
Pepatah mengatakan, jangan menahan rindu karena rindu itu berat. Tak hanya berat, menahan rindu juga dapat menyebabkan mala petaka. Inilah yang terjadi kepada Luke.
Setelah satu bulan kepergian Nay untuk menyelesaikan kuliahnya. Kondisi Luke semakin menurun. Awalnya, Luke lebih banyak berdiam diri sambil terus menatap kosong pemandangan di hadapannya.
Namun akhir-akhir ini, Luke menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Pagi-pagi sekali, dia sudah berangkat dan baru kembali setelah Alma dan Chloe terlelap. Bahkan, dia lebih memilih untuk menginap di kantornya dengan alasan anak dan istrinya akan terganggu jika dia mengendap-endap untuk masuk.
"Tuan Wallace, Anda tidak pulang ke rumah tadi malam?" tanya Victor Lane, salah satu karyawan kepercayaan Luke. Pria itu melihat bossnya terlelap di meja kerjanya pagi ini dengan menggunakan pakaian yang sama seperti kemarin.
Tentu saja karyawan itu merasa bersalah. Dia bisa pukang dan tidur nyenyak di rumah sedangkan atasannya masih berkutat di kantor dengan laptop masih menyala dan bahkan sampai ketiduran di ruang kerjanya. Memang, akhir-akhir ini pekerjaan mereka sedang sangat banyak.
"Oh, Lane. Aku ketiduran rupanya. Hehehe. Aku sedang mengerjakan laporan serta rancangan keuangan yang akan kita keluarkan untuk membuat projek Nona Rivers ini. Laporanmu, bagaimana? Sudah selesai?" tanya Luke yang sudah duduk tegak kembali dan bersiap untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Victor memiringkan senyumnya. Dia sungguh-sungguh merasa tidak enak kepada atasannya itu. "Sedikit lagi, Tuan. Saya akan menyelesaikannya sekarang dan satu jam lagi, akan saya serahkan kepada Anda," dia pun bergegas menuju meja kerjanya.
Sebelum Nay melanjutkan kuliahnya, Nay dan Luke memang terlibat dalam sebuah projek besar. Mereka ingin mengembangkan Rivers Group lebih besar lagi. Luke tidak ingin membiarkan proyek mereka itu menggantung karena harus menunggu Nay menyelesaikan kuliahnya, maka, sebagai kepala perencanaan, dia yang akan menyelesaikannya, apa pun yang terjadi.
Selain itu, ada alasan mengapa Luke bersikeras menyelesaikan proyek itu. Dia ingin mengalihkan rasa rindunya kepada Nay.
Sampai pada suatu hari, Alma mendatangi Otis di rumahnya. "Sore, Kak,"
"Hei. Bagaimana kabarmu, Alma?" Otis memeluk adiknya dan setelah itu kepalanya celingukan seperti mencari seseorang. "Di mana Chloe?"
Alma menanggapinya dengan dingin. "Di rumah bersama baby sitternya,"
"Aku datang ke sini karena aku ingin Kakak tau kalau Luke sudah menginap di kantornya selama hampir seminggu!" Alma menggelengkan kepalanya sambil memejamkan kedua mata menahan emosi yang selama ini berhasil ditahan dengan baik. "Apakah pekerjaan yang memang banyak itu? Maksudku, sampai dia tidak sempat pulang! Ini hal tergila yang pernah terjadi di dalam rumah tangga kami, Kak!"
Otis menghembuskan nafasnya dan menyugar rambut setengah botaknya ke belakang. "Pekerjaan memang sedang banyak tapi aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia bermalam di kantor karena sebanyak-banyaknya pekerjaan dia bisa membawa pulang pekerjaannya dan meneruskannya di rumah atau dia kembali ke rumah dan meneruskan pekerjaan itu untuk esok hari. Kanaya dan Luke memang sedang membuat sebuah proyek besar dan proyek ini terancam tertunda karena Kanaya harus kuliah dan sepertinya suamimu meneruskan proyek ini sendirian. Jujur saja, Ini proyek yang sangat besar."
Mendengar nama Kanaya disebut, itu membuat emosi Alma menjadi lebih meradang. "Nay lagi! Nay lagi! Kenapa sih, selalu harus bersangkutan dengan dia! Kalau seperti ini, bisa-bisa aku menbenci keponakanku sendiri!"
"Yang kamu bicarakan itu adalah putriku, Alma. Bagaimana pun, posisi suamimu berada di bawah putriku. Sekali saja dia membuat kesalahan, habislah karirnya," ancam Otis.
__ADS_1
Adik kakak itu jarang sekali bertengkar bahkan mereka saling melindungi satu sama yang lain dan saling peduli. Baru kali ini, mereka berbeda pendapat dan saling mengancam.
"Aku hanya ingin Kakak mengurangi pekerjaan suamiku titik Karena bagaimanapun juga aku membutuhkan suamiku di rumah. Begitu juga dengan anak kami, dia membutuhkan kehadiran ayahnya!" tegas Alma.
"Bicarakanlah berdua secara baik-baik tanpa melibatkanku. Sejujurnya aku tidak ada hubungannya dengan rumah tanggamu tapi kamu selalu menyeretku untuk ikut campur dalam permasalahan di keluargamu. Kamu sudah dewasa dan belajarlah untuk menyelesaikan masalahmu sendiri! Hanya karena aku terlalu fokus kepadamu, aku menyampingkan perasaan putriku sendiri," tukas Otis kejam.
Otis menganggap ini semua terjadi karena kesalahan Alma. Adiknya itu tidak mampu mengurus suaminya dengan baik, sampai Nay menjadi korban seperti sekarang.
"Kak Otis! Jaga bicaramu, Kak! Baiklah, kalau itu kemauanmu, aku akan mengurus hidupku sendiri dan maaf kalau selama ini aku merepotkan Kakak," kata Alma sakit hati. Dia pun pergi dari rumah itu.
Sementara itu di kantor Rivers Group,
Luke yang sedang kelelahan berusaha untuk menyelesaikan laporan demi laporan dengan cepat. Hanya inilah satu-satunya cara supaya dia bisa melupakan Nay sejenak.
"Tuan Wallace, maaf menganggu,"
"Lane, masuklah. Ada apa? Ada kesulitan?" tanya Luke.
Lane menggeleng. "Aku sudah mengirimkan laporan rancangan dana yang kita butuhkan dan yang akan kita keluarkan ke email Anda dan satu lagi, email berisi proposal permohonan kerjasama kepada West Corporate. Mohon ditandangani dan di cek ulang, Tuan,"
Victor mendekati Luke dan menunjukan email yang sudah dia kirimkan. "Aku memakai VLane@cocomail.com untuk laporan internal kita dan victorlane@rivers.com untuk pengajuan proposal kepada West Corporate,"
Luke mengangguk-angguk dan segera mengecek isi email Victor tersebut. Mereka memeriksanya bersama dan Luke memperbaiki kata-kata atau angka yang kurang tepat pada laporan serta proposal itu. "Sudah oke, nanti akan segera kutandatangani dan kukirimkan kepada West Corporate. Oh, ini angka yang sudah di mark up, 'kan?"
Victor mengangguk dan Luke memberikan ibu jarinya sebagai penghargaan kepada pegawai teladannya itu.
Tak lama, Luke pun membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang sudah dia ubah formatnya tersebut dan kembali mengirimkannya kepada pimpinan West Corporate.
"Semoga tembus," harapnya dalam hati sambil meregangkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, hari itu Luke memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia merindukan Chloe dan kasurnya, mungkin ada sedikit rindu juga untuk Alma.
__ADS_1
"Victor, aku pulang lebih dulu. Kabari aku jika terjadi sesuatu," kata Luke.
Victor segera berdiri dan memberi hormat kepada atasannya yang dinilai sangat loyal terhadap perusahaan itu. "Baik, Tuan Wallace. Selamat beristirahat,"
Luke pun meninggalkan kantornya dengan perasaan ringan dan tenang. Dia menghembuskan napasnya, lega. "Semoga impian kita tercapai, Nay dan setelah itu, orang-orang akan menikmati hasil karya kita berdua,"
Senyuman belum hilang dari wajahnya saat Victor menghubunginya. "Gawat, Tuan! Tuan Rivers, ingin Anda menemuinya sekarang juga!"
"Loh, masalah apa? Kamu terdengar panik sekali! Ada apa?" tanya Luke yang segera saja ikut-ikutan panik.
"Menurut Tuan Rivers, Tuan Sean West marah karena melihat proposal yang Anda kirimkan siang ini!" jawab Viktor. Suaranya seperti ingin menangis.
Luke masih mencerna apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu. "Tenanglah dulu, Lane. Aku akan menemui Tuan Rivers sekarang juga,"
Maka, Luke memutar balikkan roda besinya dan mengubah arah tujuannya.
Setibanya di tempat Otis, dia bisa melihat wajah pria tua itu menjadi garang dan murka. Baru kali ini Luke melihat wajah menyeramkan kakak iparnya.
"Kak, Lane menghubungiku dan, ...."
Otis melemparkan beberapa lembar dokumen yang telah di print out ke arah Luke. "Apa saja yang kamu kerjakan, Luke!"
Luke mengangkat kedua tangannya dan melindungi wajahnya dari serangan dokumen yang beterbangan. Pria itu memungut salah satu kertas yang sudah terjatuh dan membaca isi dari dokumen itu.
Betapa terkejutnya dia saat dia melihat itu bukan proposal yang seharusnya dikirimkan kepada West Corporate. "I-, ini, ...? Inikah yang kukirimkan kepada Tuan Sean West?"
"Mana aku tau! Kenapa kau bisa ceroboh seperti ini, Luke! Kamu mengirimkan dapur Rivers Group beserta dana yang kita butuhkan untuk bekerjasama dengan West! Wajar sama dia murka! Dia menerima dua email siang ini. Email pertama, berisi proposal kerjasama dan email kedua, laporan rancangan keuangan kita! Betapa kagetnya dia ketika dia mengetahui angka mark up yang telah kalian buat melebih 100%! Gila!" seru Otis. Dadanya naik turun karena marah dan emosi.
"Aku bisa jelaskan ini kepada Tuan West, aku akan datang ke sana sekarang juga," ucap Luke. Entah apa yang dia pikirkan sampai dia melakukan kesalahan fatal seperti ini.
Otis mengacungkan jari telunjuknya ke wajah tampan Luke. "Wallace, nasib karirmu berada di sini. Jika kamu gagal mendapatkan kerja sama ini, maka aku tak akan ragu memecatmu! Tak peduli kamu adik iparku!"
__ADS_1
Luke menelan salivanya kasar. "Ba-, baik. Akan aku selesaikan masalah ini," Luke pun bergegas keluar dari rumah megah itu dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia akan menemui Tuan West sore itu juga. "Hidupku kacau tanpamu, Nay,"
...----------------...