Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Kisah Bahagia Alma


__ADS_3

Seusai Kanaya menikah dengan Luke, Alma mengurus Chloe seorang diri. Terkadang Nay dan Luke datang untuk bergantian menemani Chloe.


Alma sekarang bekerja kembali di Rivers Group. Kepemimpinan perusahaan besar itu tetap berada di tangan Kanaya Rivers. Susunan kepemimpinan pun tidak ada yang berubah.


Kai Fletcher, pria kurus berkacamata itu menjadi rebutan antara Nay dan ayahnya. "Biarkan Kai tetap bersamaku, Pa. Dia temanku, sahabatku, setengah puncanya ada di dalam diriku, jadi biarkan Kai bekerja untukku!"


"Tidak! Kasihan sekali Fletcher kalau harus bekerja denganmu lagi! Seperti ada keterikatan yang dipaksakan. Papa ingin Fletcher tetap bersama Papa! No matter what!" tegas Otis.


Sedangkan Fletcher, tentu saja dia memilih untuk tidak bekerja di tempat itu lagi. Violetta Rivers menawarinya pekerjaan yang lebih menarik.


"Hah? Jadi pengawal Mamaku?" tukas Nay saat Kai bercerita tentang keinginannya.


Kai menganggukan kepalanya. "Yes! Aku tidak bisa jjka harus terus berkutat di Rivers Group. Lagipula, sudah ada yang menjagamu, Nay. Sesuai janjiku kepada Luke, aku akan mundur jika kalian sudah menikah,"


"Tidak boleh! Aku masih membutuhkanmu, Kai. Jangan pergi," pinta Nay. Kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Kai menepuk punggung tangan gadis yang baru saja menikah itu. "Ada suamimu. Pergunakanlah dia, Nay. Ah, Nyonya Mark sudah akan pergi berarti aku juga harus pergi,"


Nay memeluk Kai erat-erat. "Berjanjilah kamu harus selalu menghubungiku dan mengingatku, Kai! Berjanjilah padaku!"


"Aku akan melakukan ini sekali saja dan untuk yang terakhir kalinya," Kai memegang kedua pipi Nay dan mempersempit jarak di antara mereka, dengan lembut, pria itu mendaratkan kecupannya di bibir semerah ceri Nay.


"Keep your smile and always be happy, Kanaya Rivers," bisiknya.


Tak lama, Kai pun berjalan mengikuti Violetta Mark dan berlalu.


Diam-diam Luke melihat apa yang dilakukan oleh istri dan temannya itu. Namun, dia kembali tersenyum saat mengingat apa saja yang telah dilakukan oleh Kai untuk istrinya.


"Nay, kuambil kembali jejak bibir Kai Brengsek itu tadi," Luke melummat bibir ceri Nay dan memagutnya dalam.

__ADS_1


Sementara itu, Alma masih mencari seorang pria yang dapat mengisi kekosongan hatinya.


"Ikut saja kencan buta atau perjodohan, Alma. Paling tidak kamu bisa mendapatkan seorang teman," usul Otis suatu hari saat dia melihat Alma kerepotan mengurus Chloe.


"Aku tidak mau ikut-ikut seperti itu. Sama seperti membeli kucing dalam karung. Hanya Chloe seorang tidak akan membuatku kerepotan. Ya, Nak?" sangkal Alma sambil bermain bersama Chloe.


Di dalam hatinya, dia memang membutuhkan sosok pria untuk dia jadikan tempat bersandar, tetapi dia tidak terlalu menargetkan untuk itu.


Pada suatu malam yang cerah dan panas, Alma ingin sekali menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri.


"Lin, saya pulang mungkin akan sedikit malam tolong temani Chloe. Kalau kamu tidak bisa, saya coba telpon papanya Chloe," ucap Alma dengan memakai perangkat bluetooth di mobilnya.


("Saya bisa, Nyonya. Kebetulan besok saya kuliah siang, jadi tidak masalah. Lagipula, disini sudah ada Nona Rivers,") jawab suara dari seberang.


Alma mengerutkan keningnya. "Oh yah? Dia datang bersama papanya Chloe?"


("Tidak, Bibi. Aku mampir dan membawakan Chloe beberapa hadiah. Nikmati saja waktumu, aku akan menjaga Chloe,") suara ceria Nay terdengar memenuhi kendaraan roda empat Alma.


"Hai, seperti biasa," pinta Alma dan kemudian dia memilih tempat duduk yang pernah dia duduki sebelumnya.


Tak lama, sebuah gelas berbentuk segitiga dengan cairan putih di dalamnya serta buah olive dan lemon di sisi gelas itu. "Dry martini, ready,"


Setelah mengucapkan terima kasih, Alma menyesap minuman itu. "Ah, nikmat sekali,"


Wanita itu sangat menikmati waktu kesendiriannya malam itu. Dia menggerakkan kepalanya, mengikuti irama musik di bar itu. Sampai dia tak sadar, ada segelas red wine disuguhkan dari seseorang.


"Permisi, Nyonya. Red wine dari tuan yang disana," kata bartender.


Alma mengambil gelas itu dan menoleh kepada pria pemberi red wine. Setelah dia menemukannya, Alma mengangkat gelas itu dan melakukan cheers kepadanya.

__ADS_1


Pria itu menghampiri Alma. "Nice to meet you again, Madam,"


Alma berusaha mengingat siapa pria itu. "Hmmm, have we met before?"


"Yes, tapi baiklah, aku akan berkenalan lagi denganmu. Namaku Luke Winston dan kamu, Alma Rivers. Am i wrong?" tanya pria tampan bernama Luke itu.


Alma tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Oh, hahahaha! Aku ingat sekarang! Another Luke, kupikir saat itu aku bermimpi ternyata kamu nyata."


Luke mengangkat gelasnya dan membenturkan gelas itu ke gelas Alma. "Cheers,"


"Cheers," balas Alma..


Berkat pertemuannya dengan Luke Winston, hidup Alma kembali berwarna. Dapat dikatakan dia jatuh cinta lagi. Namun, baik Alma atau Luke, tidak ingin membuang waktu dengan berhubungan sebagai kekasih.


Maka setelah menjalankan hubungan berkomitmen, Luke melamar Alma tepat saat mereka memperingati 8 bulan pertemuan mereka.


"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Luke di tengah-tengah keluarga besar Rivers.


Alma memekik kegirangan. "Ya, aku mau, Luke. Aku mau!" Tak lama setelah itu, mereka pun melangsungkan pernikahan. Luke dan Luke saling bertemu.


"Jaga dia. Dia wanita yang sangat baik dan jangan sampai kamu menyakiti hatinya atau kamu akan berhadapan denganku!" ancam Luke Rivers.


Luke yang lain tertawa. "Hahaha! I would never, Rivers. Take it easy," jawabnya.


Keluarga Rivers, kini menjadi sebuah keluarga besar dengan berbagai macam orang masuk ke dalamnya. Pernikahan Alma sekali lagi, menjadi titik baru untuk keluarga Rivers.


"Selamat berbahagia, Bibi." ucap Nay sambil memeluk bibinya dengan sayang.


"Terima kasih, Nay," balas Alma, kemudian dia menambahkan dengan berbisik. "Semoga kamu tidak menginginkan Luke yang ini juga, hahahaha! Just kidding,"

__ADS_1


Nay ikut tertawa dan berlalu sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada paman barunya itu.


...----------------...


__ADS_2