
"Apa! Luke bermain gila dengan wanita lain?" tanya Otis. Hidungnya kembang kepis dan wajahnya mulai menampakkan amarah. Pria itu tak terima, adik satu-satunya dikhianati dan disakiti oleh pria yang belum genap menjadi suaminya itu.
Alma menangis sesenggukan. "A-, aku tidak tau kenapa Luke begitu, Kak. Sa-, sakit sekali rasanya,"
Otis memeluk adiknya. "Tenanglah, aku akan mengurus Luke. Aku juga tidak suka kalau dia membuatmu menangis seperti ini. Aku merasa aku gagal menjadi kakak, aku tidak bisa melindungimu kalau aku tidak berbuat apa-apa. Saat Mama meninggal, mama memintaku berjanji untuk selalu menjagamu dan jangan membiarkan orang lain membuatmu menangis,"
Alma masih terus sesenggukan di dalam pelukan kakaknya. Dia masih bertanya-tanya kenapa Luke tega melakukan itu kepadanya.
Setelah Alma tenang dan tertidur, Otis segera meminta Luke untuk datang menemuinya sekarang juga. "Dimana kamu?"
("Aku sedang mempersiapkan meeting di kantor, Kak. Ada apa?") tanya Luke menjawab panggilan telepon kakak iparnya itu.
"Temui aku sekarang! Cancel semua jadwalmu hari ini!" perintah Otis dengan tegas.
Luke menatap ponselnya dengan heran. Dia pun bertanya kepada anak gadis dari pria yang tadi memerintahnya itu. "Sayang, ada apa dengan Kak Otis?"
Kanaya memiringkan kepalanya. "Ada apa memangnya? Apakah ada hal pribadi yang ingin disampaikan Papa?" tanya Nay. Gadis itu tampak bingung. "Aku tidak diajak?"
Luke menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mungkin ada sesuatu yang ingin ayahmu bicarakan,"
Pria itu bergegas pergi dan tak lupa dia memberikan ciuman hangat untuk kekasihnya. "Kabari aku, entah kenapa perasaanku tidak enak mengenai hal ini,"
"Aku akan mengabarimu, Nay. I love you," ucapnya dan dia pun pergi meninggalkan kecupan di kening kekasih sekaligus keponakannya itu.
Setibanya Luke di tempat Otis, pria itu segera disambut oleh ayah Nay langsung. "Duduklah, Luke,"
Tak lama, sebuah tamparan keras melayang ke pipi Luke. Luke pun nyaris terpelanting karena Otis menamparnya dengan sekuat tenaga.
"Jelaskan, apa ini!" tukas Otis sambil melemparkan beberapa lembar foto yang diberikan oleh pria bayaran Alma.
__ADS_1
Luke menyeka cairan merah di sudut bibirnya. Dia membenarkan kembali posisi duduknya dan mengambil satu lembar foto yang dilemparkan Otis ke arahnya.
"Siapa ini?" tanya Luke.
Otis mendengus. "Aku tidak buta, Luke! Aku bisa melihat itu kamu dan seorang wanita muda! Apa kau tak tau, Alma menangis seharian kemarin? Mungkin saja saat Alma sedang berurai air mata, kau dan wanita itu sedang asik memadu kasih!" serang Otis.
Luke menelan salivanya kasar. "I-, itu bukan aku, Kak. Aku berani bersumpah kalau itu bukan aku. Kakak bisa konfirmasi ke Kanaya kalau saat itu aku sedang meeting bersamanya dan karyawan lain di kantor. Kami sedang mempersiapkan sebuah projects dan cabang baru di kota besar," sanggah Luke.
Tak percaya begitu saja dengan ucapan iparnya, Otis pun memincingkan kedua matanya, seolah memindai pria yang ada di depannya itu. "Aku tidak akan mengecek kebenarannya kepada Kanaya, aku tidak mau anakku terseret di dalam prahara rumah tanggamu! Sudah kukatakan kepadamu, Alma adalah keluargaku satu-satunya dan aku telah mengucap sumpah pada orang tuaku, akan menjaga Alma sepenuh hatiku dan tidak akan membiarkannya menangis! Kau tau itu, Luke? "
Otak Luke berpikir dengan cepat. "Ini karena kesibukanku. Alma seharusnya sudah tau jika aku sudah bekerja, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan terkadang aku lupa waktu," katanya masih berkilah. "Aku melupakan Alma dan jarang sekali menemaninya sampai akhirnya dia berpikir aku memiliki wanita idaman lain. Tapi, percayalah padaku, Kak. Pria di foto itu bukan aku!"
Otis mengambil foto-foto tersebut dan merobeknya menjadi beberapa bagian. "Kali ini, aku percaya kepadamu, Luke. Aku ingin kamu menyisihkan waktu untuk Alma. Berliburlah kalian, aku akan memberitahukan kepada Nay kalau kamu sedang cuti dan pending dulu segala rencana kalian. Nay juga jarang pulang akhir-akhir ini. Kurasa dia marah kepadaku karena masalah pertunangan itu,"
"Tunangan?" tanya Luke otomatis.
"Ya, dengan putra dari North Group. Kau pasti kenal dengan dia juga, Luke. Felix North," ucap Otis. "Mereka telah bertemu satu kali dan setelah itu, Nay jadi jarang pulang. Dia tidak mau kujodohkan dengan Felix, tapi harus, 'kan? Daripada dia berkencan dengan sembarang pria,"
"Kak, dari yang aku lihat, Kanaya masih senang sendiri dan bahkan dia lebih fokus ke karirnya. Kenapa harus menikah? Sayang sekali kemampuannya," ucap Luke. Dia tidak akan membiarkan Kanaya menikah.
Otis tersenyum. "Hahahaha, tapi dia harus segera menikah, Luke. Jika kamu memiliki hanya seorang anak, kamu juga pasti memahami perasaanku ini," jawab Otis. "Dan Luke, masalah Alma. Aku tidak mau kamu mengacuhkan adikku! Jabatanmu akan kujadikan taruhan jika kamu membuat Almaku menangis lagi,"
"Baik, Kak. Aku tidak akan membuat Alma menangis lagi dan seperti sudah kukatakan tadi, ini hanya kesalahpahaman belaka, aku tidak pernah bermain gila di belakang Alma, aku sangat mencintainya bahkan melebihi diriku sendiri, Kak," ucap Luke lagi berusaha meyakinkan kakak iparnya.
Seusai menemui Otis, Luke bergegas menemui Kanaya yang sudah menunggunya. "Hei, Nay Sayang. Aku sudah berada di depan apartemenmu. Kamu masih di kantor?"
("Ya, sedikit lagi pekerjaanku selesai. Paman masuk saja dulu nanti aku akan menyusul,") jawab Nay.
Luke menghembuskan napas lega. "Baiklah, aku akan menunggumu di dalam. Jangan terlalu lama, Sayang. Aku merindukanmu,"
__ADS_1
Terdengar suara tawa kecil dari seberang. ("I miss you too, Sweetheart,")
Luke mengakhiri panggilannya dan sebelum turun, dia memakai topi, kacamata hitam serta masker, untuk melindungi wajahnya. Pria itu khawatir akan ada seseorang yang menguntitnya lagi.
Setelah menunggu selama kurang lebih 60 menit, Kanaya pun akhirnya datang. Luke segera menarik tangan mungil Nay dan mencium bibirnya.
"Oh, aku rindu padamu, Sayang," ucap Luke.
Seolah sudah siap dengan kejutan dari pamannya, Nay pun membalas pagutan panas dari pamannya. "Aku juga rindu padamu, Paman,"
Tanpa menunggu lama, Luke melucuti pakaian yang menempel di tubuh keponakannya. Begitu juga dengan Nay. Sejurus kemudian, mereka berdua sudah masuk ke dalam permainan inti. Suara dessahan dan cecapan memenuhi ruangan apartemen itu. Beberapa waktu kemudian, mereka selesai melakukan pelepasan bersamaan.
"Kenapa Papa memanggil Paman tadi pagi?" tanya Nay yang sudah bergelung di dalam selimut.
Luke memeluk Nay dan mengecupnya sayang. "Kak Otis marah kepadaku, bibimu menyewa orang untuk mengawasi kita dan dia berhasil memergoki kita sedang keluar dari apartemen ini beberapa waktu lalu,"
"Apa? Bibi Alma melakukan itu? Tega sekali!" balas Nay, memonyongkan bibirnya. "Lalu, Paman bilang apa ke Papa?"
"Kita harus menjauh sementara, Nay sampai bibi dan papamu tidak mencurigai kita lagi," ucap Luke.
Nay menghela napasnya. "Sampai berapa lama? Makanya, Paman ceraikan saja bibiku setelah itu kita pergi ke luar negeri jadi tidak akan ada yang mengganggu kita lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa Paman,"
Luke kembali meraup bibir Nay yang menggemaskan dan tanpa ragu, Nay membalas pagutan pamannya itu. Pagutan yang semakin dalam dan menuntut. Ciuman Luke tak berhenti sampai di situ, puas bermain dengan bibir Nay, Luke menyusuri leher jenjang sang keponakan dan menyesapnya.
"Ini akan selalu kurindukan, Paman. Aah, ...." dessah Nay tak berdaya dalam kecupan Luke yang tanpa henti.
Bibir Luke, menemukan sesuatu yang mengasyikan, dia melakukan segalanya dan benar-benar membuat Nay seperti cacing kepanasan di bawahnya. "Aku juga akan merindukanmu, Nay,"
"Aku berharap semoga tidak lamaaaah, Paman, ..." lenguh Nay sambil menekan kepala pamannya.
__ADS_1
Luke mengangkat wajahnya dan bersiap untuk masuk ke dalam tubuh Nay. "Aku berjanji ini tak akan lama, Nay," ucapnya. Pria itu pun mulai bergerak seirama dengan gerakan Nay yang berada di bawahnya.
...----------------...