Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Pengalihan


__ADS_3

"Kai, apakah aku berdosa?" tanya Otis. Perasaan bersalahnya kini berlipat ganda saat dia telah menghancurkan hati Luke dengan mengatakan kebohongan tentang Nay.


Kai mengangguk yakin. "Tentu saja, Tuan. Anda berdosa sekali. Sungguh-sungguh berdosa!"


"Janganlah menghakimi aku yang sudah tua ini, Tuan Fletcher. Tujuanku baik, supaya mereka bisa saling melupakan dan menjalani hidup mereka masing-masing. Hanya itu. Aku yakin Tuhan tau apa maksudku," sahut Otis keras.


Pria tua itu sama sekali tidak tau apa yang harus dia lakukan supaya baik Nay atau Luke tidak saling menanyakan satu sama lain. Apakah sekuat itu hubungan batin di antara mereka? Otis mulai menebak-nebak. Pikirannya menggila dan membayangkan apa saja yang dilakukan oleh putri dan adik iparnya tersebut. "Aarrgghh! Sial! Fletcher, pergilah! Temui Kanaya!"


Betapa terkejutnya Otis saat melihat asisten pribadinya itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau. Aku ada banyak pekerjaan hari ini karena kemarin aku harus mendengarkan curahan hati putrimu yang menangis berjam-jam sedari pagi sampai Anda membelalakan matamu kepadaku!"


"Kau! Kurang ajar! Sekarang kamu sudah berani membantahku, Fletcher!" tukas Otis menahan kesal.


Kai mengedikkan kedua bahunya dan pergi berlalu begitu saja dari hadapan Otis.


Otis memikirkan ucapannya baik kepada Nay maupun Luke. Nasi sudah menjadi bubur, dia tidak dapat menarik kembali apa yang sudah dia lontarkan kepada kedua pasangan yang kini terpisahkan itu.


Otis mengetuk-ketukan jarinya di lengan kursi. "Ah, sudahlah! Aku lihat apa yang akan terjadi nanti. Toh cepat atau lambat, mereka memang harus terpisah," ucap Otis bermonolog.


Tak lama, Otis meninggalkan ruang kerjanya. Seseorang masuk ke dalam ruangan yang gelap itu dan membuka laptop yang biasa Otis pakai untuk aplikasi pesan. Pria itu mengambil ponselnya dan mengambil gambar dari layar laptop Otis. Setelah selesai, dia menutup kembali laptop pria tua itu dan pergi meninggalkan ruang kerja Otis tanpa jejak.


Pria itu tampak mengirimkan pesan kepada seseorang dan dari raut wajahnya terbersit penyesalan atas apa yang telah dia lakukan.


Beberapa hari kemudian setelah kejadian penyusupan itu, Alma dan Luke sudah memutuskan untuk mengadopsi bayi perempuan yang mereka temui di yayasan.


"Tinggal menunggu proses adopsinya, Luke. Aku sudah tidak sabar membawa Chloe pulang bersama kita," ucap Alma antusias.


Luke tersenyum. "Ya, Sayang,"


Alma masih merasakan kalau suaminya masih dingin terhadapnya. Wanita itu berharap semoga dengan hadirnya Chloe Wallace di tengah-tengah mereka, sikap Luke berubah kepadanya.


Kedua pasangan itu mulai menyiapkan kamar anak perempuan yang sudah di design dan di cat dengan warna-warna feminim dan lembut oleh Luke akhir-akhir ini. Luke menolah untuk memakai jasa tukang dengan maksud supaya dia bisa sibuk dan menyingkirkan Nay dari hatinya.

__ADS_1


Bayangan Nay semakin menggila dan mencengkeram kuat hatinya, sehingga Luke terkadang merasa sesak napas hanya karena menahan rindu. Apalagi setelah Otis memberitahukan kalau Nay akan menikah dengan pria lain.


"Sayang, belakangan ini kamu diam sekali. Apa kamu setuju dengan usulku? Maksudku, kalau kamu belum siap untuk memiliki seorang anak, kita bisa membatalkan rencana kita dan kita habiskan saja waktu berdua. Aku tidak mau kamu jadi terbebani nantinya," tanya Alma suatu hari, saat dia mendapatkan suaminya sedang melamun di depan kolam ikan tamannya.


Luke menoleh ke arah Alma. Dia tersenyum kecil. "Oh, aku hanya sedang memikirkan sesuatu dan kuharap kamu tidak berprasangka buruk dengan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya sedang lelah dan mungkin sedikit bersemangat menyambut kedatangan Chloe kita," jawab Luke berkilah.


"Benarkah? Kamu tidak keberatan?" tanya Alma lagi. Dia meragukan senyum suaminya. Wanita itu sudah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Luke walaupun suaminya itu tidak mengatakan apa pun kepadanya.


Luke menganggukan kepala. "Iya, Sayang,"


Melihat respon Luke, Alma pun membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Dia ingin percaya kepada Luke lagi dan dia ingin menyelamatkan biduk rumah tangganya. Dia ingin menjadi pahlawan dalam peperangan ini.


Sementara itu,


Seolah terhubung oleh benang merah yang terikat di antara jari Luke dan Nay, gadis itu pun merasakan derita yang sama.


Sudah beberapa hari ini, gadis yang menjadi anak tunggal itu tidak keluar dari apartemennya. Dia tidak peduli dengan Felix North yang terus setia berada di depan pintu apartemennya, menunggu Kanaya berbaik hati untuk membukakan pintu apartemen tersebut.


Seperti malam ini, dia dan Kai sedang melakukan panggilan video melalui aplikasi yang ada di laptopnya. "Kai, bagaimana dengan permintaanku kemarin? Kamu sudah melakukannya?"


Kai memperlihatkan selembar kertas putih berisi deretan angka. "Sudah, Nona Rivers. Saya kirimkan sekarang ke ponsel Anda,"


Nay memberikan jari tengahnya kepada pria yang saat itu memakai piyama bergambar tokoh kartun itu. "Jangan panggil aku seperti itu! Kirimkan padaku sekarang! Tapi kamu aman, 'kan?"


"Berhenti memerintahku! Bicaralah seolah kita teman, Nay!" tukas Kai lagi dengan kesal. "Aku baik-baik saja dan aman. CCTV ruangan ayahmu sudah kumatikan saat aku membuka laptopnya. Untung saja ayahmu belum mengganti password laptopnya,"


"Tidak akan. Ayahku tidak akan mengganti password-nya karena akulah si pemegang password. Hahahaha! Kirimkan kepadaku sekarang kalau begitu!" titah Nay lagi kepada Kai. Lagi-lagi dia lupa bagaimana caranya berbicara kepada seorang teman.


"Baik, Nona. Sudah saya kirimkan, silahkan di cek," jawab Kai kalem. Dia mengerling matanya ke arah Nay.


Gadis itu pun tersenyum lebar. "Ya, maafkan aku, Kai. Terima kasih banyak untuk bantuanmu. Andai saja kamu bisa menyusulku ke sini, aku akan senang sekali."

__ADS_1


"Berbahagialah di sana, Nay. Nikmati hidupmu dan jangan terpaku pada satu orang saja. Lihat sekelilingmu, masih banyak yang sayang kepadamu. Oke?" ucap Kai menghibur sahabatnya itu.


Nay mengangguk dan tersenyum. Setelah berbincang-bincang sekitar lima menit lebih lagi, Nay mengakhiri panggilan videonya.


Dia mengambil ponselnya dan melihat angka-angka yang tadi dikirimkan oleh Kai. Deretan angka itu dia simpen dengan nama 'Mr. Wallace.'


Tanpa ragu, dia menekan nomor itu dan tak beberapa lama, terdengarlah suara yang sudah lama sekali dia rindukan. ("Halo, Kak Otis? Fletcher? Kenapa tidak ada jawaban?")


Nay meneteskan air matanya. Dia tidak dapat berkata-kata mendengar suara bariton Luke. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan membiarkan suara Luke memenuhi indera pendengarannya dan masuk ke dalam relung hatinya.


("Halo, siapa ini? Jika kamu adalah Fletcher, berarti kamu sudah bosan hidup! Fletcher! Bicaralah!) ancam Luke.


Di belakang Luke terdengar suara seorang wanita. ("Siapa, Sayang?") tanya wanita itu.


Hati Nay seakan tertusuk saat mendengar suara mesra wanita itu memanggil pria yang dicintainya itu. Baru saja dia hendak berbicara, tetapi Luke sudah menjawab pertanyaan dari wanita yang berada disisinya.


("Entahlah,") jawab Luke.


("Matikan saja kalau tidak jelas. Mengganggu!") ucap wanita itu dan kecuali pendengaran Nay terganggu, Nay mendengar suara kecupan dari seberang dan dia segera menutup ponselnya.


"Dasar Tukang Ingkar Janji!" tukas Nay geram. Emosi menguasainya dan dia bersumpah akan melupakan pria yang bernama Luke Shawn Wallace itu.


Maka, dia bergegas memakai pakaian yang cukup formal dan keluar dari apartemennya. Nay tertegun saat melihat Felix berada disana, sedang bersandar di dinding pembatas.


Tanpe berpikir, Nay menghampiri Felix dan mencium bibir pria yang kebingungan itu. Mendapat ciuman yang sudah lama dia nanti-nantikan, Felix membuka mulutnya sedikit dan membalas ciuman dari gadis yang dia cintai itu.


"Felix North, mana cincinmu?" tanya Nay.


Wajah Felix sangat terkejut. Laki-laki itu seperti mendapatkan hujan uang di siang hari yang terik. "Heh? Apa?"


"Cincin lamaranmu. Katakan kepada orang tuamu, aku telah menerima lamaranmu!" tegas Nay serius. Saat ini, hanya ada Felix North sebagai tempat pelarian cintanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2