Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Pengungkapan Cinta


__ADS_3

"Kanaya, Papa mau bicara denganmu," ucap Otis di suatu malam ketika dia melihat putrinya sedang tidak ada kerjaan malam itu.


Kanaya pun mengikuti sang ayah untuk masuk ke dalam ruangan kerja ayahnya. Nay sudah membatin kalau yang akan dibicarakan oleh ayahnya itu hal yang serius. Gadis itu sudah sangat paham kebiasaan ayahnya. Jika yang dibicarakan adalah hal yang serius, maka ayahnya itu akan mengajak Nay ke ruang kerjanya. Tetapi, jika dia diajak ke ruang keluarga maka apa yang dibicarakan tidak serius.


"Duduklah, Nay," sahut Otis.


Nay pun merebahkan tulang ekornya di sofa berlengan empuk di hadapan ayahnya.


Otis mengambilkan biskuit serta beberapa keping cokelat dan air untuk mereka nikmati bersama. "Papa tidak akan berbicara terlalu serius tapi tetap ini akan menjadi pembicaraan yang tidak bisa kamu lupakan begitu saja,"


Penerus Rivers Group itu mengangguk. "Baik, Papa. Nay akan mendengarkan dengan baik,"


"Aku ingin kamu bertunangan dengan anaknya teman Papa." Otis membuka sebuah ponsel dan menunjukan sebuah foto pria dengan kemeja dan vest abu-abu dengan senyum lebar yang menampakan gigi putih hasil veneer. "Namanya Felix North. Aku telah mengatur kencan untuk kalian berdua di pekan ini,"


Nay mengeraskan air mukanya tanda kalau dia tidak setuju dengan usul ayahnya. "Kenapa aku harus bertunangan dengan laki-laki yang tidak aku kenal?"


"Pamanmu memberitahuku, kalau kamu menjalin hubungan dengan seorang pria yang biasa saja. Katakanlah kalian sama-sama jatuh cinta dan pada akhirnya menikah. Aku tidak rela jika anakku, putriku yang selalu aku jadikan ratu menjadi seorang pencari nafkah yang harus menghidupi seorang pria! Aku tidak rela, Nay!" jawab Otis, wajahnya memperlihatkan kesakitan yang begitu dalam.


Kedua alis Nay menyatu, gadis itu masih berusaha mencerna apa yang dikatakan ayahnya. "Paman Luke? Siapa yang dia maksud?"


"Kamu hanya mempunyai satu orang paman, Nay. Siapa lagi selain Paman Luke. Pamanmu kemarin memberitahuku kalau kamu sedang dekat dengan pria yang bernama Kai Fletcher. Kupikir dia seorang pebisnis sama sepertiku, ternyata dia hanya pegawai rendahan yang bekerja di bawahmu. Benar begitu, Nay?" tanya Otis. Dia menginginkan jawaban detail dari Sang Putri.


Kemarahan Nay terhadap pamannya sudah tidak dapat ditahan lagi. "Kalau Papa mempercayaiku, aku tidak akan membuat nama Papa dan Rivers Group tercemar. Yang perlu Papa lakukan hanyalah percaya kepadaku,"


Otis dapat melihat kesungguhan dari wajah putrinya itu. "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi aku ingin pertunangan mu dengan Felix tetap berjalan. Papa yang akan mengatur waktunya,"

__ADS_1


Nay mengangguk pasrah. "Ya, Papa,"


Setelah menutup pintu ruangan kerja ayahnya, Nay segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Paman Luke, ("Paman! Temui aku besok di mobilku saat jam istirahat siang! Jangan sampai ketahuan oleh orang lain! Aku akan mengancam Paman dengan membocorkan video mesra kita kepada Bibi Alma dan Papa! Mereka pasti akan berpihak kepadaku! Aku tunggu Paman besok siang!")


Nay menunggu jawaban dari laki-laki yang dipanggil Paman olehnya itu. Namun sampai satu jam berlalu status pesan yang dikirimkan Nay hanya terbaca.


Keesokan harinya, Nay segera datang ke kantor dan dia menunggu Kai di ruang karyawan. Begitu melihat kedatangan Kai, dia segera menyeret tangan pria berkacamata itu dan memasukannya ke dalam mobil yang dia bawa. "Hari ini jangan tampakan dirimu di kantor. Pergilah, pakai dulu mobilku. Pergi ke alamat ini dan bersenang-senanglah di sana,"


"N-, Nay? Ada apa?" tanya Kai terbata-bata. Jujur saja, dia sudah mendapatkan feeling tidak enak saat dia datang ke kantor hari ini.


"Nanti akan aku jelaskan, pergilah cepat! Kabarkan aku begitu kamu sampai di sana," perintah Nay dengan cepat.


Namun, Kai menolak untuk masuk ke dalam mobil. "Nay, ada apa? Apa ada hubungannya dengan kedekatan kita seminggu ini?"


Nay menggelengkan kepalanya. "Tidak. Cepat pergi dari sini kalau kamu mau nyawamu selamat!"


Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Kai. "Kumohon Kai, pergilah dan jangan banyak tanya lagi. Terima kasih karena kamu baik, aku hargai itu."


Wajah Kai merah padam, dia terus memegangi pipi bekas kecupan dari gadis yang disukainya itu.


Setelah Kai pergi, Nay meminta tolong kepada salah seorang supirnya untuk membawa mobil lain yang akan digunakan olehnya nanti. "Kalau sudah sampai kantorku, parkirkan saja di tempat biasa," perintahnya.


Tak lama beberapa pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam datang ke tempat karyawan dan mencari Kai Fletcher. Nay menarik napas lega, dia menggenggam telpon genggam milik Kai yang tadi dia ambil secara diam-diam tadi dan menginjaknya dengan sepatu hak tinggi yang dia pakai. Tak lupa, dia merapikan serpihan ponsel yang telah hancur itu.


Saat istirahat tiba, Nay sudah siap menunggu Paman Luke di mobil barunya. Gadis berambut hazel itu telah memberitahukan kepada pamannya nomor polisi mobil baru tempat dia menunggu hari itu.

__ADS_1


Tak lama, seorang pria bertubuh tegap dan tinggi datang menghampiri mobil Nay. Pria itu menengok kiri, kanan dan belakang, dia berjaga-jaga supaya tidak ada orang lain yang menguntitnya.


Nay membunyikan klakson mobilnya, memberi tanda bahwa dia sudah berada di dalam mobil itu sekaligus mempersilahkan pria itu untuk segera masuk.


"Selamat siang, Paman Luke," sapa Nay dengan suara dingin, tidak seperti biasanya.


Pria bernama Luke itu membuka kacamata hitamnya dan bertanya kepada Nay, "Ada masalah apa sampai kamu berani memerintahkan dan mengancam pamanmu, Nay? Apa kamu tidak pernah dididik untuk menghormati orang yang lebih tua?"


"Apa Paman tidak pernah dididik untuk selalu mengatakan kebenaran dan jangan ikut campur urusan orang lain?" balas Nay kurang ajar.


Luke mulai paham kenapa keponakannya itu marah kepadanya. "Masalah Kai Fletcher? Kamu marah kepadaku karena aku mengadukan kalian kepada ayahmu?"


"Paman yang memintaku untuk menjauh dan aku sudah lakukan itu, lalu Paman juga memintaku untuk melupakan Paman dan mencari pria baik yang seumuran denganku, dan aku sudah lakukan itu! Aku sudah lakukan semua kemauan Paman, tapi kenapa Paman masih terus mengusikku?" tanya Nay. Entah bagaimana semua rasa kesal dan marah Nay terasa sangat nyata. Ini jauh dari harapan Nay yang awalnya hanya ingin membuat Pamannya itu cemburu kepadanya.


"Karena aku menyukaimu, Nay!" jawab Paman Luke dengan cepat. Dia segera mengalihkan wajahnya.


Nay tertegun. "Heh? Apa yang Paman katakan barusan?"


Gadis itu menatap lekat manik Pamannya. Kedua mata mereka kini saling mengunci, ada keheningan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Dengan perlahan, Paman Luke memperkecil jarak di antara mereka dan memberikan Nay sebuah kecupan lembut di bibir merah merona milik keponakannya itu. "Sebut saja aku gila, tapi aku juga menyukaimu, Nay. Kejadian di cottage saat itu membuatku tidak bisa melupakanmu,"


Senyum bahagia terukir jelas di wajah Nay. "Aku sudah bisa merasakan kalau Paman juga menyukaiku. Aku jug-,"


Nay tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Luke sudah kembali menciumnya dan mendekap tubuh mungil itu dengan erat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2