya sekali lagi. "Pergilah, Gadis Cantik!"
Nay keluar dari partisi itu dengan membawa senyum. Dia merapikan kembali rambutnya yang sudah acak-acakan karena paman Luke yang membuat gairahnya tertahan.
"Hahaha, ini dia Kanaya Rivers. Naiklah, Sayang," kata Otis. Dengan dibantu oleh beberapa panitia acara, Nay berhasil menaiki tangga menuju panggung.
"Malam ini, aku berterima kasih kepada tamu undangan yang sudah berkenan menyempatkan waktunya untuk datang ke acaraku malam ini. Sebenarnya aku tidak mau mengadakan pesta, hanya saja malam ini aku ingin memberikan beberapa kejutan untuk putriku tersayang," ucap Otis. Pria itu melihat ke arah Kanaya dan mengenggam tangannya.
"Aku ingin menyerahkan kepemilikan Rivers Group kepada Kanaya Rivers secara resmi," kata Otis.
Seisi ruangan itu pun bertepuk tangan dan menyambut pemimpin grup baru mereka yang masih sangat muda itu. Otis menyerahkan sebuah boneka berbentuk beruang kecil kepada Nay. Di leher beruang kecil itu terikat pita merah panjang. "Karena anakku seorang perempuan jadi sebagai simbol pergantian kepemimpinan Rivers Group telah kuserahkan kepada Kanaya Rivers,"
Nay menerima boneka itu dan menggunting ekor pita dari si beruang. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai para tamu kembali memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Nay, diterima?" tanya Otis bercanda.
Gadis itu tertawa malu. "Aku terima, Papa," katanya.
Otis memeluk putrinya dengan sayang. "Hari ini aku memang berulang tahun, tapi putrikulah yang mendapatkan kejutan. Sekarang, aku mempunyai kejutan kedua untuk hari ini adalah aku ingin mengumumkan pertunangan Kanaya dengan anak dari salah seorang sahabat baikku, Felix North,"
Gemuruh tepuk tangan semakin mengeras tatkala nama North disebutkan oleh Otis. Kanaya menandang ayahnya dengan tatapan sedikit kesal. "Pertunangan apa, Pa?"
Tak lama, seorang pria bergaya parlente naik ke atas panggung dan segera saja merangkul pinggang ramping Kanaya.
Gadis itu mencari pamannya dan dia melihat Luke menatap tajam ke arahnya. Dia juga tidak mengerti, sama seperti Nay sendiri.
Tuan dan Nyonya North menyusul anaknya untuk naik ke atas panggung. Mereka berjabat tangan dengan Otis dan Nay yang masih kebingungan.
"Baiklah, sekarang acara yang kita tunggu-tunggu! Sekali lagi, berikan tepuk tangan untuk Our Love Birds kita malam ini!" seru Sang Pembawa Acara.
Para tamu pun bersorak dengan gembira.
"Ya, kita lihat pemuda tampan yang beruntung itu sudah mengeluarkan sebuah cincin mewah dari kantung kemejanya dan oh, dia berlutut! Say yes, Nona! Say yes!" suara pembawa acara yang menggema memberikan semangat kepada Felix North yang berlutut sambil memegang tangan Nay bak putri kerajaan.
"Kanaya Rivers, would you spend your lifetime together with me?" tanya Felix North.
Kening Nay berkerut dan dia mengalihkan pandangannya sekali lagi untuk mencari Luke. Dia tidak ingin kekasih hatinya itu salah paham.
Seketika itu juga, Nay melepaskan tangannya dari genggaman Felix. Dia menuruni panggung dan berlari keluar. Gadis itu sudah tidak peduli lagi suara ayahnya yang memanggil namanya.
Melihat Nay keluar dari gedung itu, Luke segera berlari menyusulnya. Alma pun terkejut dan memanggil-manggil suaminya, "Luke! Luke!"
Namun sayangnya, nasib Alma sama seperti Otis. Luke tidak peduli dengan panggilan dari Alma. Dia mempercepat langkahnya dan menemui Kanaya yang berada di depan gedung. "Kanaya!"
Nay berhenti saat dia mendengar suara yang dirindukannya. "Paman," gadis itu pun berlari dan memeluk pamannya.
"Kumohon jangan salah paham kepadaku," bisik Nay.
Luke membalas pelukan Nay dan mengecup pucuk kepala Nay dengan sayang tanpa bicara.
__ADS_1
Adegan berpelukan itu disaksikan oleh seseorang yang cukup terkejut melihat kedekatan paman dengan keponakannya itu. "Apakah wajar berpelukan seperti itu?" tanya seseorang itu kepada dirinya sendiri.
...----------------...